LiputanNasional

Inmarsat Bantu Teknologi Satelit Mendukung Perikanan Berkelanjutan

BTN iklan

Jakarta, LEI, Perusahaan yang berbasis di Inggris, Inmarsat, membantu para nelayan di Indonesia melalui teknologi komunikasi yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup manusia utamanya di sektor kelautan.

“Komunikasi satelit dapat meningkatkan kemampuan nelayan pada kapal skala kecil saat digunakan secara tepat, keselamatan saat sedang dalam bahaya dan mendapatkan lebih banyak ikan (melalui informasi daerah penangkapan ikan),” kata James Cemmell, Vice President Inmarsat, saat melakukan penutupan pengerjaan proyek jangka menengah, di Jakarta, pekan ini.

Perusahaan satelit komunikasi yang berbasis di Inggris, Inmarsat, melakukan kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk meningkatkan keselamatan para nelayan serta meningkatkan efektivitas dalam penangkapan ikan berkelanjutan melalui uji coba pemasangan sistem pemantauan kapal (Vessel Monitoring System/VMS) pada 200 kapal berukuran di bawah 30 GT, yang memiliki berbagai aplikasi tambahan (VMS+) berupa pesan teks dan memiliki potensi untuk melakukan pelaporan secara elektronik.

Kerjasama ini dilakukan selaras dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mengatasi illegal fishing serta menjaga keberlanjutan laut Indonesia. Proyek ini didanai oleh Program Kemitraan Internasional oleh Badan Antariksa Inggris (UK Space Agency). “Proyek Inmarsat Indonesia bertujuan memberikan manfaat bagi perikanan Indonesia dengan mempromosikan praktik penangkapan ikan yang inklusif dan berkelanjutan, yang merupakan sebuah langkah besar dalam mendorong penggunaan sumber daya laut secara global dan bertanggung jawab,” kata CEO UK Space Agency, Dr Graham Turnock.

Dikatakan, hasil dari pelaksanaan proyek itu, diharapkan menghasilkan peningkatan kualitas SDM di sektor nelayan, tentang perlunya keberlanjutan (sustainability) lingkungan, mengingat teknologi satelit komunikasi untuk perikanan di Indonesia belum dilaksanakan secara optimal. “Proyek ini memperlihatkan bagaimana teknologi, pelatihan, dan keahlian nelayan dapat bersama-sama memberikan peningkatan keselamatan, pertumbuhan ekonomi, dan kelestarian lingkungan,” James menambahkan.

Kegiatan ini dihadiri oleh Dirjen Pemantauan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Plt) KKP, First Secretary of Defense and Security the British Embassy, Asisten Deputi Keamanan Ketahanan Maritim Kemenko Maritim, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana, dan Sistem Komunikasi Pencarian dan Pertolongan BASARNAS, Direktur Asosiasi Perikanan Pole & Line dan Handline Indonesia, dan para nelayan yang terlibat dalam proyek itu di Jakarta, 3 September 2019.

Proyek ini telah mendukung reputasi Indonesia sebagai pionir pengelolaan perikanan berkelanjutan, terkendali sekaligus keterlacakan tinggi (keberadaan ikan) sehingga memberikan manfaat ekonomi bagi nelayan dan masyarakat umum. Nilai proyek ini adalah senilai 8 juta poundsterling setara 120 milyar rupiah yang dikerjakan selama 3 tahun di wilayah Indonesia seperti Bali, Lombok, Larantuka dan sekitarnya.

Plt Dirjen PSDKP KKP, Agus Suherman mengatakan, uji coba VMS pada kapal <30 GT dilakukan karena kapal-kapal tersebut belum diwajibkan memasang VMS, sedangkan jumlah kapal nelayan skala kecil atau <30 GT lebih mendominasi dibandingkan kapal >30 GT. Kerjasama tidak akan berhenti sampai disini, tetapi akan dikembangkan dengan kerjasama bentuk lain yang sejalan dengan tujuan keberlanjutan dan ketelusuran perikanan.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan purwarupa VMS ‘Made-in-Indonesia’ yang diharapkan dapat lebih terjangkau bagi nelayan.

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami