BTN ads
Internasional

KBRI Selamatkan Dua WNI dari Hukuman Mati di Arab Saudi

RIYADH (LEI) – Dua warga negara Indonesia (WNI) asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sumiyati binti Muhammad Amin dan Masani binti Syamsuddin Umar lolos dari hukuman mati setelah Pengadilan Banding menolak tuntutan qisas terhadap keduanya. Keduanya mengucapkan terimakasih kepada Presiden Joko Widodo dan Duta Besar dan para Diplomat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh yang menaruh perhatian besar terhadap nasib para WNI yang sedang terkena kasus hukum di Arab Saudi.

Berdasarkan keterangan pers kementerian luar negeri Senin (4/6/2018), kasus hukum Sumiyati dan Masani bermula saat keduanya ditangkap aparat kepolisian Saudi pada 27 Desember 2014 atas tuduhan bersekongkol melakukan sihir/santet sehingga anak majikan menderita sakit permanen. Keduanya juga dituduh bersekongkol membunuh ibu majikan mereka dengan cara menyuntikkan zat lain yang dicampur dengan insulin ke tubuh ibu majikan yang menderita diabetes sehingga menyebabkan korban meninggal dunia.

KBRI Riyadh melakukan pendampingan intensif bagi kedua WNI dalam menjalani proses hukum di persidangan dan secara rutin melakukan kunjungan penjara untuk membekali keduanya dalam menghadapi proses pemeriksaan persidangan.

Pada sidang ke-10 pada 2016, Pengadilan Pidana kota Dawadmi memutuskan perkara kasus sihir dengan menjatuhkan hukuman ta’zir (Cambuk), dan hukuman penjara selama 1,5 tahun untuk Sumiyati dan 1 tahun untuk Masani. Putusan tersebut didasarkan bukti pengakuan kedua WNI saat di penyidikan yang dilegalisasi pengadilan.

Pengadilan memutuskan untuk menolak tuntutan qisas terhadap kedua WNI karena salah seorang ahli waris mencabut hak tuntutan qisas terhadap Sumiyati dan Masani tanpa menuntut kompensasi apapun.

Dubes Indonesia untuk Arab Saudi, Agus Maftuh Abegebriel menjelaskan bahwa sebuah tuntutan qisas harus dilakukan secara konsensus di antara para ahli waris korban dan tidak boleh ada pendapat yang berbeda di antara mereka. Apabila ada salah satu anggota keluarga mencabut hak itu, maka tuntutan tersebut menjadi gugur. Hal itu diatur dalam ketentuan “al-Tasyri’ al-Jina’iy” atau hukum pidana Islam.

Namun, pihak keluarga lain bersikukuh untuk menuntut hukuman qisas terhadap kedua WNI bersaudara itu dan mengajukan banding atas putusan pengadilan. Akhirnya, di penghujung 2017, pengadilan memutuskan untuk menolak banding keluarga sekaligus tuntutan qisas kepada Sumiyati dan Masani.

Setelah melalui proses pencabutan tindakan pencegahan kedua WNI keluar dari Arab dan pengajuan proses exit permit dari kantor imigrasi, Sumiyati dan Masani akan dipulangkan ke Indonesia. Kepulangan mereka akan didampingi langsung oleh Atase Hukum KBRI Riyadh, Muhibuddin Thaib.

Berkaca dari kasus hukum kedua WNI tersebut, penanganan permasalahan hukum WNI khususnya kasus hukuman mati akan sangat efektif apabila sejak awal proses penyidikan kasusnya dapat dilacak. Karena itu dibutuhkan sikap proaktif dan ke depan perlu adanya penguatan para diplomat ahli hukum pidana Islam untuk pendampingan masalah-masalah hukum yang banyak menimpa ekspatriat Indonesia di Arab Saudi ini. (okezone)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close