AdsHukum

Irjen Fadil Imran menjadi Kapolda Metro Jaya Baru

BTN iklan

LEI, Jakarta- Kapolri Jenderal Idham Azis akan melantik Irjen Fadil Imran menjadi Kapolda Metro Jaya menggantikan Irjen Nana Sudjana. Pelantikan berlangsung hari ini, Jumat (20/11)

Fadil Imran merupakan lulusan Akpol 1991. Dia pernah menjabat berbagai jabatan strategis di Polda Metro Jaya dan Bareskrim Polri.
Sebelum menjabat Kapolda Metro Jaya, Fadil Imran menjabat sebagai Kapolda Jawa Timur. Pada Senin (16/11), berdasarkan surat telegram Kapolri ST/3222/XI/KEP./2020 ia ditunjuk oleh Idham menjadi Kapolda Metro.
Pria kelahiran Ujung Pandang 14 Agustus 1968 ini berpengalaman di bidang reserse. Fadil sudah mengungkap sejumlah kasus selama bertugas di Korps Bhayangkara.

Berikut kumparan rangkum sejumlah sepak terjang Irjen Fadil Imran dalam mengungkap berbagai macam kasus:

2011 – Kasubdit Dittipidum Bareskrim

Fadil pernah menjabat sebagai Kasubdit Dittipidum Bareskrim Polri. Ia menangkap dan membawa M Nazaruddin (tersangka kasus korupsi proyek wisma atlet) dari Cartagena, Kolombia, ke Jakarta.
2011 – Dirreskrimum Polda Kepri
Usai menjabat sebagai Kasubdit Dittipidum Bareskrim, Fadil dipindah menjadi Dirreskrimum Polda Kepri. Ia menjadikan Kepri sebagai zona tanpa praktik perjudian dan pernah mengungkap kasus 142 mobil selundupan.

2013 – Kapolres Metro Jakarta Barat

Dua tahun berlalu, Fadil kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai Kapolres Metro Jakarta Barat. Selama menjabat Kapolres Jakbar, Fadil menerapkan problem oriented policing yang diwujudkan dalam kegiatan RW bebas narkoba, wilayah pemukiman aman, serta hiburan tanpa narkoba.
Selain itu Fadil juga mengungkap jaringan peredaran narkoba di tempat hiburan malam, termasuk menutup Diskotik Stadium.

2016 – Dirreskrimsus Polda Metro Jaya

Selama menjabat sebagai Dirreskrimsus Polda Metro Jaya, Fadil banyak mengungkap kasus. Misalnya pada Mei 2016 ia mengungkap peredaran obat palsu, vaksin palsu (kasus RS Harapan Bunda), obat yang tidak sesuai dengan standar, obat yang sudah kadaluarsa, serta kosmetik dan obat suplemen berbagai jenis dan merek yang diduga tanpa dilengkapi izin edar dari Badan POM RI (kasus Pasar Asemka dan Pasar Pramuka).
Ia juga mengungkap penyebaran kebencian melalui media sosial yang berujung pada terjadinya konflik horizontal dan kerusuhan seperti kasus yang berujung kerusuhan saat pertandingan Persija di Gelora Bung Karno (dilakukan oleh kelompok yang berslogan ACAB atau All Cops Are Bastards) dan konflik di Tanjung Balai (kasus pembakaran klenteng).

Pada 2017, Fadil Imran pernah menangani kasus baladacintarizieq. Kasus itu merupakan kasus dugaan chat mesum antara Rizieq Syihab dan Firza Husein.
Rizieq sempat diproses karena kasus chat itu via aplikasi WhatsApp. Setelah dilakukan serangkaian penyelidikan dan penyidikan, Fadil menetapkan Rizieq dan Firza sebagai tersangka.

2017 – Dirtipidsiber Bareskrim Polri

Setelah menjabat sebagai Direskrimsus Polda Metro Jaya, Fadil didapuk menjadi Dirtipidsiber Bareskrim Polri. Pangkatnya kemudian naik dari Kombes menjadi Brigjen.
Fadil kala itu, mengungkap jaringan penyebar hoaks dan hate speech yakni kelompok saracen dan Muslim Cyber Army atau (MCA).
2019 – Dirtipiter Bareskrim Polri
Dua tahun menjabat Dirtipidsiber Bareskrim Polri, Fadil kemudian didapuk menjadi Dirtipiter Bareskrim Polri. Ia kemudian mempraktikkan prinsip hit and fix dan restorative policing dalam pemolisian terhadap kasus kejahatan lingkungan dan sumber daya alam.
Salah satunya adalah melakukan penertiban tambang liar di wilayah Bangka Belitung yang berimplikasi pada meningkatnya keuntungan PT. Timah dari Rp 400 miliar menjadi Rp 1,2 triliun pada akhir tahun 2018.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami