Hukum

Fahri Hamzah, Fadli Zon, dan Ahmad Dhani Disebut di Sidang Suap Pejabat Pajak

BTN iklan

Jakarta, LEI – Nama Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dan Fadli Zon serta musisi Ahmad Dhani di sebut dalam sidang kasus suap terdakwa Handang Soekarno di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (10/5/2017).

Munculnya nama Fahri Hamzah dan Fadli Zon dalam sidang perkara yang membelit Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) itu berawal ketika jaksa penuntut umum KPK barang bukti nota dinas terdakwa Handang.

Penuntut umum kemudian bertanya kepada Direktur Penegakan Hukum Ditjen Pajak, Dadang Suwarna, yang dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Handang. Dadang membenarkan soal nota dinas tersebut. “Betul ada nota dinas,” katanya.

Dalam nota dinas yang ditunjukkan penuntut umum tersebut tercantum sejumlah nama wajib pajak, baik perorangan maupun korporasi. Untuk wajib pajak pribadi, di antaranya adalah Fahri Hamzah, Fadli Zon, Ahmad Dhani hingga penyanyi Syahrini yang mempunya nama asli Rini Fatimah Zaelani.

Fadli tercantum di dalam nota dinas itu karena diduga tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) Tahunan PPh orang pribadi tahun pajak 2013 ke Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama dan juga tidak menyampaikan SPT dari tahun 2011 sampai 2015.

Sedangkan Fahri Hamzah, diduga memberikan SPT Tahunan PPh orang pribadi yang isinya tidak benar atau tidak lengkap untuk tahun pajak 2013-2014 ke KPP Pratama Jakarta Pesanggrahan.

Jaksa penuntut umum KPK kemudian bertanya kepada Dadang bahwa terdapat perbedaan jumlah harta. “Daftar harta 2014 berbeda dengan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) dengan jumlah selisih Rp 4,46 milyar,” ujar jaksa.

Sedangkan nama Ahmad Dhani dan penyanyi Syahrini berawal ketika jaksa bertanya kepada Kepala Seksi Pemeriksaan Bukti Permulaan II Ditjen Pajak, Endang Supriyatna, yang juga dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa Handang.

Jaksa menanyakan kepada Endang tentang beberapa nama wajib pajak yang diduga terindikasi pidana pajak, di antaranya Ahmad Dhani yang sedang ditangani. “Apa ada bukti permulaan (bukper) atas nama Ahmad Dhani?” katanya.

Endang menjawab, bahwa ada wajib pajak atas nama Ahmad Dhani Prasetyo yang diperiksa dalam bukper. Menurutnya, Ahmad Dhani Prasetyo ini berprofesi sebagai musisi atau artis. Bahkan, Endang juga menyebut nama penyanyi Syahrini yang mempunyai nama asli Rini Fatimah Zaelani.

Jaksa kembali bertanya, apakah ada arahan dari Handang terkait persoalan pajak yang dihadapi Ahmad Dhani maupun Syahrini. Endang mengaku tidak mendapat arahan dari Handang. “Komunikasi saya sama Handang soal wajib pajak Ahmad Dhani tidak ada,” katanya.

Nota dinas yang disita KPK tersebut merupakan nota dinas tentang bukti permulaan atau penyelidikan tentang pidana pajak. Pasalnya, Handang merupaka Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak Kementerian Keuangan.

Jaksa penuntut umum KPK mendakwa Handang yang juga merupakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) pada Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menerima suap US$ 148.500 atau setara Rp 1,9 milyar dari Mohan. Uang Rp 1,9 milyar itu merupakan bagian dari Rp 6 milyar yang dijanjikan Direktur PT EKP Ekspor Indonesia, Ramapanicker Rajamohanan Nair alias Mohan.

Mohan menyuap agar Handang  membantu mempercepat penyelesaian sejumlah permasalahan pajak PT EKP, yakni pengembaian kelebihan pembayaran pajak (restitusi) serta surat tagihan pajak dan pertambahan nilai (STP PPN).

Selanjutnya, masalah penolakan pengampunan pajak (tax amnesty), pencabutan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP), dan pemeriksaan bukti permulaan pada Kantor Pelayanan Pajak Penanaman Modal Asing (KPP PMA) Kalibata dan Kantor Kanwil Ditjen Pajak Jakarta Khusus.

Jaksa mendakwa Handang melanggar Pasal 12 huruf a atau huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami