HukumLiputan

Irman Gusman Nyatakan Khilaf Terima Rp100 Juta

BTN iklan

Jakarta, LEI/Antara – Pengacara Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman, Razman Nasution, menyatakan kliennya silap (khilaf) saat menerima Rp100 juta dari istri Direktur CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, Memi.

“Beliau tidak tahu kalau itu uang, tahunya ada tamu kemudian pulang, diletakkan begitu saja. kemudian datang dari KPK kemudian ke kamar dan ternyata barang yang dibawa itu duit. Kalau pak Irman tahu pasti akan dibawa ke gratifikasi, itu silap,” kata Razman di gedung KPK Jakarta.

Razman juga membantah bahwa Irman sudah membuat kesepakatan untuk bersedia mengusahakan penambahan kuota gula impor untuk CV Semesta Berjaya dengan imbalan sejumlah uang per kilogram gula.

“(Pemberian uang untuk) per kilo itu tidak ada, yang ada program bisnis ke depan. Ibu Memi baru beli tanah Pak Irman lalu baru dibayar lunas, sudah dicicil-cicil. Artinya ini mereka sudah lama bekerja sama. Bu Memi baru saja membeli tanah Rp14 miliar dari Irman. Pak Irman tidak membantah itu,” ungkap Razman.

Memi menurut Razman adalah pengusaha gula yang ia kenal dan pernah menyampaikan bahwa pasokan gula di Sumatera Barat mengalami kekurangan. Irman pun sempat menelepon Kepala Bulog, Djarot Kusumayakti untuk menanyakan harga gula yang tinggi di Sumatera Barat.

“Pak Irman tidak membantah itu (telepon Kabulog). Dia bilang, Pak ini kok gula Sumbar kurang? Kemudian Bulog (Djarot) bilang iya Pak nanti kita bantu,” tambah Razman.

Telepon itu terjadi menjelang Hari Raya Idul Fitri 2016. Saat itu Djarot menyatakan untuk menekan harga gula, Irman harus memiliki mitra yang dapat menyalurkan gula ke Sumbar.

“Karena ini skala kecil dihubungilah Ibu Memi (istri dari Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xaveriandy Sutanto), tapi saya kira tidak ada lah kata menekan,” jelas Razman.

Razman pun menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengajukan penangguhan penahanan meskipun kesempatan itu tipis.

“Penangguhan penahanan diajukan dan kita tunggu bagaimana responnya. meskipun tipis harapa, hanya sudah diajukan,” ungkap Razman.

Kasus ini diawali dengan Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terjadi pada Sabtu, 16 September 2016 dini hari terhadap empat orang yaitu Direktur Utama CV Semesta Berjaya Xaveriandy Sutanto, istrinya Memi, adik Xaveriandy dan Ketua DPD Irman Gusman di rumah Irman di Jakarta.

Kedatangan Xaveriandy dan Memi adalah untuk memberikan Rp100 juta kepada Irman yang diduga sebagai ucapan terima kasih karena Irman memberikan rekomendasi kepada Bulog agar Xaverius dapat mendapatkan jatah untuk impor tersebut.

KPK lalu menetapkan Xaveriandy Sutanto dan istrinya Memi sebagai tersangka pemberi suap dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pengurusan kuota gula impor yang diberikan oleh Bulog kepad CV Semesta Berjaya tahun 2016 untuk provinsi Sumatera Barat.

Xaveriandy dan Memi disangkakan berdasarkan pasal 5 ayat 1 huruf a atau pasal 5 ayat 1 huruf b atau pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 201 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 KUHP.

Pasal tersebut berisi tentang memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara negara dengan maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara negara tersebut berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya, yang bertentangan dengan kewajibannya dengan ancaman pidana paling singkat 1 tahun dan lama 5 tahun ditambah denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta.

Sedangkan Irman Gusman disangkakan pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal tersebut mengatur mengenai pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima hadiah, padahal diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan sebagai akibat atau disebabkan karena telah melakukan atau tidak melakukan sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibannya dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp1 miliar.

Xaverius dan Memi juga diduga menyuap jaksa Farizal yang menangani perkara dugaan impor gula ilegal dan tanpa Standar Nasional Indonesia (SNI) seberat 30 ton dimana Xaverius merupakan terdakwanya.

Uang suap yang diberikan kepada Farizal adalah sebesar Rp365 juta dalam empat kali penyerahan, sebagai imbalannya, Farizal dalam proses persidangan juga betindak seolah sebagai pensihat hukum Xaverius seperti membuat eksekpsi dan mengatur saksi saksi yang menguntungkan terdakwa.

Farizal disangkakan pasal 12 huruf a atau pasal 12 huruf b atau pasal 11 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Awalnya, penyelidikan KPK terkait kasus distribusi gula impor yang tidak mendapatkan SNI namun ternyata dalam pengembangan diketahui berhubungan dengan Irman Gusman KPK sudah menggeledah gudang gula dan rumah Xaverius pada 18 September di Padang dan membawa dokumen dan alat elektronik. Sedangkan pada 19 September, penyidik KPK memeriksa 3 pegawai Xaverius dan seorang swasta di Padang.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close