Kesehatan

Jebakan di tengah Pandemi Covid-19, Penemuan vaksin kian dinantikan.

BTN iklan

LEI,Jakarta- Pemeeintah dalam penanggulangan covid-19 inikembali menuai kritik. Para pakar epidomolog mempersoalkan kebijakan pemerintah yang lebih berfokus kepada pengembangan vaksin ketimbang pencegahan dan pengendalian penularan wabah. Ahli penyebaran penyakit menular dari Griffith University, Dicky Budiman, menilai pengembangan vaksin dan vaksinasi masal memanglah diperlukan.
Ketika wabah terlanjur merebak vaksin maupun obat, menurut Dicky, seharusnya menjadi pelengkap dari strategi utama, yaitu pengetesan pelacakan kontak dan isolasi pasien.

Banyak kesempatan, Presiden Jokowi kerap berbicara mengenai percepatan pengembangan vaksin Covid-19 sebagai solusi mengatasi pandemi. Presiden meminta vaksin masal bisa dimulai pada Januari 2021. Padahal uji klinis vaksin buatan buatan perusahaan asal Cina, Sinovac, di Bandung baru dimulai bulan lalu. Tim Uji klinis dari Universitas padjajaran menyatakan uji coba vaksin tahap ketiga itu membutuhkan waktu 6-7 bulan. Jangan mengandalkan vaksin buatan negara lain saja kita sebagai warga negara lain akan tetapi pemerintah juga harus mendorong pengembangan vaksin lokal, bekerjasama dengan lembaga dan kampus. Prioritas oleh Pemerintah dalam hal pengembangan vaksin itu terjabarkan dalam pembentukan Tim percepatan pengembangan vaksin covid-19 melalui Keputusan presiden nomer 18 thun 2020 yang diteken jokowi pada 3 September lalu.

Ketimbang menanti hasil uji klinis vaksin belum pasti, menurut pemerintah seharusnya mengendalikan strategi 3T yakni testing tracing dan treatment. Metode 3T terbukti bermanfaat untuk melacak rantai penularan sekaligus. Tanpa deteksi dan pelacakan yang akurat menurut Jonson efektivitas program vaksinisasi bisa berkurang.

kontributor : Dwitya Yonathan Nugraharditama

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami