Hukum

Hutang Sudah Mencapai Rp392 Miliar

BTN iklan

JAKARTA/Lei — Sebanyak 13 kreditur mendaftarkan tagihan terhadap  PT Pazia Pillar Mercycom yang kini sedang dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU). Kreditur terdiri dari dua separatis atau pemegang hak jaminan dan kreditur konkuren.

Pazia adalah peritel yang menyediakan berbagai macam jenis produk komputasi seperti telepon pintar, tablet, komputer jinjing dan personal komputer (PC). Pazia mendistribusikan produk unggulan dari sejumlah merek IT dari Acer, Sony hingga Samsung.

Salah satu pengurus PKPU PT Pazia Reynaldo Batubara mengatakan jumlah kreditur telah bertambah dari sebelumnya. Sehingga, total seluruh tagihan yang terdaftar hingga Senin (20/3) senilai Rp392,11 miliar.

Dalam catatan pengurus, kreditur separatis berasal dari PT Bank Maybank Indonesia Tbk. dan PT Bank Central Asia Tbk. Sementara itu, kreditur konkuren berasal dari 11 perusahaan  swasta. Adapun kreditur pemegang tagihan terbesar adalah Bank Maybank Indonesia senilai Rp159,05 juta.

“Seluruh tagihan dari kreditur separatis diakui oleh PT Pazia . Tetapi tagihan kreditur konkuren ada yang tidak diakui,” katanya usai rapat kreditur, Senin (20/3).Tagihan yang diakui oleh debitur hanya Rp274,9 miliar.

Pengurus, lanjutnya, akan menunggu proposal perdamaian yang ditawarkan oleh kreditur. Dari proposal tersebut, dapat terlihat sejauh mana debitur siap menyelesaikan utang-utangnya.

Bank Maybank Indonesia selaku pemegang tagihan terbesar menginginkan proposal perdamaian dikirim secara resmi ke perusahaan.

Kuasa hukum Bank Maybank Duma Hutapea mengatakan proposal perdamaian sebaiknya disampaikan secara tertulis dan resmi, bukan diutarakan secara lisan di rapat kreditur.

“Kami meminta proposal perdamaian segera dibuat secara tertulis agar dapat dibahas di internal perusahaan Maybank,” tuturnya dalam rapat.

Duma juga meminta debitur menyerahkan daftar aset yang dimiliki debitur. Menurutnya, kreditur dapat menaksir proyeksi keuangan dan potensi pembayaran dari aset-aset debitur.

Sementara itu, Pazia yang diwakili oleh kuasa hukumnya Nien Rafles Siregar akan mengupayakan memberikan daftar aset dan menyusun proposal perdamaian. “Kami akan mengusahakan secepatnya,” ujarnya.

Dalam rapat kreditur, PT Pazia merangkum singkat inti dari proposal perdamaian yang ditawarkan ke kreditur.

Untuk kreditur separatis, debitur meminta tunggakan bunga dan denda dihapuskan, sehingga debitur hanya membayar utang pokok. Debitur juga meminta masa tenggang (grace period) selama 36 bulan untuk pembayaran utang pokok tersebut. Adapun utang akan dicicil selama 10 tahun dengan bunga berjalan 5%.

Sedangkan untuk kreditur konkuren, debitur membagi menjadi tiga kategori berdasarkan jumlah tagihan. Utang di bawah Rp500 juta, debitur meminta keringanan atau diskon sebesar 10%, masa tenggang 12 bulan dan cicilan sebanyak enam kali.

Utang di atas Rp500 juta hingga Rp5 miliar, debitur meminta diskon 20%, masa tenggang 18 bulan dan cicilan sebanyak 18 kali. Sementara itu, debitur meminta diskon 30%, masa tenggang 36 bulan dan cicilan 48 kali untuk utang di atas Rp5 miliar.

Penyusunan proposal perdamaian ini merupakan tindak lanjut setelah PT Pazia diputus dalam masa penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) oleh majelis hakim pada 13 Februari lalu.

Perlihatkan Lebih

8 Komentar

  1. I’m impressed, I have to admit. Genuinely rarely should i encounter a weblog that’s both educative and entertaining, and let me tell you, you may have hit the nail about the head. Your idea is outstanding; the problem is an element that insufficient persons are speaking intelligently about. I am delighted we came across this during my look for something with this.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami