Liputan

Ketua Ganas Annar: Sistem Pemidanaan Terkait Narkoba Perlu Ditinggalkan

BTN iklan

Jakarta, 6/3 (LEI) Sistem pemidananaan terkait penanggulangan narkotika (narkoba) dan zat sejenisnya, di negara-negara maju seperti di kawasan eropa barat sudah ditinggalkan karena hal itu bukan cara ampuh untuk menyelesaikan atau melakukan penekanan pengguna atau pecandu barang “haram” tersebut.
Oleh karenananya, tepat kiranya jika para aparat penegak hukum melaksanakan Pasal 54 s/d. 59 UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dimana para pecandu dan korban dari narkotika wajib dilakukan rehabilitasi, atau non pemenjaraan, kata Ketua Umum Pusat Ganas Annar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr. Titik Haryati, dalam siaran pers yang disampaikan via Sekertaris DPP Ganas Annar di Jakarta, Minggu.

Dalam siaran pers itu disebutkan, Ketua Pengurus Pusat Ganas Annar MUI menyampaikan pesan dalam seminar lewat zoom di Palang Karaya Kalimantan Tengah pekan lalu, bahwa sinergi dari berbagai pihak diperlukan untuk menangani masalah penyalahgunaan Narkoba di Indonesia yang tampaknya kian akut.
Terhadap bandar besar, pengedar dan yang memproduksi, sudah selayaknya diberi sanksi tegas dan berat, karena pelanggaran terhadap kejahatan narkoba termasuk extra ordinary, yakni kejahatan luar biasa yang penyelesaiannya butuh sinergi dari semua pihak termasuk lembaga-lembaga nasional dan internasional.

Namun untuk para korban narkoba, yang kebanyakan masih anak-anak di bawah umur, atau ibu rumah tangga, seyogianya cara penyelesaiannya menggunakan peraturan perundang-undangan yang sudah tersedia. “Pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib direhabilitasi,”. Artinya apabila ada masyarakat yang menyalahgunan Narkoba maka direhabilitasi bukan dihukum. Saat ini banyak lembaga pemsarakatan (lapas) penuh sesak dimana isinya kebanyakan orang-orang penyelahgunaan narkoba.
Penyalahguna narkoba untuk pertama kali bisa dikategorikan sebagai korban. Yang awalnya korban selanjutnya akan mengulang dan mengkonsumsi terus menerus sehingga kecanduan atau ketagihan. Seseorang menjadi kecanduan atau ketagihan disebabkan ada fungsi syaraf yang terganggu sehingga penyembuhan (healing) menjadi tujuan yang harus dilakukan agar tidak meningkat pada perbuatan yang lebih memperburuk kondisi fisik dan psikis, tegas Titik.

Disebautkan, hasil pengamatan ketika seseorang mengkonsumsi karena dibujuk, dirayu dan di iming-imingi maka orang tersebut digolongkan sebagai korban, dan setelahnya mengakibatkan ketagihan dan kecanduan karena mencoba kembali dan terus mencoba dan mengkonsumsi kembali.

Seminar online zoom meeting dengan tema “EDUKASI DAN SOSIALISASI PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN “NAPZA” dilaksnakan oleh  GANAS ANNAR Propinsi Kalimantan Tengah bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Palangka Raya BNN Kota Palangka Raya, yang dihadiri Ketua MUI Palangka Raya, Kiyai Khairil Anwar, yang juga Rektor UIN Palangka Raya.

Pada kesempatan itu, ia juga mengatakan, UU Narkotika tahun 2009 Pasal 103 menyebutkan, memberi kewenangan hakim untuk memerintahkan pecandu dan korban penyalahguna narkotika sebagai terdakwa “menjalani rehabilitasi melalui putusannya jika mereka terbukti bersalah menyalahgunakan narkotika”, sehingga jelas bahwa rehabilitasi perlu dilaksanakan.
Terkait penerapan Pasal 103 UU Narkotika ini, MA mengeluarkan SEMA No. 4 Tahun 2010 jo SEMA No. 3 Tahun 2011 tentang Penempatan Penyalahguna, “korban penyalahgunaan, dan pecandu narkotika dalam lembaga rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial”. Dengan demikian, tinggal bagaimana aparat hukum secara konsisten melaksanakan berbagai peraturan termasuk didalamnya SEMA dari MA itu, katanya.
GANAS ANNAR MUI adalah salah satu Lembaga dari 30 Komisi, Badan dan Lembaga yang berada di lingkungan MUI. Organisasi kemasyarakatan ini menjadi wadah untuk menerima pengaduan dan melayani masyaraat secara luas yang memiliki persoalan dengan penyalahgunaan Narkoba. Berada pada tingkat pusat dan pada tingkat Propinsi. Salah satunya adalah GANAS ANNAR Kalimantan Tengah ini.

Titik Haryati, juga memberikan apresiasi untuk dapat mewujudkan “Rehabilitasi Berbasis Masyarakat” di setiap GANAS ANNAR Propinsi yang dapat dilaksanakan melalui pendekatan spiritual dan tradisional. Pencegahan, sosialisasi dan edukasi dalam dakwah, dan ceramah kepada keluarga yang berada di wilayah masing-masing, tutupnya.

@theo**

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami