EkonomiFinansial

Indonesia Bisa Ikuti China

BTN iklan

JAKARTA/Lei —Pemerintah Indonesia disarankan mengikuti langkah Pemerintah China yang memperkuat hubungan bilateral dengan Amerika Serikat guna mengantisipasi kebijakan proteksi dagang yang dilancarkan Presiden Donald Trump.

Kepala Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih melihat  kebijakan AS baru akan terlihat setelah pertemuan bilateral dengan Sekjen Partai Komunis China Xie Jin Ping. Jika China berhasil membujuk AS, dia menyarankan Indonesia mengikuti langkah Negeri Panda tersebut.

“Kalau ternyata yang membuat surplus paling besar China saja, AS lunak, kenapa kita enggak. Berarti kita harus meniru diplomasinya. Kita harus datang ke AS,” ujarnya Rabu (5/4).   Lana menduga Trump akan melakukan renegosiasi semua kerja sama perdagangan secara bilateral.

Melihat skema ala Trump ini, dia memandang perlu bagi pemerintah mempersiapkan tim diplomasi perdagangan.  Tim ini, saran Lana, sebaiknya dipimpin oleh Kementerian Perdagangan karena otoritas tersebut memahami permasalahan niaga di skala internasional yang meliputi bea masuk, tarif dan sebagainya.

Sebelum masalah perdagangan menjadi pembahasan hangat, dia menuturkan AS pernah memiliki daftar negara yang disukai most favor nations (MFN). Negara yang masuk ke dalam daftar tersebut mendapatkan kemudahan pajak yang berbeda dari mitra dagang AS yang lain.

Jika pendekatan ala MFN kembali diterapkan oleh Trump, maka hubungan Indonesia dengan Negeri Paman Sam tersebut akan bergantung kepada lobi tingkat tinggi.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mengatakan defisit perdagangan AS telah melebar dalam dua tahun terakhir sekitar US$500 miliar. Defisit ini sebenarnya dipengaruhi juga oleh perlambatan ekonomi global yang mendorong pertumbuhan negatif ekspor AS sekitar 4% (year-on-year/yoy).  Impor memang melemah tetapi lebih lambat dibandingkan dengan pengapalan barang ke luar negeri yakni turun 3% dalam dua tahun terakhir.

Dia menambahkan tren penurunan ekspor AS juga dipengaruhi oleh penguatan nilai tukar dolar AS yang didorong oleh quantitative easing, tapering, dan tren kenaikan suku bunga AS dalam jangka panjang.   Selain itu, Josua memandang penguatan nilai tukar dolar AS juga mendorong kenaikan biaya impor ke AS.

“Tuduhan Trump tersebut kurang beralasan dan perlu dipahami melebarnya defisit perdagangan AS didorong karena kondisi ekonomi global serta tren penguatan dolar AS dalam beberapa tahun terakhir ini,” ujarnya.

Apabila investigasi perwakilan dagang AS menemukan adanya tindakan kecurangan dari mitra dagang, dia memperkirakan Pemerintah AS akan memperketat kebijakan antidumping dengan mitra dagangnya.  Hal ini berpotensi mempengaruhi ekspor indonesia ke AS secara langsung.

Namun berdasarkan produk ekspor Indonesia ke AS,  tekstil,  karet olahan, alas kaki, elektronika dan makanan dan minuman menjadi komoditas utama. AS memang tidak memiliki daya saing pada sebagian besar komoditas tersebut.

Sementara itu, impor Indonesia dari AS hanya besi baja, mesin serta kimia dasar yang  berkontribusi hampir 50%. Untuk komoditas tersebut, Indonesia belum memiliki daya saing juga dalam produksi domestik untuk barang-barang tersebut.  “Jadi, investigasi  pemerintah AS diperkirakan tidak akan mempengaruhi signifikan kinerja langsung ekspor Indonesia ke depannya.”

Namun demikian, apabila pemerintah AS menemukan praktik kecurangan pada mitra dagang lainnya, seperti China atau Jepang  pada akhirnya pemerintah AS berpotensi memperketat kebijakan antidumping pada mitra dagangnya. Selanjutnya, hal ini mempengaruhi secara tidak langsung kinerja ekspor Indonesia.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami