HEADLINESKesehatanNasional

Ilusi Aman, Pengalihan Biaya Covid dibebani Masyarakat.

BTN iklan

Jakarta, LEI– Keluarga pasien terancam menanggung beban tambahan bila pemerintah benar-benar mempersempit definisi kematian covid-19. Selain dirundung duka, keluarga pasien juga akan dirundung permaslahan ekonomi atau biaya mengenai biaya pelunasan jenasah yang sebelumnya ditanggung pemerintah. “Jika definisi kematian berubah, keluarga pasien ikut membayar. Apalagi dampaknya malah membebani masyarakat”, tutur Dicky Budiman epidemolog dari Universitas Griffith.

Dicky menanggapi usul pemerintah dari Jawa Timur agar kementrian Kesehatan membedakan kematian covid-19 yang memiliki penyakit asal (komorbid) dengan kematin karena covid-19. Selama ini, berdasarkan regulasi Kementrian Kesehatan, seluruh biaya pemeriksaan, perawatan hingga pelunasan jenasah covid-19 ditanggung Negara.

Bila disetujui, penyembuhan definisi kematian itu memang akan turun serta menurunkan angka kematian covid-19 di Indonesia secara drastis. Tapi, menurut Dicky, penurunan penurunan angka kematian yang direkayasa tersebut lebih berbahaya karena menimbulkan Ilusi rasa aman. Masyarakat bisa mengira bahwa pandemi covid tidak berbahaya karena tingkat kematian semakin rendah dari biasanya. Kedisiplinan warga dalam menjalankan protokol keehatan bisa semakin kendur. “Jika benar pemerintah berupaya menjalankan penyempitan kategori kematian covid-19, kebijakan itu justru kontraproduktif terhadap penanganan wabah” ujar Dicky.

Mentri Koordinator Perekonomian Luhut Binasar Pandjaitan bersama kepala daerah dari 9 profinsi melakukan pertemuan rapat koordinasi penanganan pandemi dengan usulan penyempitan makna kematian covid-19. Dan pada saat itu Gubernur Khofifah Indar Parawansa meminta Kementrian Kesehatan memperjelas hitungan-hitungan angka kematian. Khofifah ingin Kementrian Kesehatan memberikan acuan baku mengenai format perhitungan angka kematian, dengan dihitung karena covid-19 atau kematian dengan Covid-19. Karena ini sangat berpengaruh dengan keberhasilan kasus Covid”. ujar beliau.
Wakil Ketua Umum ikatan Dokter Indonesia, Adib Khumaidi, mengatakan faktanya sulit bagi para dokter untuk memisahkan penyebab kematian dalam khasus Cofid. Faktor komorbid dan infeksi virus adalah 2hal yang saling keterkaitan dalam penentuan kondisi pasien. ” Komorbidtidak bisa dijadikan kator pembeda (kematian). Justru komorbid adalah salah satu faktor pemberat dalam pengambilan keputusan dalam penentuan dari identifikasi penyakit” ujar beliau.
Penyakit bawaan yang seringkali berpotensi seperti hipertensi, jantung dan diabetes yang diderita pasien menurut Adib, menambah resiko kematian hingga 2,59 kali. Selain penyakit, usai menambah resiko fasilitas pasien. ” Covid-19 bukan semata persoalan pernapasan”, Karena penanganna yang kompleks pemisahan sebab kematian akan membingungkan dokter dalam membuat laporan. Dokter pasti akan bingung karena meninggalkan pasien covid-19 tak semata dengan persoalan pernapasan.

 

Kontributor; Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami