Hukum

HIndari Utang Valas

BTN iklan

JAKARTA/Lei —Pinjaman bilateral untuk memenuhi kebutuhan pendanaan ekspansi kredit perbankan tengah sepi peminat. Penurunan permintaan kredit dalam bentuk valuta asing disebut sebagai salah satu penyebabnya.

Statistik Perbankan Indonesia yang diterbitkan Otoritas Jasa Keuangan mencatat penyaluran kredit valas bank umum pada April 2016 turun sebesar 8,22% year to date (y-t-d) dari Rp634,72 triliun pada Desember 2015 menjadi Rp582,49 triliun.

Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk. Parwati Surjaudaja mengatakan pihaknya belum berminat mencari pinjaman bilateral dari lembaga keuangan luar negeri karena selain ada keterbatasan yang diatur oleh Bank Indonesia terkait dengan kewajiban penggunaan mata uang rupiah di dalam negeri, komposisi pinjaman valas di perseroan juga terus menurun.

“Kalau narik pinjaman bilateral, nanti dana mau disalurkan di mana? Pinjaman itu kan bentuknya valas, sedangkan permintaan kredit lebih banyak dalam bentuk rupiah,” ujarnya di Jakarta, Jumat (25/6).

Selain itu, Parwati menyebutkan secara biaya, pinjaman bilateral lebih mahal dibandingkan dengan menerbitkan surat utang atau obligasi. Selain harus membayar bunga, bank juga harus membayar biaya transaksi lindung nilai untuk mengubah pinjaman yang berbentuk valas ke denominasi rupiah.

Adapun, pada awal kuartal II/2016, Bank OCBC NISP menerbitkan obligasi berkelanjutan II tahap I/2016 dengan jumlah pokok maksimal Rp2 triliun. Penerbitan obligasi ini merupakan bagian pertama dari Penawaran Umum Berkelanjutan II dengan target dana total senilai Rp8 triliun.

Terkait dengan penyaluran kredit, berdasarkan laporan publikasi keuangan per 31 Maret 2016, kinerja penyaluran kredit Bank OCBC NISP pada kuartal I/2016 mengalami penurunan sebesar 0,82%  dibandingkan akhir tahun lalu (year to date) atau dari Rp83,94 triliun menjadi Rp83,25 triliun.

Direktur Keuangan & Treasury PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Pahala N. Mansury menuturkan perseroan memang ada rencana untuk menjajaki pinjaman bilateral untuk mendapatkan pendanaan dalam bentuk dolar Amerika Serikat.

Namun, hingga sekarang belum ada yang terealisasi karena pembiayaan yang disalurkan bank dengan kode emiten BMRI ini akan lebih banyak dalam bentuk rupiah ke depannya.

“Kami lebih fokus untuk penerbitan obligasi dalam bentuk rupiah senilai Rp5 triliun pada tahun ini. Ke depan pembiayaan lebih banyak ke rupiah, jadi obligasi dalam bentuk valas belum ada rencana. Pinjaman bilateral juga belum jelas,” jelasnya.

Penyaluran pinjaman dalam bentuk valas di Bank Mandiri pada kuartal I/2016 tercatat menurun sebesar 4,48% secara y-t-d, yakni dari Rp87,79 triliun pada akhir tahun lalu menjadi Rp83,85 triliun.

Setali tiga uang, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. juga memilih untuk menerbitkan obligasi dalam rangka ekspansi pembiayaannya.

Direktur Keuangan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Haru Koesmahargyo mengatakan pihaknya berencana mencari dana di luar dana pihak ketiga (DPK) lagi pada semester II.

“Kami cari dana lagi di luar DPK semester II nanti, bentuknya bisa obligasi,” ujarnya.

Rencana penerbitan obligasi ini sejalan dengan perubahan target pertumbuhan kredit bank dengan kode emiten BBRI tersebut.

Pada awal tahun, BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 13% hingga 15% secara tahunan. Sedangkan pada tengah tahun, bank spesialis kredit mikro ini mengubah target kredit menjadi 1% di atas target awal.(bisnis.com)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami