EkonomiHukum

‘Kerajaan’ Hardys Runtuh, Dinyatakan Pailit dengan Utang Capai Rp 2 Triliun

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Memasuki 2017 akhir, makin banyak retail yang bertumbangan, kali ini kabar pailitnya PT. Hardys Retailindo cukup menghentakkan publik di Bali. Hal itu dibeberkan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Provinsi Bali.

Aprindo pun sangat menyayangkan dan turut prihatin terjadinya kepailitan PT Hardys Retailindo, yang kini diakusisi PT Arta Sedana Retailindo. Selama ini, Hardys merupakan salah satu brand ritel terbesar di Bali, yang memiliki ribuan karyawan dan belasan gerai tersebar di seluruh pelosok Pulau Bali, bahkan sampai ke Mataram dan Jawa Timur.

“Kami di Aprindo Bali kaget, saat mendengar berita ihwal pailitnya Hardys yang diputuskan oleh pengadilan niaga,” kata Sekretaris Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Provinsi Bali, I Made Abdi Negara, saat ditemui di Aeropark, Gianyar, Minggu (19/11).

Namun pihak Aprindo Bali meminta para pengusaha ritel di Bali tidak perlu panik atau cemas dengan kasus pailit yang terjadi pada Hardys.

“Jangan panik, tertekan, atau takut saat mengalami hal serupa karena malah bisa semakin terpuruk, orang tertekan dan ketakutan tidak akan mampu berpikir jernih apalagi berpikir strategis,” ujarnya.

PT Hardys Retailindo, PT Grup Hardys, dan I Gede Agus Hardiawan sendiri dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga Surabaya dalam sidang yang terbuka untuk umum pada 9 November 2017.

Di dalam website Pengadilan Niaga Surabaya, PT Hardys Retailindo, PT Grup Hardys dan I Gede Agus Hardiawan selaku debitor mengajukan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang), dengan Termohon; Megasari dan Ni Ketut Murni. Namun dalam PKPU selama 45 hari terhitung sejak diberikannya PKPU tersebut tidak tercapai perdamaian. Sehingga para pemohon dinyatakan pailit dengan segala akibat hukumnya.

Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya yang diketuai Anne Rusiana SH juga sudah menunjuk tiga kurator. Selanjutnya Putusan Pengadilan Niaga pada PN Surabaya No.29/Pdt.Sus-PKPU/2017/PN Niaga Sby juga menetapkan jadwal Rapat Kreditor Pertama pada Rabu (22/11) di Pengadilan Niaga pada PN Surabaya. Batas akhir pengajuan tagihan kreditor selambat-lambatnya Kamis (30/11) hingga Rapat Pencocokan Piutang Kreditor dan batas akhir verifikasi utang pajak pada Selasa (19/12) di Pengadilan Niaga pada PN Surabaya.

MATAHARI DEPT. STORE PUN MENGEKOR

Tak hanya Hardys, baru-baru ini raksasa PT Matahari Departement Store juga mengumumkan hal yang mengejutkan terkait penutupan gerainya dibeberapa titik di Jakarta. Fenomena inipun cukup menyita perhatian publik, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) kembali menutup gerai Matahari Department Store (MDS). Kali ini, gerai MDS cabang Taman Anggrek dan MDS Lombok City Center yang akan berhenti beroperasi.

Kemudian, pada tanggal 16 November 2017 lalu, mereka mengirim surat kepada para pemasok, manajemen LPPF menyatakan, gerai MDS Taman Anggrek ditutup karena ada perubahan tata letak dari pihak pengelola mal.

Hal ini dianggap tak menguntungkan untuk bisnis ke depannya.

Sedangkan penutupan gerai MDS Lombok City Center karena buruknya sales performace toko tersebut, akibat dari customer traffic yang sangat rendah. Penutupan kedua toko yang masih akan beroperasi hingga bulan depan ini, menambah panjang daftar gerai yang gulung tikar.

Sebelumnya, LPPF menutup gerai MDS di Pasaraya Manggarai dan Pasaraya Blok M per September lalu. Miranti Hadisusilo, Direktur Legal dan Sekretaris Perusahaan PT Matahari Department Store Tbk, membenarkan rencana penutupan dua gerai ini.

“Benar ada penutupan karena sewanya tidak kami perpanjang,” ujarnya, Jumat (17/11). Mengenai nasib para karyawan, manajemen LPPF berjanji akan mengalihkan mereka ke gerai terdekat dari kedua toko yang ditutup itu. Sayangnya, Miranti tidak menyebut berapa jumlah karyawan yang akan dipindah tersebut.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami