NasionalTraveling

Ketika Keadilan dan Kegilaan Sulit Dibedakan

BTN iklan

Jakarta/Lei – “Ketika Keadilan dan Kegilaan Sulit Dibedakan.”   Kalimat yang tertulis dalam lembar promosi pentas Teater Gandrik berjudul Hakim Sarmin. Pemerintah saat ini memang sudah seharusnya bercermin dari sosok Hakim Sarmin ketika keadilan dan kegilaan sulit dibedakan.

“Cuman gara-gara pilkada kegilaan merajarela di masyarakat ini” kata Hakim Sarmin.

“saya bingung kenapa banyak banyak orang yang gila tetapi merasa dirinya sehat,” ujar dokter

“Hakim Samin mundur-mundur, coba sebutkan menteri kabinet sekarang?” tanya dokter.

“Satu Fadli Zon, dua Fakri Hamzah, tiga Ahmad dhani,” balas Hakim Sarmin.

“Semua ini dilakukan demi bangsa dan negara. Revolusi mental tanpa revolusi hukum adalah omong kosong.,” kata hakim Sarmin dalam rapat gelap bersama hakim lainnya di Pusat Rehabilitasi Hakim Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sumber Waras.

“Kami ini pura-pura gila. Saya terpanggil untuk memperbaiki masyarakat. Lebih baik mengalami ketidakadilan daripada melakukan ketidakadilan,” ujar hakim Sarmin.

Begitulah salah satu adegan dalam pentas Teater Gandrik. Teater Gandrik menghibur ratusan penonton di Taman Ismail Marzuki, Kamis (6/4). Hakim Sarmin dipentaskan di Jakarta 2 hari berturut-turut pada 5 April dan 6 April. Pementasan Hakim Sarmin dari naskah karya Agus Noor. Agus Noor mengajak penonton untuk merefleksikan dan berpikir kritis dari sosok Hakim Sarmin pada jaman ketika keadilan dan kegilaan sulit dilakukan.

Nama Hakim Sarmin merupakan plesetan nama dari seorang hakim yang pernah menangani sidang praperadilan dengan perkara “rekening gendut” pejabat kepolisian. Hakim berpihak kepada pejabat tadi. Seketika ia menjadi buah bibir publik.

Hakim Sarmin diperankan Butet Kartaredjasa. Ia sekaligus produser pementasan dengan didukung Bakti Budaya Djarum Foundation.Tokoh lainnya, di antaranya Pemimpin Kota Mangkane Laliyan (diperankan Djaduk Ferianto), Komandan Keamanan Kunjaran Manuke (Fery Ludyanto), politisi muda Bung Kusane Mareki (M Arief “Broto” Wijayanto). Kemudian Menawi Diparani, dokter Pusat Rehabilitasi Hakim RSJ Sumber Waras, diperankan Susilo Nugroho.

(Peliput: Lukas Laksamana)

 

 

Perlihatkan Lebih

Satu Komentar

  1. Terkadang seni budaya dapat juga menjadi kritik yang berupa sindiran halus terhadap para penegak hukum di negara kita tercinta ini. Mungkin itu juga sebabnya pada beberapa acara ILC kerap didatangkan narasumber dari budayawan maupun pelaku seni seperti Mbah Sudjiwo Tedjo, Arswendo, pelukis pasir, musisi etnik, dll yang sengaja didatangkan untuk memberikan pendapat dari sudut pandang mereka. But anyway secara pribadi saya setuju dengan pementasan Teater Gandrik ini, apalagi digawangi oleh para suhu di bidangnya, ada Butet, Djaduk, dan lainnya.

    Salam
    Raymon
    Hukum Bisnis (SMT 3)
    UPN Veteran Jakarta

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami