Tekno

Karena Masyarakat Indonesia tak Cerdas Bermedia, Mudah Termakan Berita HOAX

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Kasus penangkapan jaringan Saracen yang dilakukan kepolisian, berhasil membongkar adanya kelompok penyebar konten ujaran kebencian bernada suku, agama, dan antargolongan (SARA) di media sosial. Kelompok yang diketahui telah eksis sejak November 2015 ini memiliki sekitar 800 ribu akun di dunia maya.

Pengamat Komunikasi UIN Jakarta, Rachmat Baihaky menjelaskan, bahwa pekembangan teknologi komunikasi sejatinya tidak bisa dibendung. Untuk itu, pengguna media sosial dituntut tidak hanya mampu, tapi juga cerdas menggunakan teknologi.

“Banyak masyarakat yang termakan berita hoax, salah satunya karena ketidakcerdasan bermedia,” ujar Baihaky.

Selain itu, lanjut Baihaky, dibutuhkan peran pemerintah dalam meminimalisir peristiwa serupa terulang. “Peran pentingnya justru bukan sekadar melalui perangkat Undang-undang, tapi peran pentingnya bagaimana mencerdaskan masyarakat.

Karena semakin masyarakat cerdas, maka secara otomatis semakin besar peluang mereka untuk memilah dan memilih, menyebar atau mengkonsumsi informasi.” terangnya.

“Kalau yang diupayakan adalah perangkat hukum, nah seperti sekarang ini,” tambahnya.

Diketahui, kelompok Saracen tersebar di berbagai daerah. Mereka yang terciduk adalah RK di Jakarta, RY (36) di Bukittinggi, LMFT (43) di Jakarta Utara, SRN (32) di Cianjur, dan JAS (32) di Pekanbaru.

Kelompok ini diduga mengeruk keuntungan dengan cara memprovokasi berita-berita bohong (hoax) yang diproduksi secara terus menerus sesuai pesanan. Mereka menyebarkan konten-konten yang mengandung ujaran kebencian dan bernuansa SARA.

Selain itu, rata-rata pengguna media sosial aktif Indonesia menggunakan ponsel pintar (smartphone) sebagai sarananya, jangan sampai ungkapan “Ponselnya smart, tapi penggunanya tidak smart” terjadi di Indonesia.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

One Comment

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami