Lifestyle

Hari Ini, Jerman Merayakan Revolusi Gender Ketiga

BTN iklan

Jerman (Lei) –  Lynn (34) masih ingat betul ‘kesibukan’ masa kecilnya. Dia wara-wiri dari dokter ke dokter memeriksakan sesuatu yang aneh di dalam tubuhnya. Saat usianya baru menginjak dua tahun, sederet ahli medis mengamati tubuhnya dengan saksama, memperhatikan dua organ reproduksi yang tumbuh di tubuhnya.

Saat memasuki masa pubertas, Lynn diasupi obat untuk menghambat pertumbuhan dan hormon dosis tinggi. Tak ayal, sebagai remaja, dia kerap melukai diri sendiri lantaran stres.Image result for revolusi gender ketiga

Lynn lahir dengan organ seksual laki-laki dan perempuan. Tak lama setelah lahir, dokter dan orang tua memutuskan untuk menjadikan Lynn sebagai seorang perempuan. Alhasil, dia harus menjalani pengangkatan penis.

“Dokter menyarankan orang tua saya agar tidak memberi tahu saya soal keanehan seksual yang saya miliki. Mereka hanya diminta untuk membesarkan saya sebagai seorang gadis,” kata Lynn, Sayang, usaha ‘mengubah’ Lynn menjadi seorang perempuan pun gagal. “Karena saya bukan seorang perempuan.”Lynn adalah seorang interseks. Nama terakhir ini digunakan untuk merujuk kondisi di mana seseorang dilahirkan dengan anatomi reproduksi yang tidak sesuai dengan definisi biner perempuan atau laki-laki.

Perlahan, kebimbangan Lynn tentang identitas gendernya terus berkelindan. Lynn ingin menjadi seorang perempuan, tapi tak berhasil. Buktinya, Lynn lebih merasa nyaman bergaul dengan laki-laki.

Kemudian, Lynn berpikir bahwa dia adalah seorang laki-laki. “Tapi kemudian saya menyadari bahwa saya bukan laki-laki,” ujarnya. Teman-teman lelakinya mulai menjauhinya.

Kenyataan tentang interseks baru diketahui Lynn saat dirinya mengikuti sesi terapi pada usia 20 tahun. Saat itu, Lynn merasa asing. “Rasanya seolah-olah seseorang berkata bahwa saya orang asing, berasal dari tempat lain, saya adalah mutan,” kenangnya.

Bagi Lynn, berdamai dengan gender interseks yang dimilikinya bukan hal mudah. Butuh beberapa waktu baginya untuk memahami ‘keajaiban’ tersebut. “Tapi kemudian saya mengerti, semuanya masuk akal bagi saya. Saya tidak lagi merasa gelisah. Tiba-tiba saya mengerti siapa saja,” kata Lynn.

Lebih dari satu dekade kemudian, Lynn hidup bahagia sebagai seorang pria yang memiliki kekasih wanita. Dia juga aktif bermain dalam sebuah band punk.

Kendati kehidupan kian sempurna, Lynn dan sederet aktivis interseks lainnya tetap berharap ada perubahan pandangan masyarakat terhadap orang-orang gender ketiga. Wajar, hingga kini, tak sedikit masyarakat yang masih memandangnya sebelah mata. Gender ketiga masih dianggap tabu di banyak negara.

Namun, secuil harapan itu perlahan hadir. Jerman baru saja menelurkan gebrakannya soal gender ketiga. Pada 1 Januari 2019, Jerman akan menjadi negara pertama di Uni Eropa yang menawarkan opsi ‘gender ketiga’ pada akta kelahiran.

Beleid yang disahkan pada awal Desember 2018 ini dipuji sebagai ‘revolusi kecil’. Sebelumnya, sejumlah aktivis telah beramai-ramai menyuarakan hak seorang interseks. Suara ini bermula dari kasus seorang interseks bernama Vanja, yang dituduh mengubah kolom gender dalam dokumen kependudukannya dengan ‘laki-laki’. Padahal, sama seperti Lynn, Vanja adalah seorang interseks yang dianggap perempuan namun hadir dengan bentuk fisik laki-laki.

Merayakan revolusi ini, Vanja bakal mengubah kategori gender dalam dokumen kependudukannya.

“Saya sering kesal ketika harus memutuskan kotak mana yang akan dicentang, pria atau wanita. Saya pikir itu (diresmikannya gender ketiga di Jerman) memberikan saya rasa damai yang baru,” kata Vanja seraya meyakini bahwa langkah Jerman ini bakal diikuti oleh negara-negara Eropa lainnya.

Namun, seperti orang interseks lainnya, Vanja percaya bahwa kebijakan hanya batu loncatan. Penerimaan masyarakat terhadap orang interseks tetap tak bisa hanya berpijak pada kebijakan.

Kekerasan dan menantang norma sosial

Sekitar 1,7 persen dari populasi global terlahir dengan sifat interseks. Amnesty International mencatat, banyak dari mereka yang ‘dipaksa’ melakoni sejumlah operasi demi menegaskan identitasnya sebagai perempuan atau laki-laki. Namun, upaya itu kerap kali gagal.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close