BTN iklan
NasionalTekno

Jaringan Angel Investor ANGIN Raih Pendanaan dari 500 Startups

(LEI)- Pada tanggal 6 Juni 2018, Angel Investment Network Indonesia (ANGIN)mengumumkan telah mendapat pendanaan tahap awal (seed funding) dengan nominal yang tidak disebutkan pada Mei 2018 lalu. Investasi tersebut mereka dapatkan dari 500 Startups, serta tiga orang angel investor, yaitu Shinta Kamdani, Diono Nurjadin, dan Jefrey Joe (Managing Director dari Alpha JWC Ventures).

ANGIN merupakan jaringan angel investor yang telah berdiri sejak tahun 2013. Organisasi ini diinisiasi oleh beberapa angel investor yang dipimpin CEO Sintesa Group Shinta Kamdani.

Beri layanan pada para investor

Hingga saat ini, telah ada sekitar tujuh puluh orang angel investor yang bergabung dengan mereka. Para investor tersebut bisa mendapat berbagai layanan, seperti data startup yang memungkinkan untuk diberi investasi, hingga bantuan dalam melakukan due diligence.

Sebagai gantinya, para investor yang tergabung harus membayar biaya keanggotaan setiap tahunnya, yang kemudian menjadi sumber pendapatan dari ANGIN.

ANGIN | Screenshot

Seiring berjalannya waktu, ANGIN mulai menghadirkan layanan baru yang diharapkan bisa menjadi sumber pemasukan baru, seperti:

  • Jasa konsultasi untuk founder yang ingin mendapatkan pendanaan.
  • Pembuatan konten edukasi.
  • Platform teknologi bernama Connector.ID yang bisa menghubungkan founder startup dan investor.
  • Jasa pembuatan riset dan laporan terkait kondisi startup tanah air, seperti laporan terkait perkembangan startup sosial atau tentang  inkubator startup di Indonesia yang pernah mereka buat.

Hendak tambah anggota tim

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan layanan-layanan tersebut, tim manajemen ANGIN memutuskan bahwa mereka butuh mendapatkan pendanaan dari pihak luar.

Dana segar ini hendak mereka gunakan untuk merekrut lebih banyak anggota tim. Saat ini, ANGIN telah mempunyai tujuh orang karyawan yang mayoritas merupakan konsultan dan analis. Menurut David, angka tersebut akan bertambah menjadi empat belas pada Agustus 2018 nanti.

Menurut David, sebagai perusahaan yang harus menjaga independensi, tantangan terbesar yang harus ia hadapi saat ini adalah soal monetisasi.

read also

“Sadar akan hal itu, kami pun berusaha untuk beroperasi seefektif mungkin sejak awal, dengan jumlah tim yang tidak terlalu banyak. Selain itu, kami pun berusaha untuk lebih kreatif dalam mencari pendapatan,” pungkas David.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close