Liputan

Inflasi Jakarta 2,37 % Sepanjang 2016

BTN iklan

Jakarta, LEI/Antara – Inflasi DKI Jakarta sepanjang 2016 bertahan di 2,37 persen (year on year/yoy) atau lebih rendah dibanding rata-rata lima tahun sebelumnya sebesar 5,93 persen (yoy).

Namun menurut Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Selasa, rendahnya inflasi 2016 tersebut masih dipengaruhi konsumsi masyarakat yang terbatas karena kegiatan ekonomi yang belum terlalu menggeliat.

“Aktivitas perekonomian yang belum terlalu bergairah, baik di tingkat nasional maupun di Jakarta secara khusus,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Doni P. Joewono.

Dalam perhitungan perbandingan dengan lima tahun sebelum 2016 tersebut, BI DKI Jakarta tidak memasukkan inflasi 2014 dengan alasan pada tahun itu terdapat kebijakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM).

Sementara itu, di sisi lain, Doni mengklaim, inflasi tahunan di 2016 rendah juga karena koordinasi pemerintah provinsi DKI Jakarta dan BI DKI Jakarta untuk menjaga inflasi terutama yang disebabkan gejolak harga bahan makanan.

Inflasi bahan makanan di DKI Jakarta tahun ini sebesar 5,31 persen (yoy), lebih rendah dari rata-rata lima tahun sebelumnya 8,53 persen (yoy).

“Penyebab lainnya adalah rendahnya harga-harga komoditas energi dan transportasi, seiring perkembangan harga minyak internasional yang rendah, turut memberikan andil kepada tarif transportasi yang rendah pula,” kata Doni.

Jika dilihat dari komponennya, Doni menuturkan, kelompok harga barang bergejolak (volatile foods) sepanjang 2016 cukup terkendali. Hal itu disebabkan turunnya harga-harga komoditas hortikultura dan stabilnya harga beras.

Misalnya, pada Desember 2016 ini, untuk harga cabai merah dan bawang merah tercatat mengalami deflasi, masing-masing sebesar 10,15 persen (month to month/mtm) dan 9,84 persen (mtm).

Sedangkan untuk komponen harga barang yang diatur pemerintah (administered prices), Doni mengatakan memang menjadi sumber tekanan. Misalnya pada Desember 2016 ini, subkelompok transportasi mengalami inflasi sebesar 1,09 persen (mtm).

Hal itu karena komoditas transportasi tercatat mengalami kenaikan, antara lain, angkutan udara yang sebesar 9,86 persen (mtm) dan kereta api sebesar 2,95 persen( mtm). Kenaikan tarif tersebut menyusul perayaan libur Natal dan Tahun Baru 2017.

“Kenaikan harga BBM non-subsidi yakni pertamax, pertalite dan dexlite per 16 Desember 2016, juga turut menyebabkan kenaikan inflasi ‘administered prices’ pada Desember 2016,” kata Doni.

Untuk Desember 2016, inflasi Jakarta tercatat sebesar 0,27 persen (mtm) atau meningkat dibandingkan November 2016 yang sebesar 0,24 persen.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami