Internasional

Ilmuwan Jamin Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa China Tidak Membahayakan Bumi

BTN iklan

BEIJING (LEI) – Stasiun Luar Angkasa milik China, Tiangong-1, jatuh ke bumi. Namun, sejumlah ilmuwan menjamin jatuhnya Tiangong-1 tidak akan mengakibatkan kerusakan kepada bumi serta mengancam kelangsungan hidup para penghuninya.

Lembaga luar angkasa dan para ilmuwan China mengatakan, saat ini stasiun luar angkasa pertama tanpa awak itu dalam kondisi stabil di orbitnya dan jatuhnya nanti tidak akan mengakibatkan kerusakan pada bumi.

Pemimpin Teknis Lembaga Ilmu Pengetahuan Luar Angkasa dan Teknologi China (CASTC), Zhu Congpeng, memperkirakan stasiun luar angkasa itu akan menyentuh atmosfer pada semester pertama 2018 setelah sudah tidak lagi mengirimkan data kembali ke bumi pada Maret 2016 yang berarti secara resmi telah berhenti menjalankan misinya.

China terus memantau kondisi Tiangong-1 yang diluncurkan pada 29 September 2011 itu. Stasiun luar angkasa itu akan terbakar habis saat memasuki lapisan udara yang menyelubungi bumi atau atmosfer.

Serpihan benda antariksa nirawak tersebut akan jatuh ke area yang sudah ditentukan, yakni lautan, tanpa memberikan ancaman sedikit pun terhadap bumi, demikian penuturan Zhu kepada People’s Daily, Selasa (13/3/2018).

Informasi yang diperoleh dari teknisi Lembaga Nirawak Luar Angkasa setempat menyebutkan bahwa pada 4-11 Maret 2018, Tiangong-1 dalam kondisi stabil di orbitnya dengan ketinggian rata-rata 244,5 kilometer.

Rentang orbit stasiun luar angkasa itu berada pada kisaran 43 derajat lintang utara hingga 43 derajat lintang selatan, tulis The Guardian, harian berbasis di London. Hal itu berarti orbitnya membentang luas di atas kawasan Amerika Utara, Amerika Selatan, China, Timur Tengah, Afrika, Australia, sebagian Eropa, Samudra Pasifik, dan Samudra Atlantik.

Pakar luar angkasa, Pang Zhihao, mengemukakan bahwa sesuai tradisi yang berlaku secara internasional biasanya bekas pesawat luar angkasa yang berada di orbit dekat bumi dibiarkan jatuh hingga dasar lautan di Samudra Pasifik yang jauh dari wilayah daratan.

Dasar lautan yang disebut sebagai kuburan pesawat luar angkasa itu juga sebelumnya menjadi “tempat peristirahatan terakhir” bagi stasiun luar angkasa MIR dan program luar angkasa Rusia serta Observatorium Compton Gamma Ray milik Amerika Serikat, demikian Pang sebagaimana dikutip Global Times. okezone

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close