Hukum

Hancurnya “Politik Kekerabatan” Itoc-Atty Tochija

BTN iklan

Bandung, LEI/Antara – KPK menetapkan suami-istri mantan Wali Kota Cimahi M Itoc Tochija dengan Wali Kota Cimahi non-aktif Atty Suharti Tochija sebagai tersangka penerima suap pembangunan Pasar Atas Baru tahap II di Cimahi, Jawa Barat.

Penetapan tersangka, Jumat (2/12) oleh KPK terhadap pasangan suami istri tersebut, menurut Pengamat Politik dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung Asep Warlan Yusuf, merupakan bukti dari runtuhnya “politik kekerabatan” yang dibangun dua orang tersebut di Kota Cimahi.

Atty dan Itoc yang mantan wali kota periode 2002-2012 ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi penerimaan suap terkait pembangunan Pasar Atas Baru tahap II di Cimahi senilai Rp57 miliar.

Nilai komitmen suap kepada Itoc mencapai Rp6 miliar yang berasal dari dua pengusaha Triswara Dhanu Brata dan Hendriza Soleh Gunadi.

“Kalau dibilang dinasti politik, saya kira Pak Itoc dan Bu Atty itu belum masuk kategori tersebut, karena kalau disebut dinasti politik tahapannya dari suami, ke istri lalu ke anaknya yang jadi pimpinan kepala daerah,” kata dia.

“Tapi kalau dalam konteks Pak Itoc dan Bu Atty ini bisa dikatakan mereka itu membangun semacam ‘politik kekerabatan’ di Kota Cimahi karena dari Pak Itoc baru ke Bu Atty yang menjadi kepala daerah,” kata dia.

Ia menuturkan Atty Suharti Tochija yang saat ini memutuskan untuk maju kembali sebagai calon Wali Kota Cimahi 2017-2022 diprediksi akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat.

“Secara yuridis tidak ada masalah karena setelah MK membolehkan status tersangka bahkan terdakwa boleh maju dalam pilkada. Tapi secara psikologis sulit untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat,” kata dia.

Di Jawa Barat sendiri, lanjut dia, “politik kekerabatan” juga terdapat di Kabupaten Indramayu yakni Irianto MS Syafiuddin yang pernah menjabat sebagai bupati Indramayu selama dua periode yaitu 2000-2005 dan 2005-2010, dan dilanjutkan oleh istrinya selama dua periode juga.

“Kemudian ada juga di Kabupaten Cianjur, yakni Bupati Cianjur periode 2016-2012 Irvan Rivano Muchtar, yang melanjutkan kepemimpinan sang ayah, Tjetjep Muchtar Soleh yang telah memimpin Cianjur selama 2 periode tahun 2006-2016,” kata dia.

Menurut dia, bagaikan dua sisi mata uang, “politik kekerabatan” dan dinasti politik memiliki konotasi positif dan negatif. “Konotasi negatif akan muncul ketika generasi penerus dari politik kekerabatan tersebut ‘disetir’oleh pendahulunya dan secara kemampuan memang kurang atau bahkan tidak memiliki kemampuan mumpuni untuk jadi kepala daerah,” kata dia.

Akan tetapi, jika generasi penerus dari “politik kekerabatan” tersebut memiliki kemampuan bagus untuk menjadi kepala daerah selanjutnya maka hal tersebut merupakan konotasi positif dari “politik kekerabatan”.

“Kalau ada anak bupati, atau istri bupati yang memang disiapkan untuk menjadi penerus selanjutnya dan dia memang dicintai warganya serta memiliki kemampuan mumpuni maka wajar atau sah-sah saja bagi dia untuk menjadi kepala daerah penerus di keluarganya,” kata dia.

Pendapat berbeda diutarakan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo terkait dinasti politik, ia menyarankan, agar masyarakat tidak memilih pemimpin daerah yang berasal dari dinasti politik, pasca-penangkapan Wali Kota Cimahi Atty Suharty dan suaminya yang Wali Kota Cimahi 2002-2012 M. Itoc Tochija.

“Ke depan masyarakat harus mempertimbangkan betul dalam memilih kepala daerah. Harapan kita kalau ada kepala daerah yang sering disebut dinasti seperti ini harus dipertimbangkan betul-betul apakah penerusnya kompeten dan berintegritas tinggi,” katanya di Jakarta.

“Pengalaman kami di KPK, ternyata generasi penerus dari dinasti tadi dalam banyak kesempatan dikendalikan oleh orang yang sebelumnya memerintah. Kasus ini juga, suami yang bersangkutan adalah wali kota Cimahi dua periode kemudian digantikan istrinya,” kata Agus.

Ia menimpali, “Istrinya itu hampir selesai memerintah dan mau pemilihan lagi. Dalam penyelidikan kami kelihatan kalau si istri dikendalikan suaminya.” Tetap Melaju Walaupun sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK, Atty Suharti Tochija yang memiliki total harta senilai Rp7,033 miliar (berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara di KPK, per 9 Juli 2012) masih tetap bisa melaju sebagai peserta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Cimahi 2017.

“Kami menanti kepastian proses hukum hingga putusan tetap. Jika memang yang bersangkutan terkait masalah hukum, tetap tidak menggugurkan status sebagai peserta pilkada. Kalau jadi ditetapkan tersangka dan diproses hingga vonis berkekuatan hukum tetap, maka itu di luar wewenang KPU,” kata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Cimahi Handi Dananjaya.

Ia mengatakan status sebagai peserta pilkada tidak dapat diubah meski yang bersangkutan meninggal dunia 30 hari sebelum pemungutan suara.

“Jadi peserta pilkada statusnya bisa gugur kalau calon meninggal dunia. Dengan catatan 30 hari sebelum pemungutan suara,” kata dia.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jabar Deddy Mizwar menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum kasus yang dihadapi Wali Kota Cimahi non-aktif Atty Suharti dan suaminya Itoc Tochija.

“Pokoknya kita ikuti saja prosedurnya seperti apa,” kata Deddy Mizwar, ketika dimintai pendapatnya soal penetapan tersangka terhadap Atty dan Itoc Tochija.

Ia mengimbau agar seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pejabat publik atau kepala daerah agar menghindari tindak pidana korupsi.

“Tindak pidana korupsi jangan dilakukan oleh siapapun, di bidang apapun. Seluruh individu jangan korupsi. Bukan hanya kepala daerah, tapi semuanya,” ujar dia.

Itoc dan Atty Tochija sendiri dijerat dengan pasal 12 huruf a dan atau Pasal 11 UU No 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP, dipakai pasal 55 karena ada keikutsertakan Itoc sebagai suami Atty.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

9 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Lihat juga

Close
Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami