Politik

Jokowi Tidak Aman di Pilpres 2019?

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Pada awal Februari 2018 ini, Lingkaran Survei Indonesia, Denny Januar Ali (Denny JA) merilis hasil survei mengenai Capres dan Cawapres RI pada pemilu 2019 mendatang. Hasil survei LSI bisa dijadikan pegangan untuk prediksi langkah politik para Capres-Cawapres dalam menyiasati isu-isu yang beredar, yang menjadi fokus kali ini adalah Presiden RI ke-7, Presiden Joko Widodo.

Presiden yang akrab disapa Jokowi ini terus menarik perhatian dari kalangan nasional hingga internasional, tidak lain dan tidak bukan adalah karena kinerjanya yang hebat.

Penyebab Jokowi kuat, dikatakan dalam paparan hasilo survei LSI adalah karena:

  1. Elektabilitas Jokowi masih unggul dibandingkan dengan calon-calon lainnya.
  2. Kepuasan terhadap kinerja Jokowi di atas 70%
Posisi Jokowi vs Capres Baru
Posisi Jokowi vs Gabungan Capres Baru (sumber: LSI)
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi (sumber: LSI)
Tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi (sumber: LSI)

Walaupun tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi, tapi ternyata Jokowi belum aman. Tidak seaman SBY pada pilpres beberapa tahun silam. Bahkan LSI memprediksi posisi Jokowi bisa terancam akibat beberapa isu, antara lain:

  1. Publik belum merasa aman terhadap permasalahan ekonomi
  2. Isu primordial berpeluang mewarnai pilpres (akibat beragamnya suku, ras, dan agama di Indonesia)
  3. Merebaknya isu buruh negara asing.

LSI merilis data survei dari tiga hal diatas sebagai berikut:

Publik merasa tidak aman dengan kondisi ekonomi
Publik merasa tidak aman dengan kondisi ekonomi (sumber: LSI)

Isu agama berpotensi warnai pilpres 2019
Isu agama berpotensi warnai pilpres 2019 (sumber: LSI)

Pemisahan agama dan politik
Pemisahan agama dan politik (sumber: LSI)

Isu buruh negara asing di era Jokowi
Isu buruh negara asing di era Jokowi (sumber: LSI)

Publik tidak suka dengan adanya tenaga kerja asing
Publik tidak suka dengan adanya tenaga kerja asing (sumber: LSI)

LSI mengatakan bahwa 3 isu ini menjadi kunci Jokowi untuk menguasai bursa Pilpres 2019, apabila dikelola dengan baik maka isu ini akan berbalik menjadi kekuatan Jokowi.

Lalu bagaimana dengan kompetitor lain? LSI membaginya ke dalam tiga divisi, seperti berikut:

Divisi Pertama
(sumber: LSI)
Divisi Pertama
(sumber: LSI)
Divisi ketiga
(sumber: LSI)

Berkaca para Pilpres Amerika Serikat, kompetisi untuk memperebutkan kursi orang nomor satu di negeri juga ketat. Berdasarkan data 18 kali pemilu presiden terakhir dimana pejawat maju kembali untuk periode kedua, 10 kali pejawat presiden menang dan delapan kali pejawat presiden kalah. Persentase pejawat untuk menang dalam pilpres AS tersebut sebesar 55 persen.

Berdasarkan kasus Indonesia dan AS, 50-55 persen pejawat presiden akan menang. Namun sebesar 45 -50 persen pula pertahana akan kalah. Data statistik ini bisa jadi berita baik atau berita buruk untuk Joko Widodo (Jokowi) selaku pejawat dan penantangnya kelak, tergantung pada pengelolaan isu yang mereka lakukan.

Siapakah yang akan mengisi jabatan orang nomor satu di RI? Apakah Jokowi lagi, atau nama baru?

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami