LifestyleTraveling

Gunung Everest, ‘Tong Sampah’ Tertinggi di Dunia

BTN iklan

Jakarta, (LEI) – Tumpukan sampah di gunung bukan hanya masalah di Indonesia. Gunung Everest juga mengalaminya.

Gunung setinggi 8.848 meter dari permukaan laut itu memang terlihat gagah jika ditatap dari kejauhan. Namun ketika menjejakkan kaki ke sana, baru terlihat sampah yang ditinggalkan jutaan pendaki, mulai dari botol plastik, peralatan mendaki, sampai tabung oksigen.

Selain sampah, terdapat juga mayat pendaki yang bertebaran di sana. Setidaknya ada 200 mayat yang akhirnya terkubur di sana.

Mayat-mayat tersebut dibiarkan terurai bersama lapisan es karena proses evakuasi yang sangat sulit.

Sejak tiga tahun yang lalu, pemerintah Nepal sudah menetapkan aturan denda bagi pendaki yang tak membawa minimal delapan kilogram sampah saat turun gunung.

Aturan tersebut ditetapkan untuk mengurangi beban petugas kebersihan yang setiap harinya naik turun gunung untuk memungut sampah. Nyawa mereka juga menjadi taruhannya.

Sejak aturan tersebut ditetapkan, sebanyak 16 ton sampah berhasil dibersihkan dari puncaknya. Namun bukan berarti Gunung Everest bebas dari masalah sampah.

Musim semi disebut sebagai musim turis di sana. Musim tersebut juga terbilang sebagai musim sampah.

Demi mengantisipasi hal tersebut, komite kebersihan Gunung Everest, Sagarmatha Pollution Control Committee, melakukan kegiatan bersih-bersih yang melibatkan pemandu (sherpa), pendaki, dan pesawat terbang untuk mengangkut sampah dari puncak.

Tak hanya menyisir lokasi untuk memungut sampah, mereka juga menggandeng penduduk lokal untuk melakukan kegiatan daur ulang dari sampah yang dikumpulkan.

Komite tersebut berharap dengan daur ulang masalah sampah bisa dikurangi.

Dikutip dariĀ Lonely Planet, data milik PBB Gunung Everest disebut sebagai “tong sampah tertinggi di dunia” karena keberadaan 140 ton sampah di sana sejak jalur pendakian dibuka pada tahun 1950-an.

Tempat penampungan sampah di bawah gunung sudah tak sanggup lagi menampung sampah-sampah yang dikumpulkan, oleh karena itu daur ulang bisa menjadi jalan keluar. [cnn indonesia]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami