Liputan

Jangan Lupa Sejarah, Kekuasaan Ada Batasannya

BTN iklan

Jakarta, 13/5 (LEI) – Sejarah selalu mengingatkan kepada kehidupan untuk selalu di kenang dan dimaknai agar menjadi pelajaran, bahwa kekuasaan itu mempunyai batasan. Oleh karenanya, “jangan lupa sejarah” jika seseorang sedang diberi amanah untuk berkuasa, janganlah berbuat dhalim kepada sesama.
Raja Namrud, punya kekusaan tak terbatas, ia tumbang dengan lahirnya Nabi Ibrahim yang diberi amanah Allah untuk mengajarkan keiimanan dan mengingatkan kepada Namrud. Begitu juga Raja Fir’aun, yang berkuasa di Mesir puluhan tahun, ia seolah raja yang tak pernah akan terkalahkan. Ia berakhir dengan lahirnya Nambi Musa As. Dengan mengingat sejarah, kita diingatkan untuk berkuasa secara bijak dan ramah dengan sesama, demikian pesan singkat khutbah Dr. Yusuf Muhamad Said, SH MH, di Mushala Alfikri di Cimanggis Depok, Kamis.
Dikatakan, kematian itu sesuatu yang dekat dan akan menimpa semua manusia. Itu sebab, mengapa sebagian oknum penguasa seolah tidak takut dengan azab Allah. Seolah Allah tidak melihat ke zaliman yang diperbuatnya. Berapa banyak orang sengsara, meninggal akibat dari kekejian dan ke zaliman dari mereka. Puasa dan lebaran ini momentum untuk merenungkan, tujuan hidup untuk membuat kebaikan sesama orang dan juga menjaga lingkungan yang harmoni.

Dibalik Musibah.

Dr. Yusuf yang juga dosen ilmu hukum di IBLAM Jakarta mengintakan, di balik musibah Covid-19 yang sedang melanda dunia dewasa ini, banyak sekali hikmah kebaikan yang bisa kita ambil, misalnya kita makin perduli dengan kebersihan diri yang selama ini kita abaikan. Secara teologis kita makin tersadarkan bahwa manusia itu makhluk yang lemah dan kekuasaan Allah sangatlah besar dengan menciptakan makhluk kecil yang tidak terlihat tetapi bisa menggoncangkan manusia se isi dunia.

Sebagai umat beragama, dalam menghadapi wabah seperti sekarang ini dilarang untuk berputus asa. Teruslah berdoa kepada Allah semoga wabah ini terus berlalu, sambil berusaha dengan pendekatan akal dan ilmu pengetahuan untuk berikhtiar. Yaitu dengan terus menerapkan protokol kesehatan, hidup sehat dan melaksanakan vaksinasi.
Sebagai pengikut ajaran Islam berkemajuan, kita dianjurkan untuk mengikuti rujukan dari dua institusi yang punya wewenang terhadap hal tersebut. Yang pertama, taat dan ikuti saran serta perintah agama:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS Al-Baqarah : 45)

Sudah lebih dari satu tahun kita dilanda musibah pandemi Covid-19, sudah banyak yang tertulari baik di tanah air maupun di seluruh negara di atas bumi. India minggu-minggu ini dikenal syunami Covid – 19 karena dalam sehari lebih dari 4 ribu meninggal akibat covid.
Oleh karena itu lebaran kali ini kita belum bisa merayakan secara normal seperti dahulu kala. Namjun hari ini , kita masih tetap konsisten menyakini, mengimani bahwa Allah SWT masih menyayangi kita, memberikan kebaikan hingga dapat berkumpulkan menggungkan asma Allah, melantunkan takbir dan takhmid.
Setelah kita menjalankan puasa, setidaknya ada dua tamsil kehidupan yang dapat dijadikan pijakan hidup untuk lebih baik dan berguna bagi masyarakat luas, yakni binatang ulat menjadi kupu-kupu.
Seekor ulat ketika ingin metamorfosa menjadi kupu-kupu ia harus menjadi kepompong terlebih dahulu, berpuasa menutup diri dalam waktu yang cukup lama.
Shaum Ramadhan, merupakan masa kontemplasi mendekatkan diri kepada Allah, mengabaikan kehidupan lahiriah melatih batiniyah supaya lebih sempurna. Puasa laksana masa inkubasi peralihan bentuk yang terjadi pada binatang. Oleh karena itu, Jika kepompong mampu merubah ulat menjadi kupu-kupu yang indah, maka shaum romadhan diharapkan menjadikan manusia makin bertaqwa kepada Allah SWT.
Tamsil kedua, binatang ikan yang konsisten Perumpaman yang bagus dan hikmah yang sederhana dapat diambil dari kehidupan ikan di lautan, mereka hidup dan berada dalam air yang rasanya asin tetapi tidak menyebabkan dirinya asin, selama ikan itu hidup badanya bisa menetralisir pengaruh luar.
Bintang ikan sebagai simbul konsisten dalam kehidupan tidak mudah tergoyah dengan kehidupan yang serba prakmatis, koruptif dan hedonis yang mengagungkan kehidupan materi. Seolah materi atau harta akan di bawa mati, sehingga meninggalkan menafikan tugas sesungguhnya, bahwa hidup adalah mencari ridha Allah mengejar ketakwaan semata agar jika seseorang mau meninggal ingat kalimat taukhid.
Oleh karenanya, marilah kita tetap teguh dalam keislaman, walaupun dalam suasana prihatin. Mari tetap istiqomah tidak terbawa arus dan terombang ambing oleh kehidupan sekeliling kita. Untuk itu bersabarlah atas cobaan dan hendaknya kita dan keluarga selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, istiqamah dalam menghadapi kehidupan, Mantapkan ukhuwah Islamiyah, tekunlah melaksanakan ibadah dan ingatlah selalu bahwa hidup kita ini terbatas, sebentar waktunya, dan kita akan kembali kahdirat-Nya dan mempertanggung jawabkan atas segala yang telah dilakukan.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami