Internasional

Kecil Saingan, El-Sisi Diperkirakan Unggul di Pilpres Mesir

BTN iklan

Jakarta, (LEI) — Rakyat Mesir mengikuti pemilihan presiden yang diperkirakan bakal dimenangkan dengan mudah oleh petahana Presiden Abdel Fattah El-Sisi.

El-Sisi, 63 tahun, adalah pemimpin kudeta militer Mesir yang menggulingkan Mohammed Mursi, presiden pertama yang terpilih secara demokratis pada 2013.

Dia berusaha mendapatkan empat tahun masa jabatannya yang kedua, setelah yang pertama dia sebut berhasil membawa stabilitas dan keamanan di Mesir.

Satu-satunya penantang El-Sisi dalam pemilihan yang bakal digelar 26-28 Maret ini adalah Moussa Mostafa Moussa, pendukung lawasnya yang disebut-sebut sebagia penantang pura-pura.

Seperti dilansir Al Arabiya, Partai Moussa, Partai Ghad sebenarnya mendukung El-Sisi untuk masa jabatan kedua, sebelum Moussa muncul di detik-detik terakhir sebagai penantang.

Moussa membantah tuduhan bahwa dia dipakai untuk menampilkan persaingan yang palsu. Komisi pemilihan menyatakan bahwa mereka akan menjamin pemungutan suara bakal berlangsung adil dan transparan.

Tokoh-tokoh oposisi mengeluhkan respresi dan menyerukan boikot terhadap pemilihan.

Namun banyak warga Mesir melihat bahwa El-Sisi, mantan jenderal yang bersekutu dengan Amerika Serikat itu, penting bagi stabilitas negara, sejak kerusuhan 2011 telah berdampak buruk bagi perekonomian.

Jika angka partisipasi kurang dari perkiraan, maka hal itu bisa dianggap sebagai kurangnya mandat bagi El-Sisi untuk membangkitkan ekonomi.

Lewat sebuah tajuk di media pemerintah Al-Ahram diakui bahwa meski sedikit pilihan, pemilihan presiden mengindikasiakn Mesir mendapatkan kembali kekuatannya untuk menghadapi ancaman domestik dan asing saat ini.

“Pentingnya pemilihan presiden kali ini bukanlah persaingan sengit atau pertarungan (pemilihan) yang nyata, tetapi sebuah pesan kepada dunia bahwa Mesir sedang dalam perjalanan menuju fase pemulihan,” tulis Al Ahram seperti dilansir Reuters.

Mesir dengan populasi 84 juta orang adalah negara terbesar di dunia Arab dan memainkan peran penting dalam politik Timur Tengah di era modern.

Kritik menyatakan popularitas El-Sisi turun sejak dia terpilih pada 2014 akibat reformasi penghematan, pembungkaman lawan-lwan politik, aktivis dan media indepeden.

Pengadilan Mesir juga telah menjatuhkan hukuman mati bagi ratusan pendukung Al Ikhwan Al Muslimun, gerakan yang mendukung mantan Presiden Mursi yang terguling sejak 2013.

Para pendukung El-Sisi, termasuk negara-negara Barat dan sebagian besar dinasti Teluk Arab menyatakan langkah-langkah diperlukan untuk menjaga agar Mesir tetap stabil, sambil memulihkan diri dari kekacauan politik dan memberantas pemberontakan Islam di Semenanjung Sinai.

Tak ada kandidat yang cukup berkampanye. El-Sisi memenangkan hampir97 persen suara pada 2014, tapi dengan partisipasi kurang dari separuh pemilih, meski pemilihan digelar tiga hari.

Beberapa tokoh oposisi menyerukan boikot terhadap pemilihan presiden setelah semua kampanye oposisi mundur akibat tekanan.

Pesaing utama El-Sisi, mantan kepala staf militer Sami Annan ditangkap dan menghentikan pencalonannya sebagai presiden setelah militer menuduhnya mencalonkan diri tanpa izin dari kantor.

Bahkan sebelum kampanye resmi digelar, Perserikatan Bangsa-bangsa, aktivis hak asasi manusia (HAM) dan tokoh oposisi mengkritik pemilihan yang diwarnai penangkapan, intimidasi terhadap oposisi, dan proses nominasi yang tampak berpihak pada petahana.

El-Sisi diperkirakan bakal memiliki pendukung di parlemen yang mengusulkan amandemen konsitusi guna menghapus masa jabatan presiden. Sisi telah menyatakan dia tidak akan mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga. (cnn)

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close