HEADLINESHukum

FGD Sagu Sebagai Ketahanan Pangan

BTN iklan

JAKARTA, LEI – Universitas Sahid Jakarta, Universitas Cendrawasih Papua, Asosiasi Pengajar Hukum Adat, dan Lembaga Studi Hukum Indonesia berkerjasama dalam acara Focus Group Discussion (FGD) Inovasi Sagu Sebagai Makanan Pokok Dan Bahan Dasar Makanan Dalam Menciptakan Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Di Papua.

Bertempat di Kinerja Coworking Space, Jl. Haji Nawi Raya 9 N, Cilandak, acara ini menghadirkan pembicara antara lain Prof. Dr. Ir. Hj. Giyatmi Irianto, M.Si salah satu pakar teknologi pangan dan Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPKM) Universitas Sahid Jakarta, Dr. Hendrik H.J.Krisifu, S.H., M.A., Dekan Fakultas Hukum Universitas Cendrawasih Jayapura, Dr. St. Laksanto Utomo, S.H, M.Hum., Ketua Umum Asosiasi Pengajar Hukum Adat Indonesia (APHA) dan Peneliti Fakultas Hukum Universitas Sahid Jakarta, Dr. Rahmawati, S.T., M.Si., Fakultas Teknologi Pangan USAHID Jakarta, juga di moderatori oleh Liza Marina, S.H, M.H., Dekan Fakultas Hukum Usahid dan Rosa Widyawan, M.Lib.

Dalam acara ini juga disepakati MoU Tentang Program Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi antara Universitas Cendrawasih Papua diwakilkan Dekan FH Uncen  Dr. Hendrik H.J.Krisifu, S.H., M.A dengan Universitas Sahid Jakarta diwakili Dekan FH Usahid Liza Marina, S.H., M.H.

Pohon sagu yang biasa ditokok (diolah secara tradisional) oleh warga Papua menjadi bahan makanan, makin menipis. Pohon ini terus dibabat untuk pembangunan, baik jalan, rumah toko, mal dan pembangunan lain. Masyarakat Papua mengenal sejumlah makanan lokal, seperti sagu, ubi jalar, keladi, singkong, dan pisang. Sagu paling populer di masyarakat pantai dan ubi jalar bagi masyarakat pedalaman. Jika sagu habis, berpotensi mengancam pasokan pangan masyarakat.

Diungkapkan oleh Dr. Hendrik bahwa tidak semua masyarakat Papua maka sagu namun dibagi berdasarkan zonasi saja. Masyarakat di zona pegunungan atau dataran tinggi biasanya memakan umbi-umbian, sedang masyarakat rawa-rawa maupun dataran rendah seperti pantai memakan sagu. Prof. Giyatmi sendiri memaparkan tentang teknologi untuk ketahan pangan.

Pembangunan di daerah seperti pisau bermata dua. Di satu sisi memudahkan akses masyarakat dalam beraktivitas, di sisi lain ada lahan-lahan yang harus direlakan hilang agar ekonomi bisa bergerak.

Kondisi ini yang terjadi di Kabupaten Jayapura, Papua. Hutan sagu alam yang menjadi tumpuan hidup masyarakat di sana secara turun-temurun mulai tergerus derasnya pembangunan dalam Rencana Tata Ruang (RTRW) kabupaten/kota yang berada di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Untuk itu perlunya penanganan serius dari Pemerintah untuk mempertahankan keberadaan Sagu. Inovasi Sagu sebagai bahan dasar industri makanan perlu dikembangkan agar sagu menjadi populer di Indonesia khususnya masyarakat yang hanya mengenal beras sebagai makanan pokok.

Para akademisi memiliki tanggung jawab moral agar sagu dapat dipertahankan dan dikembangkan agar kelestarian sagu sebagai makanan pokok dapat dipertahankan serta dikembangkan sehingga dapat meningkatkan ketahanan pangan masyarakat adat di Papua. (arga)

 

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one + sixteen =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami