BTN iklan
EkonomiFinansialKarir

Ketika Nelayan Cilacap Masuki Masa Paceklik

CILACAP, 17/3 (LEI) Pagi itu Julianto bersama salah seorang rekannya bersiap-siap melaut di perairan selatan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dengan harapan ada ikan yang dapat ditangkap dan dijual untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Dengan penuh semangat dan percaya diri, dia mengoperasikan perahu bermesin tempel bernama lambung “Nokia” milik Ketua Kelompok Nelayan Pandanarang, Pantai Teluk Penyu, Cilacap, menuju daerah tangkapan ikan.

Setelah lima jam melaut, dia pun kembali ke Pantai Teluk Penyu dengan wajah lesu karena hasil tangkapannya tidak seperti yang diharapkan.

Dia hanya mampu mendapatkan udang sekitar 50 ekor, sedangkan pada jaring yang dibawanya banyak terdapat sampah dan beberapa ikan kecil yang tersangkut.

Sesampainya di daratan, dia bersama rekannya segera memilah sampah dan ikan-ikan kecil yang tersangkut pada jaring.

“Hanya dapat sampah dan udang,” kata Julianto sambil menunjukkan udang yang tersimpan dalam wadah. Udang yang dia tangkap tidak sampai setengah tempat nasi berukuran 30 liter itu.

Berat udang secara keseluruhan diperkirakan hanya 1 kilogram. Jika dijual, harganya sekitar Rp50.000 karena ukuran udang tersebut bervariasi.

Menurut dia, hasil penjualan udang itu tidak bisa menutup biaya operasional yang dikeluarkan untuk melaut yang mencapai Rp200.000.

Kalau dijual paling dapat Rp50.000 sehingga enggak mencukupi biaya operasional karena untuk beli bensin dan kebutuhan lainnya termasuk akomodasi untuk dua orang secara keseluruhan mencapai Rp200.000, katanya.

Dia mengakui kondisi tersebut sudah berlangsung lebih dari satu bulan karena saat sekarang nelayan Cilacap sedang memasuki masa paceklik sehingga ikan jarang ditemukan meskipun kondisi gelombang relatif kondusif.

Kendati demikian, Julianto dan beberapa nelayan lainnya tetap nekat melaut dengan harapan ada ikan yang dapat ditangkap.

Berbeda dengan Julianto, nelayan lainnya, Sukirno mengaku lebih memilih tidak melaut daripada pulang tanpa membawa hasil tangkapan.

Memang, kata dia, ada beberapa nelayan yang tetap melaut agar api di dapur tetap menyala (mencukupi kebutuhan keluarga). Iajuga kadang nekat melaut.

Pada masa paceklik sudah berlangsung hampir dua bulan, kata dia, ikan sangat jarang yang dapat ditemukan di perairan selatan Cilacap.

Enggak ada ikan, paling hanya udang dan jumlahnya sangat sedikit. Kalau bisa dapat udang super yang harganya Rp180.000 per kilogram masih mendingan meskipun biaya operasionalnya mencapai Rp200.000, kata dia yang sempat mendapatkan udang senilai Rp300.000 pada masa paceklik.

Oleh karena itu, kata dia, beberapa nelayan selama masa paceklik sering kali beralih profesi untuk sementara dengan bekerja di proyek.

Ia biasanya kalau paceklik pergi ke Jakarta untuk bekerja pada perusahaan mebel Jepara, kebetulan dia punya keahlian mengecat. Namun pada masa paceklik kali ini, belum ada tawaran pekerjaan lain.

Ketua Kelompok Nelayan “Pandanarang” Tarmuji mengakui jika saat sekarang, nelayan Cilacap telah memasuki masa paceklik dan telah berlangsung sekitar dua bulan.

Ia mengatakan saat menjelang Tahun Baru Imlek, nelayan sempat ada harapan bisa merasakan panen ikan bawal putih sehingga dapat memenuhi pesanan.

Akan tetapi, kata dia, ikan bawal putih yang menjadi harapan nelayan itu hanya muncul sebentar dan jumlahnya pun sangat sedikit sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan ekspor.

Kalau sekarang yang hasilnya cukup lumayan adalah udang rebon, namun tidak semua wilayah ada udang rebonnya. Harga udang rebon saat sekarang mencapai kisaran Rp20.000–Rp25.000 per kilogram yang bergantung pada ukuran, biasanya hanya Rp4.000–Rp6.000 per kilogram.

Kendati demikian, dia mengakui jika hasil tangkapan pada tahun 2017 jauh lebih baik dibanding tahun 2016 karena terjadi masa paceklik berkepanjangan.

Berdasarkan catatan di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Pandanarang, ikan mulai muncul pada tanggal 7 Agustus 2017 dan nilai transaksinya hingga bulan November mencapai Rp3 miliar dan selanjutnya ikan-ikan mulai berkurang sampai sekarang sehingga transaksi hingga Desember 2017 sebanyak Rp3,6 miliar, sedangkan selama tahun 2016 hanya Rp1,8 miliar.

Ia mengatakan transaksi di TPI Pandanarang pada tahun 2013 mencapai Rp6 miliar, tahun 2014 sebanyak Rp4,8 miliar, dan tahun 2015 mencapai Rp7,3 miliar, sedangkan transaksi pada bulan Januari-Februari 2018 belum dihitung secara keseluruhan.

Lebih lanjut, Tarmuji mengatakan masa paceklik terjadi karena adanya migrasi ikan dan diperkirakan pada bulan Juni, ikan-ikan akan kembali bermunculan di perairan selatan Cilacap seiring dengan datangnya musim angin timuran.

Bagi nelayan Cilacap, kata dia, gelombang tinggi yang terjadi pada musim angin timuran justru membawa berkah karena banyak ikan yang bermunculan di perairan.

Ia mengatakan musim angin baratan datangnya berbarengan dengan musim hujan, sedangkan musim angin timuran berbarengan dengan kemarau.

Oleh karena itu, kata dia, berdasarkan ilmu “titen” yang merupakan kearifan lokal, ketika petani panen terus karena banyak hujan, nelayan justru mengalami masa paceklik dan sebaliknya ketika petani paceklik, nelayan akan menikmati masa panen.

Ketika nelayan mengalami paceklik, sering kali mereka jadi ‘pedagang’ dadakan karena barang-barang yang ada di rumah dijual atau digadaikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, katanya. [antara]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Komentar Anda...

Related Articles

Close
Close