InternasionalLiputan

Goldman Sach dan JPMorgan Siapkan Skema Hard Brexit

BTN iklan

JAKARTA/Lei —Goldman Sachs Group Inc. dan JPMorgan Chase & Co mengaku bersiap untuk  menghadapi ‘hard Brexit’. Mereka mengaku mengambil perkiraan terburuk dari proses perpisahan Inggris dan Uni Eropa, demi melindung pasar mereka di kawasan tersebut.

Keduanya mengaku akan terus menanti perkembangan terbaru sembari menyiapkan langkah-langkah strategis jelang perpisahan kedua kawasan pada 2019. Mereka pun tak menampik peluang untuk memindahkan kantornya dari London.

“Kami sekarang memilih mengasumsikan ‘hard Brexit’  dalam proses perceraian Inggris dari Uni Eropa. Sampai kita mendapatkan informasi terbaru yang akurat dan pasti, kami akan tetap mengambil asumsi ‘hard Brexit’, ” kata Faryar Shirzad, Kepala Urusan Keuangan Goldman Sachs, Seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (17/10/2017).

Sementara itu, hal yang sama juga dikatakan oleh Kepala Bank Investasi JPMorgan Daniel Pinto,pada pertemuan tahunan IMF-World Bank di Washington. Dia juga mengatakan bahwa lembaganya siap untuk skenario tanpa kesepakatan yang strategis antara London dan Brussels.

“Kami menyiapkan strategi yang mengakomodasi situasi  yang tidak memungkinkan bank untuk dengan mudah melakukan bisnis di seluruh Uni Eropa dari kantor kami di London. Dua tahun adalah waktu yang singkat, kami akan siapkan dengan baik,” kata Pinto.

Seperti diketahui, isu Brexit masih terus menjadi topik pembicaraan utama di kalangan bankir yang beroperasi di Uni Eropa. Mereka khawatir, perundingan Inggris dan Uni Eropa tidak menghasilkan kesepakatan yang saling menguntungkan atau ‘soft Brexit’.

Adapun Goldman Sachs yang berbasis di New York memiliki sekitar 6.000 staf di Inggris, dan JPMorgan memiliki 16.000 staf.

Terpisah, dalam laporan triwulanan terbaru dari British Chambers of Commerce (BCC) yang diterbitkan  pada Oktober 2017 disebutkan bahwa sektor jasa Inggris tidak terlalu terpengaruh oleh potensi ‘hard Brexit’ maupun ‘soft Brexit’.

Sektor jasa perbankan Inggris tercata menjadi yang paling dominan mencatatkan pertumbuhan sepanjang kuartal III/2017. Sektor tersebut tercatat tumbuh 77% sepanjang Juli-September 2017

Sektor jasa yang didorong oleh belanja konsumen telah menjadi penyebab utama pertumbuhan ekonomi Inggris selama beberapa tahun terakhir. Adapun laporan BCC juga menemukan bahwa sektor manufaktur juga melaporkan peningkatan penjualan domestik dan terus mengalami kenaikan.

“Sektor jasa memang masih di bawah tekanan karena belum hilangnya momentum yang diderita sejak referendum Brexit. Namun secara umum sektor ini masih kuat,” ujar Kepala Ekonom BCC Suren Thiru.

 

Sumber : bloomberg

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami