Opini

Kenduri Ketupat Dalam Halal Bihalal dei Blitar

BTN iklan
   Oleh Tunggul Susilo.
Blitar, Lei, Ant – Tradisi Lebaran Ketupat yang berkembang di Indonesia pada bulan Syawal 1438 Hijriah umumnya dilaksanakan pada hari Sabtu (1/7) atau Minggu mulai pagi hari dengan menghidangkan menu kupat sayur beserta kelengkapan lauk-pauk lainnya.

Tak terkecuali di desa-desa wilayah Kabupaten Blitar hingga di Kota Blitar, warga, khususnya umat Islam, menyiapkan masakan ketupat dengan berbagai lauk-pauk pelengkapnya, termasuk bubuk kacang dan sambal khas untuk dihidangkan kepada tamu.

Seperti yang dilakukan oleh Ny. Widyorini Utami, warga Perumahan Pondok Delta, Kelurahan Kaweron, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, yang menghidangkan masakan ketupat untuk keluarga dan tamunya.

Ratusan kepala keluarga di perumahan yang secara administrasi masuk lingkungan Jengglong, Kelurahan Kaweron tersebut juga menyiapkan masakan ketupat lengkap, masing-masing KK dalam dua wadah (kreyeng, red.) untuk acara halalbihalal dalam kenduri di Masjid Al Muwahidin di kompleks perumahan tersebut, Sabtu (1/7) petang sesudah Salat Magrib.

Pada acara halalbihalal dalam “Kenduri Ketupat” itu, juga dihadirkan juru dakwah Kiai Adam Malik yang akrab disapa Gus Malik dari Dusun Klepon, kawasan Pasar Kutukan, Desa Sidodadi, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.

Gus Malik mengawali “Mau’idhoh Hasanah” atau pemberian nasihat atau bimbingan untuk kebaikan itu dengan mengulas asal usul halalbihalal (KBBI) atau masyarakat biasa menuliskan “halal bi halal” yang merupakan “produk” khas asal Indonesia.

Disebutkan bahwa istilah “halal bi halal” dicetuskan oleh K.H. Abdul Wahab Chasbullah setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945. Diceritakan bahwa hingga sekitar tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elite politik bertengkar, tidak bisa duduk dalam satu forum. Sementara itu, pemberontakan terjadi di mana-mana, di antaranya DI/TII di Jawa Barat, PKI di Madiun, Jawa Timur.

Penjelasan Gus Malik tersebut sama dengan yang disampaikan K.H. Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, dalam tulisan berjudul “K.H. Wahab Chasbullah Penggagas Istilah ‘Halal Bihalal'” yang disiarkan laman www.nu.or.id.

Pada tahun 1948, saat pertengahan bulan Ramadan, Bung Karno memanggil K.H. Wahab Chasbullah ke Istana Negara untuk dimintai pendapat dan sarannya guna mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat.

Kiai Wahab kemudian memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahmi. Hal itu juga karena pada masa tersebut menyongsong Idulfitri, dan umat Islam disunahkan bersilaturahmi.

Akan tetapi, Bung Karno menjawab, “Silaturahmi ‘kan biasa, saya ingin istilah yang lain.” “Itu gampang,” jawab Kiai Wahab.

“Begini, para elite politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu ‘kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), harus ‘dihalalkan’. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Dalam silaturahmi digunakan istilah ‘halal bi halal'”, ujar Kiai Wahab saat itu.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Idulfitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara guna menghadiri silaturahmi bertema “Halal bi Halal”. Mereka akhirnya bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan halalbihalal yang kemudian diikuti juga oleh warga secara luas, terutama masyarakat Muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama.

Bung Karno bergerak melalui instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah. Jadilah halalbihalal sebagai kegitan rutin dan budaya Indonesia saat Idulfitri seperti sekarang.

Kegiatan halalbihalal sebenarnya sudah dimulai sejak zaman K.G.P.A.A. Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idulfitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara raja dan para punggawa serta prajurit secara serentak di balai istana.

Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Budaya seperti ini kemudian ditiru oleh masyarakat luas, termasuk organisasi keagamaan dan instansi pemerintah. Akan tetapi, itu baru kegiatannya, bukan nama dari kegiatannya. kegiatan seperti dilakukan Pangeran Sambernyawa belum menyebutkan istilah halalbihalal meskipun esensinya sudah ada.

Istilah halalbihalal ini secara nyata dicetuskan oleh K.H. Wahab Chasbullah dengan analisis pertama (thalabu halal bi thar�qin hal�l) adalah mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan; atau dengan analisis kedua (hal�l “yujza’u” bi hal�l) adalah pembebasan kesalahan dibalas pula dengan pembebasan kesalahan dengan cara saling memaafkan.

Pada halalbihalal di Masjid Al Muwahidin yang dikemas dalam “Kenduri Ketupat” itu, warga yang masing-masing membawa dua wadah kreyeng masakan ketupat, duduk melingkar memenuhi serambi masjid tersebut.

Setelah mendengarkan “Mau’idhoh Hasanah” yang disampaikan Kiai Adam Malik, dilanjutkan doa, lalu “berkat” kenduri masakan ketupat pun dibagikan kepada semua warga yang hadir, termasuk undangan. “Berkat” kenduri ketupat tersebut kemudian dibawa pulang untuk dinikmati di rumah masing-masing.

Menurut Ustaz Suratman, Takmir Masjid Al Muwahidin selaku ketua panitia, tradisi Kenduri Ketupat dalam halalbihalal di masjid itu berkembang sejak 1990-an.

Halalbihalal dalam Kenduri Ketupat itu terutama berkembang di masjid wilayah kota atau yang masyarakatnya umumnya pegawai, pekerja, tidak hanya tani.

Masyarakat di Perumahan Pondok Delta itu awalnya setiap usai Idulfitri mengadakan halalbihalal dengan disediakan aneka kue. Akan tetapi, kegiatan itu berjalan beberapa tahun, masyarakat yang hadir makin sedikit.

Oleh karena itu, takmir masjid dan tokoh masyarakat setempat kemudian mengikuti tradisi di masjid-masjid lain, yakni mengadakan halalbihalal di masjid sekaligus selamatan atau kenduri dengan membawa masakan ketupat. Selanjutnya, dibagi-bagikan dan dinikmati.

Menurut Ustaz Shohibul Fauzi, salah seorang imam di Masjid Al Muwahidin, tradisi Kenduri Ketupat dalam halalbihalal tersebut dari tahun ke tahun makin berkembang, hampir semua warga Muslim di perumahan tersebut mengikutinya karena mereka menganggap kegiatan tersebut sesuai dengan keinginan warga.

“‘Kan warga selama ini biasa menyiapkan hidangan ketupat seusai Idulfitri. Jika sebelumnya hidangan ketupat hanya untuk suguhan tamu dan keluarga, melalui kenduri ini ada manfaat lebih, yakni kebersamaan masyarakat dan didoakan juga. Tradisi Lebaran Ketupat ini ibaratnya mendapatkan tempat melalui kenduri yang disertai doa,” ujar Ustaz Fa, sapaan akrab Shohibul Fauzi didampingi Ustaz Suyono.


 

 

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

11 − 5 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami