Kesehatan

Indonesia dalam Kondisi Darurat

BTN iklan

Jakarta, LEI-Berbagai indikator menunjukan situasi pandemi yang terus memburuk. Sistem kesehatan dikhawatirkan tak akan lagi bisa menampung pasien baru. Pemerintah DKI Jakarta Menetapkan kembali sistem PSBB Mulai Senin depan.

Presiden juga menghimbau urusan kesehatan belum tertangani dengan baik kita sudah merestart ekonomi. Kesehatan harus nomor satu.

Dengan melihat kedaruratan ini maka tidak banyak pilihan bagi jakarta kecuali menarik rem. Bukan hanya di jakarta, meningkatnya jumlah pasien positif corona (Covid-19) terus membebani fasilitas yang berada di berbagai daerah. Di Provinsi Bali, misalnya sejumlah rumah sakit rujukan melaporkan tingkat keterisian pasien menembus angka 90%. Sementara itu dikota Medan, pasien positif covid-19 harus antre untuk mendapatkan tempat tidur.
Direktur RS Universitas Udayana, Dewa Putu Gede Purwa Samatra, mengatakan tingkat oktpansi dirumah sakitnya kini sudah melebiihi angka 90% dari 88 tempat tidur khusus pasien Covid-19. “Tempat tidur tersebut ada dalam satu gedung khusus yang menangani covid-19”. ujar dewa kepada media Legal Era.

Persoalan okupansi juga dilaporkan oleh pengelola Rumah sakit umum Pusat Sangalah, Dewa Ketut Kresna, menututrkan sebanyak 101 dari 107 unit tempat tidur khusus pasien Covid-19 sudah terisi. Rasio keterisian yang mencapai 94% itu jauh diatas ketentuan Organisasi Kesehatan Dunnia (WHO) yang sebanyak 60% dari kapasitas terpasang. “Jumlah pasien berfluktuasi antara 95dan 105 pasien. Jika situasi terus memburuk, kami berencana menambah ruangn:, ujar Dia kemarin.
Kondisi yang sedikit lebih baik terdapat di Semarang, Jawa Tengah Kapasitas ruang perawatan khusus pasien Covid di deluruh rumah sakit di kota semarang tersisa 340 tempat tidur, dari total kepasitas 884 tempat tidur. Fasilitas itu tersebar diruang isolasi, ataupun intensive care unit rumah sakit pelat merah/swasta.

Saat ini tersisa 544 tempat tidur ujar kepaladinas kesehatan kota semarang, Abdul hakam. Satuan tugas penanganan covid-19 selasa lalu menggunakan kota semarang termasuk kawasan dengan khasus angka tertinggi di Indonesia. Jumlah yang tertular mencapai 2.591 khasus. Namun Pemerintah kota Semarang membantah data pemerintah pusat itu dengan alasan adanya data ganda dan data yang tidak mencantumkan hasil tes serta pasien.
Pakar sosiologi bencana dari Nanyang Tecnologica Universitas Singapura,Sulfikar Amir, menyarankan agar pemerintah memberlakukan kembali melakuka pembatasan berskala besar.

kontributor : Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami