EkonomiFinansialLiputanOpini

Hati-Hati Perilaku Malas Membaca Sebelum Lakukan Pinjaman Online Bisa Jadi Bumerang

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Potensi ekonomi digital di Indonesia diperkirakan mencapai 50 Miliar USD, atau sekitar Rp 730 Triliun pada 2025. Ini adalah yang sangat membanggakan. Dari ekonomi digital inilah lahir teknologi finansial (financial technologi – fintech). Masyarakat yang “kaget” dengan kemajuan teknologi ini pun sedikit demi sedikit terjerat ke dalam pinjaman online.

Pasti sebagian besar dari “calon peminjam uang” atau bisa disebut calon konsumen tidak pernah atau malas membaca ketentuannya sebelum melakukan transaksi / berutang. Dari ketentuan itulah akan¬†diketahui tentang tata cara pengembalian, besaran bunga/komisi, dan denda harian. Akan diketahui pula apa saja data pribadi konsumen yang akan disedot pengelola.

Kemalasan calon konsumen ini nantinya akan berakibat fatal. Apabila tidak sanggup membayar tepat waktu dan sesuai dengan ketentuan, anda akan terjerat utang dengan bunga dan denda yang sangat tinggi.

OJK MEMBEBASKAN KETENTUAN BESARAN BUNGA BAGI PINJAMAN ONLINE

Anda harus tahu bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membebaskan ketentuan besaran bunga/komisi bagi pinjaman online. Besaran bunga ini ditentukan oleh kesepakatan antara pengelola dan konsumen. Padahal mayoritas pinjaman online menerapkan komisi/bunga lebih dari 40 persen dari utang pokok plus denda harian Rp 50 ribu per hari.

Selain itu, konsumen tidak menyadari bahwa pinjaman online akan menyadap berbagai data pribadi konsumen yang termuat dalam telepon seluler pintarnya. Data biasanya itu berupa:

  1. Alamat domisili,
  2. alamat e-mail,
  3. foto/video pribadi,
  4. nomor telepon rekanan, keluarga, atau teman.

Bahkan ada pinjaman online yang bisa mendeteksi percakapan WhatsApp yang ada di peranti ponsel pintar konsumen. Berbagai data inilah yang akan dijadikan instrumen untuk menekan atau “meneror” konsumen jika menunggak atau bahkan sekadar menunda pelunasan pinjaman.

Layanan berbasis data pribadi inilah yang pada akhirnya membuat konsumen pusing karena secara psikososial akan dipermalukan. Anda nantinya dijadikan bahan olok-olok orang selingkungan anda, entah itu lingkungan kantor, pertemanan, atau keluarga besar anda.

PERFORMA BURUK PENGELOLA JASA PINJAMAN ONLINE

Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga, sudah konsumen malas membaca ditambah performa jelek pengelola jasa online yang bisa membuat kondisi ekonomi konsumen terperosok secepat kilat.

Perlu anda ketahui, mayoritas bisnis pinjaman yang beroperasi di Indonesia belum mengantongi izin operasi dari OJK. Dari 300-an bisnis pinjaman online, hanya 71 di antaranya yang sudah terdaftar di OJK. Yang berizin saja masih banyak menimbulkan masalah, apalagi yang tidak berizin.

Pemerintah pun tidak bisa menutup mata atas berbagai masalah dalam bisnis ini, khususnya dalam perlindungan konsumen, yang berpotensi melanggar hak-hak konsumen.

Secepatnya OJK harus menggandeng Kemkominfo dan Kepolisian untuk membereskan polemik ini. Banyak pengusaha pinjaman online yang belum berizin atau terdaftar di OJK tapi sudah terjun ke lapangan melancarkan praktik bisnis ini. Harus segera diblokir.

Tak menutup kemungkinan juga bagi para pelaku bisnis pinjaman online yang sudah terdaftar di OJK bila melakukan pelanggaran harus diberi sanksi sepantasnya. OJK juga harus mendidik para konsumen ini supaya tidak malas untuk membaca, meningkatkan daya literasi teknologi finansial. Sehingga nantinya para konsumen tidak akan terjebak dan menjadi bahan eksploitasi pelaku bisnis pinjaman online.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen − seven =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami