Opini

Kesempatan Masa Depan Ekonomi Hindia

BTN iklan

JAKARTA, (LEI/Antara) – Samudera Hindia merupakan masa depan, setidaknya hal itulah yang tercermin dalam perkataan Presiden Joko Widodo dalam kata sambutannya dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asosiasi Negara Lingkar Samudera Hindia (IORA), 5-7 Maret.

Indonesia hindia, pengaruh negara, zona ekonomi, cina selatan“Di Indonesia kami percaya bahwa kawasan Samudera Hindia pada saat ini sedang berkembang menjadi salah satu poros kunci di dalam perhelatan dunia,” kata Presiden Joko Widodo dalam sambutannya di “Leaders Summit” yang merupakan bagian dari KTT IORA tersebut.

Mengapa Samudera Hindia dikatakan sedang berkembang? Hal tersebut karena disadari Presiden, bahwa selama ratusan tahun, Samudera Atlantik yang mendominasi perhelatan dunia.

Kemudian, ujar Jokowi, dalam 30 tahun terakhir, seiring dengan berkembangnya negara-negara di kawasan Asia Timur, maka banyak pihak yang menyatakan masa ini sebagai “The Pacific Century”.

“Namun, kami percaya bahwa saat ini, Samudera Hindia berada di ambang suatu keperkasaan, dengan perkembangan masyarakat-masyarakat besar dan ekonomi-ekonomi yang semakin berperan,” katanya.

Sejumlah kawasan yang termasuk di dalam lingkaran Samudera Hindia tersebut antara lain adalah Afrika Timur, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Australia.

Untuk itu pula, Jokowi juga menyebutkan bahwa komunitas IORA merupakan komunitas yang unik dan mempunyai “tapak yang raksasa”.

“Sebuah kawasan yang sekaligus kaya, tapi dengan banyak kantong-kantong kemiskinan. Sebuah kawasan yang kaya dengan tradisi, tapi harus kita akui, memerlukan modernisasi di banyak aspek,” tutur Presiden.

Selain itu, Samudera Hindia merupakan 70 persen jalur perdagangan dunia, termasuk jalur distribusi minyak dan gas. Bahkan lebih dari setengah kapal kontainer dan dua per tiga kapal tanker minyak dari seluruh dunia melewati kawasan ini.

IORA mencakup kurang lebih 2,7 miliar penduduk atau sebanyak 35 persen penduduk dunia. Namun, perannya baru sebesar 12 persen dari pangsa pasar dunia, 10 persen PDB global, dan 13 persen tujuan penanaman modal asing (PMA).

Tercatat, sebesar 96 persen perdagangan intra-IORA dikuasai enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, India, Indonesia, Australia, dan Afrika Selatan.

Beberapa negara yang tengah menjadi perhatian penting Pemerintah Indonesia dalam hal perdagangan adalah Bangladesh, Kenya, Mozambik, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Sebanyak 21 negara anggota IORA adalah Afrika Selatan, Australia, Bangladesh, India, Indonesia, Iran, Kenya, Komoro, Madagaskar, Malaysia, Mauritius, Oman, Seychelles, Singapura, Somalia, Sri Lanka, Tanzania, Thailand, Uni Emirat Arab, dan Yaman.

Selain itu, IORA juga memiliki tujuh mitra dialog yang terdiri atas Amerika Serikat, China, Inggris Raya, Jepang, Jerman, Mesir, dan Prancis.

Optimistis Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Sasmito Hadi Wibowo optimistis bahwa Kementerian Perdagangan akan mampu menyasar pangsa pasar baru di kawasan IORA tersebut.

“Setiap negara yang menjadi anggota IORA merupakan pasar potensial bagi Indonesia terlebih sekitar 70 persen perdagangan dunia melewati Samudera Hindia,” kata Hadi di Jakarta, Kamis (9/3).

Menurut dia, sejauh ini Indonesia berorientasi penjualan produk ke kawasan Amerika, Asia Utara, Jepang, China dan Eropa sehingga potensi perdagangan di IORA belum tergarap optimal.

Hadi mengatakan potensi perdagangan Indonesia di kawasan negara IORA tidak akan secara langsung meningkatkan ekspor namun harus melakukan pengenalan produk terlebih dahulu.

Hal tersebut, jelasnya, karena Indonesia dapat memasarkan produk unggulan seperti kopi, karet, elektronik, teksti, buah-buahan dan barang pecah belah di pasar baru kawasan Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika.

Ia juga menggambarkan Afrika memiliki pasar yang besar meskipun pendapatan secara umum lebih rendah dibanding Indonesia, sedangkan Timur Tengah memiliki pendapatan yang tinggi.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Kementerian Koordinator Maritim Arif Havas Oegroseno menyatakan hasil pertemuan IORA yakni Jakarta Concord dapat memperluas pangsa pasar ekspor Indonesia.

“Jakarta Concord akan mempermudah penetrasi ekspor Indonesia di negara Afrika dan Asia Selatan,” kata Havas.

Havas menuturkan kesepakatan Jakarta Concord akan meningkatkan profil Indonesia di kawasan Afrika sehingga memudahkan peningkatan perdagangan Indonesia.

Dia juga menyatakan kemampuan Indonesia pada bidang kemaritiman diakui negara di kawasan IORA yang menguntungkan untuk kepentingan perdagangan Indonesia.

Pemerintah Indonesia juga akan mengusulkan jaringan pelabuhan di kawasan Samudera Hindia yang memudahkan akses ke sejumlah pelabuhan di negara Afrika.

Jaringan pelabuhan itu dikatakan Havas akan diperkuat sistem bea cukai pada seluruh pelabuhan kawasan Samudera Hindia termasuk penentuan tarif dan nilai investasi.

Havas menambahkan kesuksesan tujuan Jakarta Concord juga akan diperkuat dengan sinergisitas antarlembaga pemerintah seperti Kementerian Perdagangan dan BKPM, serta kerjasama bilateral antarnegara.

Keuntungan Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan mayoritas anggota IORA merupakan negara berkembang yang menjadi keuntungan bagi Indonesia karena rata-rata pertumbuhan ekonomi dan inflasi tinggi.

Enggar mengungkapkan sebanyak 21 kamar dagang anggota IORA sepakat dan merumuskan 11 pokok pikiran yang dituangkan melalui “Action Plan” dengan merujuk terhadap pemberdayaan UMKM.

Sejauh ini, tercatat potensi ekspor Indonesia ke Afrika mencapai 550 miliar olar Amerika Serikat namun realisasi sekitar 4,2 miliar dolar AS, sedangkan pasar Timur Tengah sebesar 975 miliar Dolar AS yang tercapai sekitar 5 miliar dolar AS pada 2016.

Direktur Eksekutif Center of Maritime Studies for Humanities, Abdul Halim mengingatkan, Indonesia saat ini merupakan surga sumber daya kelautan dan perikanan bagi negara-negara IORA yang berada di Samudera Hindia sehingga perlu dipastikan sumber daya tersebut dapat dijaga secara berkelanjutan.

“Indonesia mesti mendesak 21 negara anggota IORA untuk memastikan pemanfaatan sumber daya ikan di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia harus mematuhi regulasi nasional,” kata Abdul Halim.

Pemberdayaan Dalam KTT IORA juga terdapat “Business Summit” di mana perwakilan pebisnis dari negara-negara anggota IORA juga menyoroti sejumlah hal penting terkait aktivitas perekonomian, seperti peningkatan sektor infrastruktur digital dan pemberdayaan kaum perempuan.

“Pemerintahan-pemerintahan perlu memperkuat infrastruktur digital agar kawasan lebih kompetitif,” kata Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani di Jakarta, Selasa (7/3).

Rosan Roeslani juga memaparkan, peningkatan daya saing kawasan Samudera Hindia merupakan hal yang penting dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif guna menyejahterakan warga.

Salah seorang pembicara, CEO CIMB Group Tengku Dato Sri Zafrul Aziz yang berasal dari Malaysia mengatakan, hanya sekitar 46 persen wanita di kawasan Asia Tenggara yang memiliki rekening bank, sedangkan lebih kecil lagi perempuan yang mendapatkan akses kepada pinjaman perbankan.

Sementara itu, CEO Austrade Australia Stephanie Fahey mengingatkan bahwa dengan inovasi digital yang kerap disebut sebagai era revolusi industri 4.0, warga masyarakat juga bisa melakukan transfer dana hanya dengan menggunakan telepon seluler tanpa harus memiliki atau membuka rekening bank.

“Pengembangan transdigital masa depan juga dapat menciptakan kesempatan bagi kaum perempuan,” katanya.

Stephanie Fahey juga menyatakan, aspek pendidikan juga merupakan hal yang penting, terutama untuk mengajak wanita untuk menempuh jalur pendidikan di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.

Sedangkan Presiden Black Business Council Afrika Selatan Danisa Baloyi menyatakan sepakat bahwa inovasi digital seperti perkembangan teknologi seluler mengubah nasib banyak warga.

“Jika Anda melihat benua Afrika, ponsel telah mengubah kehidupan sehingga semakin memudahkan masyarakat untuk berkomunikasi dan bertransaksi di banyak daerah pedesaan,” katanya.

Beragam informasi tersebut juga perlu dikaji dan ditelaah lebih mendalam bagi pengambil kebijakan, agar Indonesia juga dapat memanfaatkan secara optimal keuntungan sektor perekonomian di Samudera Hindia yang diprediksi merupakan masa depan ini.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close