LifestyleLiputan

IQ Vs Kecerdasan Yang Berkembang

BTN iklan

Jakarta/Lei-Nilai IQ (intelligent quotient) yang tinggi dengan skor di atas 120 membuat seorang anak mendapat label cerdas, bahkan disebut genius jika skornya di atas 140.

Memiliki anak cerdas yang mampu menyelesaikan tes IQ dengan skor gemilang menjadi dambaan setiap orang tua. Sebaliknya, malapetaka jika anaknya hanya memiliki skor di bawah 80 karena termasuk kelompok bodoh.

Tes yang biasa mengukur kecerdasan dalam psikologi, antara lain, Weschler Intelligence Scale, Progressive Matrices, dan Intelligence Structure Scale yang mencakup kemampuan menalar, memahami gagasan, merencanakan, memecahkan masalah, dan berpikir abstrak.

Pola pertanyaan yang lebih berupa logika visual maupun verbal tersebut membuat seseorang yang telah menjadi lebih terdidik di kemudian hari tetap mendapat skor yang relatif konstan ketika mengulangi tes.

Namun, tes IQ yang telah menjadi standar umum penilaian kecerdasan secara internasional ini menurut psikolog dari Universitas Stanford yang belum lama ini mendapat penghargaan dari Yidan Prize di Hong Kong Carol Dweck telah disalahartikan.

Orang tua menganggap kecerdasan seorang anak merupakan bawaan dari lahir dan tetap seperti itu sepanjang hidupnya sehingga terjebak pada konsep yang disebutnya “fixed mindset” atau pola pikir tetap.

Padahal, menurut pakar yang telah meneliti pola pikir manusia selama lebih dari 3 dekade ini kecerdasan seseorang bisa terus berkembang (growth mindset) dan berpengaruh pada kemajuan yang diraih.

Usaha Keras Riset Profesor Dweck tentang pola pikir yang berkembang ini, antara lain, membagi dua para siswa di suatu sekolah menengah pertama di New York menjadi dua kelompok yang sedang belajar matematika.

Yang satu menggunakan konsep “fixed mindset”. Mereka menganggap kecerdasan merupakan bawaan dan kelompok lainnya menggunakan “growth mindset” yang berfokus pada usaha keras untuk meraih nilai yang lebih baik.

Dua tahun kemudian, kelompok yang terlalu percaya pada kecerdasan bawaan menunjukkan kecenderungan penurunan nilai akademik, sementara kelompok yang lainnya memperlihatkan kemajuan signifikan.

Sejumlah psikolog lain kemudian juga membuat program intervensi selama delapan pekan kepada para siswa suatu sekolah di Amerika Serikat dengan meyakinkan mereka bahwa otak seperti otot yang bisa dibentuk menjadi kuat jika makin digunakan.

Sementara itu, kelompok kontrol tidak diajarkan dengan konsep pertumbuhan pola pikir dari teori yang dikembangkan oleh Dweck, penulis sejumlah buku psikologi tersebut.

Hasilnya, dalam 2 bulan, kelompok yang diberi intervensi mengalami banyak perbaikan dalam nilai-nilai pelajarannya dibanding dengan kelompok kontrol.

Sebaliknya, siswa yang selalu diyakinkan orang tuanya bahwa mereka cerdas justru lebih fokus pada bagaimana tetap terlihat cerdas, menjadi khawatir menerima tantangan, dan lebih senang berada di zona nyaman.

Itulah mengapa Dweck tidak peduli pada skor hasil tes IQ karena menurut dia otak sangat lentur dan bisa makin hebat jika makin digunakan untuk memecahkan masalah.

Siswa seharusnya memang lebih fokus pada belajar dan tidak takut tampak bodoh dalam bertanya, takut salah menjawab soal, dan tidak malu atas kegagalan, serta yakin bahwa dengan berusaha keras maka potensinya akan terbangun.

Konsep “growth mindset” ini, menurut dia, penting dikembangkan menjadi budaya pengajaran di kelas karena budaya masyarakat yang ditransfer dari orang tua ke anak cukup beragam dan berpengaruh kuat pada kemajuan atau kemunduran anak.

Orang tua harus juga terlibat bersama guru dan sistem sekolah mengubah pola pikir tradisional dan mendukung konsep perkembangan pola pikir untuk memberi lingkungan kondusif bagi anak untuk maju.

Tidak Andal Alfred Binet, psikolog yang pertama kali memperkenalkan tes IQ lebih dari seabad lalu, juga mengakui bahwa kecerdasan manusia dipengaruhi oleh banyak faktor dan tidak bisa diperbandingkan di antara kelompok-kelompok yang berbeda latar belakang.

Tes IQ yang awalnya dia rancang untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Belakangan, selama beberapa dekade, justru menjadi acuan yang berlaku global untuk merepresentasikan kecerdasan seseorang.

HH Goddard, Direktur Riset di Vineland Training School AS setelah hasil risetnya “menemukan” bahwa para imigran, kecuali dari Eropa Utara, memiliki kecerdasan rendah.

Temuan yang tidak memperhitungkan keragaman bahasa dalam alat ukur tes ini selain berakibat perlakuan rasis terhadap kelompok-kelompok tertentu di AS, bahkan juga melegitimasi sterilisasi paksa orang-orang cacat di beberapa negara bagian.

Karena itulah kemudian banyak psikolog yang tidak menganjurkan menjadikan tes IQ sebagai acuan dalam sistem sekolah atau sistem penyaringan lainnya, apalagi banyak hasil riset yang menyimpulkan hasil skor tes IQ kurang dapat diandalkan.

Suatu penelitian membuktikan bahwa tes IQ dapat bervariasi 15 poin dari satu tes ke tes lain, penelitian lainnya menyebut tentang psikolog sekolah yang secara independen menguji IQ siswa dari alat uji yang sama dan menghasilkan skor IQ berkisar antara 63 dan 117 untuk orang yang sama.

Sementara itu, penerapan konsep “growth mindset” Carol Dweck pada siswa-siswa di sekolah konservasi Indian AS yang terbelakang, hanya dalam beberapa periode mampu mengubah mereka menjadi yang terbaik

Konsep pola pikir yang berkembang ini tentu saja sangat patut diterapkan di sekolah-sekolah terisolasi di Indonesia untuk menghapus citra bahwa sekolah terpencil hanya menghasilkan anak-anak yang kurang cerdas dengan nilai hasil ujian yang rendah.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

15 Komentar

  1. I’m impressed, I have to admit. Genuinely rarely should i encounter a weblog that’s both educative and entertaining, and let me tell you, you may have hit the nail about the head. Your idea is outstanding; the problem is an element that insufficient persons are speaking intelligently about. I am delighted we came across this during my look for something with this.

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami