Olahraga

Huang Hua, Ratu Bulu Tangkis China Yang Pilih Jadi WNI

BTN iklan

(LEI) – Sekitar tahun 1980-an seorang gadis kecil asal Nanning, Guangxi, China, belum mengerti betul apa itu olahraga bulu tangkis.

“Bulu tangkis itu apa ya?” celoteh gadis tersebut kepada gurunya kala itu.

Mendengar ucapan muridnya, sang guru lantas memperkenalkan bulu tangkis padanya.

Kata-kata gurunya itu hingga saat ini masih membekas di ingatan Huang Hua (48). Huang tak menyangka apa yang diceritakan gurunya itu bisa memotivasi dia hingga menjadi pebulu tangkis andal China pada era 90-an.

Kehebatan Huang dalam bermain bulu tangkis terdengar ke seantero dunia hingga Indonesia. Dia dikenal sebagai salah satu rival terberat pebulu tangkis putri andalan Indonesia, Susy Susanti kala itu.

Huang Hua tercatat tiga kali mengalahkan Susy Susanti dalam 7 laga yang pernah dilalui. Huang dan Susy kerap bertemu di laga-laga pamungkas ajang prestisius, seperti All England dan Olimpiade Barcelona 1992.

Namun, di puncak kariernya, Huang Hua justru memutuskan pensiun. Dia lalu menerima pinangan pria Indonesia asal Klaten, Jawa Tengah. Dari situ, Huang mantap memutuskan menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) 25 tahun lalu.

Sabtu (21/4) siang, kumparan (kumparan.com) mendapat kesempatan bertemu dengan Huang Hua di kediamannya di Jalan Mayor Kusmanto, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Senyum Huang Hua mengembang menyambut kedatangan kumparan ke rumahnya yang terbilang besar. Tjandra Budi Darmawan (50), sang suami, turut menyambut kumparan dan mempersilakan dengan ramah.

Dua buah bingkai foto memperlihatkan Huang Hua saat bertanding berjajar di ruang tamu.

“Satu itu di Kuala Lumpur, satunya di Jepang,” terang Huang.

Sementara, di sisi tembok lainnya beberapa bingkai foto keluarga terpajang. Tampak pula foto ketiga buah hati mereka, Tjandra Michael (22), serta si kembar Tjandra Christian (18) dan Tjandra Wiliam (18).

Huang menatap sekilas foto masa lalunya saat menjadi atlet pebulu tangkis, dia lalu bercerita bagaimana dia akhirnya memilih menjadi WNI usai bertemu dengan Tjandra Budi Darmawan, suaminya.

Tepatnya di Semarang, usai Gelaran Indonesia Open 1992, Huang Hua diajak pelatihnya mengunjungi Klaten.

“Saya sudah selesai pertandingan, pelatih saya kebetulan tante dia (suami). Setiap tahun tante dia, pasti berkunjung ke Klaten,” kisah dia.

Pertemuan Huang dan Tjandra terjadi pada tahun itu. Keduanya saat itu sedang berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Siapa sangka momen tersebut merupakan awal mereka saling mengenal lebih dalam.

Ketika di Borobudur, Huang Hua sempat tertarik dengan sebuah mitos. Tangannya merogoh ke dalam stupa dan berhasil memegang patung yang ada di dalamnya.

“Katanya kalau bisa dipegang dapat jodoh. Ternyata jodohnya di sini,” ungkap Huang Hua sembari menujuk foto kunjungannya ke Borobudur 23 September 1992 yang terpajang di dinding rumah.

Selepas momen tersebut, komunikasi Huang dan Tjandra semakin intens. Huang menemukan rasa nyaman dan aman dalam diri Tjandra. Dia pun menjadi akrab dengan keluarga Tjandra. Hingga kemudian, pada 1993 mereka resmi menikah.

Ketika memutuskan menikah dengan WNI, Huang Hua memilih untuk mengikuti jejak sang suami dan langsung menjadi WNI. Dia juga keluar dari tim nasional bulu tangkis China.

“Langsung WNI, waktu itu mikir kalau ikut suami saja. Lebih mudah, jadi kalau besok ke mana-mana tidak repot,” jelas dia.

Berpamitan dengan Timnas China.

Jauh-jauh hari sebelum pensiun, Huang Hua sudah berpamitan dengan tim nasional China untuk mundur dari olahraga yang telah membesarkan namanya itu.

“Begitu saya rencana married sama dia, sudah minta izin ke nasional tim mundur dari bulu tangkis,” beber Huang.

Selain mengikuti suami, Huang mengungkap, salah satu faktor pendorong dia pensiun adalah cedera lutut yang dialaminya. Praktis, dia pun menyudahi kiprahnya di dunia bulu tangkis saat usianya masih 24 tahun. Kala itu, Huang sendiri sedang berada pada masa keemasannya.

“Selesai Olimpiade (Barcelona 1992), pelatih saya pensiun, itu juga salah satu sebabnya saya akhirnya pensiun di usia 24,” ungkap dia.

Keputusan Huang Hua menyudahi karier bulu tangkis sempat disayangkan sang ibunda. Namun, Ibunda akhirnya memberikan lampu hijau akan keputusan Huang.

“(Waktu mengambil keputusan pensiun) Papa sudah meninggal, mama saya yang merasa terlalu cepat (pensiun). Mama saya merasa sayang karena sejak umur 11 mulai latihan. Kondisi saya waktu itu, hatinya ingin berhenti (bermain), jenuh,” kenang Huang.

Terkendala masalah bahasa.

Usai menikah, Huang Hua bersama suami tidak lantas menetap di Klaten. Selama satu tahun, mereka terlebih dahulu tinggal di Amerika Serikat. Saat itu, Huang Hua memutuskan belajar bahasa Inggris terlebih dahulu. Baru sekitar tahun 1994 mereka berdua menginjakkan kaki ke Tanah Air.

“Pertama kalau datang susah, datang ke sini jauh. Hawa, makanan beda, tidak punya teman, kendala bahasa,” keluhnya.

Perlahan, kemampuan bahasa Indonesia Huang semakin mahir. Untuk bisa ahli, Huang sempat mengundang guru untuk memberikan pelajaran bahasa Indonesia. Tinggal di Klaten yang notabene masyarakatnya mayoritas bertutur dengan Bahasa Jawa membuat Huang kesulitan berkomunikasi.

“Bahasa Indonesia tidak terlalu susah saya belajar sama mbak’e dan guru. Bahasa jawa tidak pernah belajar, cuma saya denger, tahu sitik-sitik,” ujarnya sembari tersemyum.

“Mendengar (Bahasa Jawa) pun tidak terlalu paham,” sahut Tjandra yang berada di samping Huang.

Di Klaten, Huang Hua memilih menjadi ibu rumah tangga. Dia enggan mengikuti jejak suami yang berprofesi sebagai pebisnis properti.

“Saya mengurus rumah tangga. Saya cuma ngikutin aja (bisnis suami) soalnya bahasa saya pas-pasaan untuk berbisnis,” tuturnya.

Pernah suatu hari, Huang ingin agar ketiga anaknya ikut terjun ke bulu tangkis. Namun ketiga anak Huang ternyata tak begitu minat.

“Sempat saya ajak main waktu umur TK tapi mungkin caranya enggak benar. Saya disiplin dan galak mereka lama-lama enggak jadi senang dengan bulu tangkis,” sebutnya.

Terlepas dari lika-liku kehidupannya setelah pensiun dari dunia bulu tangkis, Huang merasa jatuh cinta dengan Indonesia karena dia mendapatkan suami yang sayang dan baik kepadanya.

“Di sini yang betah karena dia (suami). Dia selalu baik sama saya,” katanya.

[Kumparan]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami