FinansialLiputanNasional

Kenaikan Suku Bunga AS Mengakibatkan Rupiah Tertekan

BTN iklan

Jakarta/Lei-  Mata uang rupiah diperkirakan mengalami tekanan akibat adanya perkiraan terkait wacana kenaikan suku bunga di Amerika Serikat yang bakal dilakukan bank sentral AS atau The Fed ke depannya.

“Ekspektasi(perkiraan) kenaikan suku bunga AS di bulan Desember semakin meningkat. Rupiah, seperti banyak mata uang pasar berkembang lainnya, merasakan dampak dari pergeseran sentimen ini,” kata Research Analyst FXTM Lukman Otunuga di Jakarta, Jumat.

Menurut Lukman Otunuga, pada pekan ini perdagangan dinilai terasa suram untuk mata uang pasar berkembang.

Ia memaparkan hal tersebut karena sebagian besar mata uang mengalami tekanan jual tinggi karena menguatnya nilai mata uang dolar AS.

Namun, lanjutnya, meski rupiah melemah terhadap dolar di jangka pendek, fundamental makro Indonesia yang semakin stabil seharusnya akan mendukung rupiah pada jangka yang lebih panjang.

Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Kamis (28/9) sore, bergerak melemah 101 poin menjadi Rp13.546 dibandingkan sebelumnya pada posisi Rp13.445 per dolar AS.

Analis PT Platon Niaga Berjangka Lukman Leong di Jakarta Kamis mengatakan bahwa faktor eksternal, terutama dari Amerika Serikat menjadi faktor utama nilai tukar rupiah mengalami depresiasi cukup dalam.

Kendati demikian, lanjut Lukman Leong, depresiasi rupiah terhadap dolar AS pada Kamis (28/9) dinilai masih wajar. Apalagi, Bank Indonesia juga berada di pasar untuk menjaga fluktuasi rupiah sesuai dengan fundamentalnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia menilai melemahnya kurs rupiah dalam beberapa hari terakhir disebabkan reaksi pasar menyusul rencana pemerintah Amerika Serikat menurunkan pajak dan juga pernyataan Gubernur Bank Sentral AS yang cenderung “hawkish” terkait membaiknya perekonomian di AS.

Menurut pejabat BI di Jakarta, Kamis (28/9), sentimen dari AS itu juga tidak hanya melemahkan rupiah, namun juga sebagian besar mata uang negara-negara di kawasan.

Kurs rupiah yang menurun 0,45 persen, masih lebih baik dibandingkan Yen Jepang yang melemah 0,60 persen.

“Penyebabnya lebih karena menguatnya dolar AS dikarenakan antara lain pernyataan Yellen yang cenderung ‘hawkish’ dan rencana reformasi pajak AS,” kata Asisten Gubernur BI Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Dody Budi Waluyo kepada Antara.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami