Opini

Kampung Topeng Harapan Baru Eks Gepeng Malang

BTN iklan

Dua topeng berukuran raksasa dengan karakter Panji Asmorobangun dan Dewi Sekartaji menjadi penanda sekaligus “penerima tamu” bagi siapa saja yang berkunjung ke Kampung Topeng “Desaku Menanti” di Kelurahan Tlogowaru, kawasan pinggiran Kota Malang, Jawa Timur.

Keduanya merupakan karakter dalam seni Topeng Malangan dengan epos Panji. Sebuah seni pertunjukan yang dikenal asli dari Malang. Berwarna hijau dan putih, topeng setinggi 7,5 meter dan lebar 5 meter itu merupakan sebuah ikon baru sekaligus penanda sebagai Kampung Topeng Malang.

Namun, keindahan topeng yang berjajar dengan payung-payung warna warni yang menjadi bagian tujuan wisata di Kota Malang, tidak berbanding lurus dengan kondisi warga setempat. Masalah kemiskinan dan ketidaksejahteraan masih terus menghantui kota itu, meski dari tahun ke tahun persentasenya menunjukkan perkembangan positif dan terus menurun karena inovasi yang dibangun pemerintah setempat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, jumlah penduduk miskin di kota itu dalam kurun waktu lima tahun terakhir mengalami penurunan. Tahun 2016 ada 37 ribu jiwa, turun 3,6 persen jika dibandingkan tahun 2015. Sementara persentase penduduk miskin juga mengalami penurunan 0,27 persen pada tahun 2016 dibanding tahun sebelumnya.

Pada tahun 2015 ada 4,60 persen penduduk miskin di Kota Malang. Pada tahun 2016 pemerintah gencar melaksanakan program-program bantuan bagi masyarakat miskin, seperti program keluarga harapan (PKH), beras untuk rakyat miskin (raskin), program bantuan siswa miskin (BSM), dan lain sebagainya.

Jika jumlah penduduk miskin mengalami penurunan, implikasinya kesejahteraan mereka meningkat yang digambarkan dalam rata-rata pengeluaran. Hal itu tercermin dari data survei sosial ekonomi nasional (susenas).

Pada tahun 2015, pengeluaran per kapita tiap bulan warga Kota Malang sebesar Rp1.260.186. Sedangkan pada tahun 2016 naik menjadi Rp1.355.476 per kapita tiap bulan atau naik 7,56 persen. Dan, rata-rata pengeluaran tersebut didominasi nonmakanan.

Dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, sejak tahun 2015 Kota Malang menduduki peringkat pertama kabupaten/kota dengan persentase penduduk miskin terendah yang pada beberapa tahun sebelumnya diduduki oleh Kota Batu. Hal itu juga dibarengi dengan tingkat inflasi sepanjang tahun 2016 yang berada pada angka terendah dalam lima tahun terakhir, yaitu rata-rata 2,62 persen.

Dalam upayanya menurunkan angka kemiskinan, Pemerintah Kota Malang yang ditopang Kementerian Sosial menggagas program pengentasan kemiskinan bagi anak jalanan, gelandangan dan pengemis yang selama ini beroperasi di wilayah perkotaan, seperti di kawasan lampu merah atau perempatan jalan-jalan protokol.

Gagasan yang cukup cerdas untuk memberdayakan mereka agar tidak terus menerus menggantungkan hidup di jalanan, yakni dengan membuka perkampungan baru yang khusus dihuni oleh mereka (gelandangan, pengemis dan anak jalanan) bersama keluarga masing-masing.

Meski jauh dari hiruk pikuk pusat kota, perkampungan tersebut cukup memadai fasilitasnya, bahkan saat ini menjadi destinasi wisata yang menarik. Perkampungan baru itu adalah “Kampung Seribu Topeng” yang berlokasi di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang.

Sejumlah pejabat dan menteri pun sudah berulang kali mengunjungi Kampung Seribu Topeng tersebut. Banyak bantuan yang mengalir ke kampung tersebut, mulai dari bantuan materi maupun non-materi berupa pelatihan keterampilan serta pendampingan dalam pembelajaran, termasuk belajar agama.

Kampung Seribu Topeng yang pada awalnya menjadi tempat “pengasingan” bagi anak jalanan, pengemis dan gelandangan itu, lambat laun menjadi kampung yang menjadi “jujugan” wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, meski belum dikenal luas seperti halnya kampung-kampung tematik lainnya di Kota Malang, antara lain Kampung Warna Warni, Kampung Arema, Kampung Putih, dan Kampung Glintung.

Kampung Seribu Topeng yang berlokasi di pinggiran kota itu menjadi istimewa karena dihuni oleh keluarga khusus dan orang-orang khusus yang ditempatkan pemerintah secara khusus pula. “Kampung ini dihuni oleh 40 kepala keluarga (KK) yang sebelumnya berprofesi sebagai pengemis, gelandangan maupun anak-anak jalanan. Mereka ditempatkan secara khusus dengan fasilitas yang khusus pula,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Malang Sri Wahyuningtyas.

Ia mengemukakan warga Kampung Seribu Topeng yang juga dikenal sebagai warga “Desaku Menanti” itu merupakan binaan dari Kementerian Sosial (Kemensos). Sebelum ditempatkan seacra khusus di kampung baru itu, mereka mendapatkan berbagai pelatihan keterampilan dan saat ini masih ada pendampingan dari pemerintah maupun relawan.

Kampung Harapan Masa Depan Pada awal dibukanya kampung bagi warga “khusus” itu dan masih dikenal sebagai Kampung Desaku Menanti, fasilitas yang tersedia masih belum selengkap dan sebagus sekarang. Banyak pihak membantu pengembangan dan menyediakan berbagai fasilitas yang dibutuhkan warga, termasuk mempercantik area itu sebagai destinasi wisata tematik.

Tidak sedikit perusahaan yang menyalurkan dana tanggung jawab sosialnya di kampung baru itu, termasuk pendampingan dari berbagai elemen untuk memberdayakan kawasan Kampung Seribu Topeng beserta penghuninya. Mereka diajari berbagai keterampilan sesuai dengan keinginan masing-masing.

Meski lokasi kampung itu berada di lereng perbukitan tak menyurutkan keinginan warganya untuk maju dan meningkatkan finansialnya demi mensejahterakan keluarga. Berbagai usaha mulai dirintis warga Kampung Seribu Topeng. Mulai dari sekedar berjualan kebutuhan sehari-hari, warung makan yang dikemas seperti pujasera serta kerajinan yang dijual sebagai buah tangan (suvenir) bagi pengunjung.

“Setiap hari saya membuat gantungan kunci berbentuk topeng Malangan. Lumayan untuk menyambung hidup dan biaya sekolah anak-anak. Sejak menempati lokasi ini pada akhir 2016, saya meninggalkan dunia jalanan dan berusaha membangun ekonomi baru yang lebih baik dengan bantuan dari Kemensos,” ujar Rahman, salah seorang penghuni Kampung Seribu Topeng Desaku Menanti.

Ia mengakui ditempatkannya dirinya dan keluarga serta 40 KK lainnya di area baru Desaku Menanti itu membuka lembaran baru dan menjadi harapan bagi mereka untuk hidup lebih baik, baik secara finansial maupun mental. “Mudah-mudahan Desaku Menanti ini bisa membawa kami dalam taraf hidup yang lebih baik lagi dan bisa meninggalkan dunia jalanan,” ujarnya.

Tak hanya suvenir gantungan kunci berbentuk topeng Malangan, banyak buah tangan yang bisa dibawa pulang oleh pengunjung, seperti keripik tempe dan buah serta berbagai macam kerupuk yang dijual dari hasil olahan penghuni Kampung Topeng di Desaku Menanti tersebut.

Di Kampung Desaku Menanti ini juga menjadi satu di antara pertumbuhan perekonomian di Kota Malang. “Di kawasan itu ada satu rumah yang dibuat sebagai home industry yang diberi nama Bengkel Kerja. Warga tidak hanya asal menempati saja, tetapi mereka juga harus menghasilkan pendapatan. Ada yang membuat rempeyek, snack dan berbagai macam makanan ringan.

Konsepnya, warga binaan akan bekerja dan langsung digaji oleh perusahaan yang memberi pekerjaan. Namun, pihak Dinsos juga terus memantau perkembangan dari warga binaan yang ditampung di kampung itu.

Untuk menunjang pengembangan dan kebutuhan primer sekitar 150 jiwa yang tinggal di kawasan itu, pemerintah mengucurkan anggaran Rp1,7 miliar, bahkan seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Malang juga terlibat, mulai dari PDAM, Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), serta Dinas PUPR.

Pemerintah pusat melalui Kemensos mengucurkan anggaran untuk pembangunan rumah warga di kampung baru tersebut. Sedangkan Pemkot Malang menyediakan lahan seluas 5.000 meter persegi serta pendampingan sebelum mereka benar-benar dilepas dan mandiri, tanpa menggantungkan bantuan pemerintah.

Kampung Topeng Desaku Menanti yang dulu masih menjadi pilihan alternatif bagi wisatawan, kini mulai menggeliat setelah sektor wisatanya secara perlahan terus berbenah. Selain ratusan topeng berukuran kecil beragam warna dan karakter digantung di pepohonan rindang, tangga berundak penuh payung melindungi siapapun yang berkunjung ketika mereka naik ke perbukitan.

Wahana flying fox, tempat tidur gantung sampai taman bermain menjadi area menarik dan sayang jika dilewatkan. “Lama-lama lokasi ini (Kampung Topeng) kan ramai dan bisa menjadi tempat kami menggantungkan harapan masa depan, khususnya secara ekonomi,” kata warga Kampung Topeng lainnya, Diana.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

seventeen − fourteen =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami