Liputan

Idul Adha 1441 H/2020 M Tingkatkan Kepekaan kepada Kaum Papa

BTN iklan

Jakarta, 2/8 (LEI) – Peringatan hari besar muslim, Idul Adha tahun ini, 1441 H atau 2020 M diharapkan dapat meningkatkan kepekaan kepada kaum papa (the poor) dimana jumlah pengguran dan kemiskinan saat ini terus meningkat, akibat pandemik covid 19 yang belum dapat ditemukan vaksinya.
Peringatan Idul Adha tahun ini, relatif special karena pandemik covid 19 yang masih berkecamuk, mendorong meningkatkan pengangguran dan kemiskinan, sehigga kaum muslimin di Indonesia, seharusnya lebih peka untuk membantu saudara-saudara yang menganggur dan miskin itu,  kata Khotib Id, Adha, Theo Yusuf Ms, di Mushala Alfikri, Lembah Nirmala Depok, kemarin. (Jumat, 31).
Disebutkan, kewajiban berqurban sebagaimana Allah firmankan kedalam surat Alquran, surat ke 108, إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
رinnā a’ṭainākal-kauṡar, Artinya: Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
fa ṣalli lirabbika wan-ḥar , Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.
•إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
inna syāni`aka huwal-abtar, Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. Al Kautsar ini kemudian disarikan dalam Tafsir Al Quran karya Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir karya Syaikh Wahbah Az zuhaili, Tafsir Fi Zilalil Quran karya Sayyid Qutb dan Tafisr Al Azhar karya Buya Hamka antara lain, surat Al Kautsar menunjukkan, Allah SWT memberikan nikmat yang banyak kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Nikmat yang banyak itu di antaranya, kesehatan, keturunan dan , atau jumlah pengikut Rasul Muhammad yang banyak. Sementara telaga al kautsar adalah air yang dapat diminum oleh para umatnya di alam makhsar kelak.
Sementara sejarah qurban, kata Yusuf, Ms sesungguhnya bukan hal baru. Kisah atau sejarah qurban berawal dari persitiwa Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya Nabi Ismail. Hal itu oleh Nabi Muhammad SAW umat Islam dianjurkan menyembelih qurban di hari raya Haji atau Idul Adha.
Sejarah qurban dimulai dari kisah Nabi Ibrahim sa dan nabi Ismail sa. Nabi Ibrahim tidak memiliki anak hingga usia sekitar 86 tahun. Lalu, beliau berdoa kepada Allah. “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. (QS Ash-Shafaat [37] : 100) Kemudian Allah memberikan kepadanya kabar gembira akan lahirnya seorang anak yang sabar. Dialah Ismail, yang dilahirkan oleh Siti Hajar. Ibrahim kemudian membawa Hajar dan Ismail, yang waktu masih bayi itu ke Makkah.

Pada saat itu di Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka disana beserta “geribah” yang di dalamnya terdapat kurma serta bejana kulit yang berisi air.
Setelah itu Nabi Ibrahim akan pergi ke Palestina. Hajar berkata,
“Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?”
“Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini? “Ya.” Jawab Nabi Ibrahim.

Saat tiba disatu tempat, di Tsamiyah, beliau berdoa, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14] : 37)

Doa itu oleh Allah SWT diterima, sehingga saat ini Makah utamanya dekat Masjidil Kharom, telah banya buah-uah segar yang harganya relatif murah meskipun di wilayah itu tandus dan gersang.
Saat Ismail merasa haus, Hajar melihat puteranya merengek-rengek. Kemudian ia pergi dan tidak tega melihat anaknya tersebut. Maka ia mendapatkan Shafa merupakan bukit yang terdekat dengannya. Lalu ia berdiri di atas bukit itu dan menghadap lembah sembari melihat-lihat adakah orang di sana, tetapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana. Setelah itu ia turum kembali dari Shafa dengan susah payah sehingga sampai di lembah. Ia berlari-lari, antara bukit Shafa dan Marwah – sebanyak tujuh kali.
Tiba-tiba ia melihat kaki Ismail menjejakkan tanah di tempat itu, dan atas bantuan Malaikat yang diutus Allah, keluarlah sumber air Zamzam. Kemudian Ibunda Ismail membendung air dengan tangannya dan menciduknya dan air bertambah deras. hingga kini sumur atau air zam-zam taidak pernah kering meskipun jutaan orang mengabil atau meminumnya.

Ismail tumbuh menjadi besar, hingga pada suatu hari, ayahnya, Nabi Ibrahim datang menjumpainya. Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS Ash-Shafaat [37] : 102)
Nabi Ibrahim datang menjumpai anaknya untuk menyampaikan perintah Allah agar menyembelihnya. Nabi Ismail pun menjawab:
“Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shafaat [37] : 102)
Nabi Ismail, kata Ustaz Yusuf yang juga pengajar di STIH IBLAM Jakarta, meminta ayahn ya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Sungguh mulia sifat Ismail, seorang anak yang sangat taat kepada orang tuanya. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (QS Maryam [19] : 54)
Ismail pun siap menaati perintah ayahnya, saat dibaringkan. Dengan memuji nama Tuhannya, Bismillah hirahmanirakhim, Allah hukabar, kemudian Ibrahim, terkaget, karena sesungguhnya, yang disembelih adalah seekor kambing.
“ Kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 104:107).

Itulah Iman, takwa dan sabar nabi Ibrahi, Ismail dan Siti Hazar yang dicontohkan kepada kita. Tentu kita tak mungkin menyamai keimanan, ketakwaan, dan ksabaran dari para nabi dan rasul itu, namun minimal kita berusaha untuk juga menjadi orang beriman, bertakwa dan sabar sebatas kemampuan kita masing-masing.
Di bagian lain Khotib juga menyampaikan falsafah Qurban dalam kehidupan sehari-hari. Makna atau filsafat qurban dalam kehidupan kita sehari-hari, katanya, sedikitnya ada empat hal, pertama, qurban mengajarkan Ikhlas menghadapi berbagai cobaan, kedua
.Qurban sebagai pengingat segalanya milik Allah, ketiga agar kita taat terhadap orang tua, dan terakhir , meningkatkan silaturahmi dengan orang-orang sekitar.
Kegiatan hari besar Idul Adha menjadi momen berkumpul bersama keluarga besar maupun tetangga. Hal tersebut sudah menjadi tradisi yang secara tidak langsung tentu akan merekatkan hubungan silaturahmi. Selain itu, dengan berqurban ada kesempatan membagikan daging sembelihan qurbannya kepada di lingkungan sekitar kita. Pengangguran, dan kemiskinan di Indonesia kian meningkat. Ketimpngan sosial antara orang kaya dan miskin juga kian tinggi.
Imam Iddul Adha, Ust Saiful menambahkan, hal itu terjadi karena akibat masih adanya para pemimpin negara, para penyelenggara negara korup. Kita belum mempunyai pemimpin yang cukup “amanah”, untuk tidak rakus terhadap tahta, dan harta. Karena sebuah bangsa yang mempunyai peradaban tingi itu, jika lahir para pemimpin yang mengutamakan kepentingan orang lain di atas kepentingan dirinya, dia juga mentaati hukum, bukan karena takut kepada aparat hukum, tetapi lebih dari itu takut kepada Allah Swt, dan kehidupannya dapat dijadikan suri tauladan kepada umat/rakyat yang lain,
****dw**

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami