Kesehatan

Keunggulan Vaksin SinoVac daripada Vaksin P

BTN iklan

LEI, Jakarta- Di Indonesia, sebanyak 1,2 juta dosis vaksin buatan China, Sinovac telah tiba pekan lalu dan akan ada 1,8 juta vaksin susulan pada Januari mendatang. Meski demikian, Sinovac hingga saat ini belum merilis hasil uji klinis untuk mengetahui tingkat efektivitas vaksin buatan mereka.

Vaksin SinoVac:

• Menyangkut persoalan vaksin Covid-19 ini, Juru Bicara Pemerintah sekaligus Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan, dr Siti Nadia Tarmidzi pun angkat bicara.

• Nadia menjelaskan, pemerintah melalui Keputusan Menteri Kesehatan no. 9860/2020 telah menetapkan 6 jenis vaksin Covid-19 yang dapat digunakan di Indonesia yaitu vakin produksi Bio Farma, AstraZeneca, Sinopham, Moderna, Pfizer/BioNTech, dan Sinovac. “Kehadiran dan penggunaannya dalam program vaksinasi di Indonesia masih dinamis mengikuti proses pengadaan dan izin penggunaannya,” kata Nadia dalam keterangan tertulisnya oleh Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Minggu (13/12/2020). Salah satu jenis vaksin yang telah berhasil didatangkan oleh pemerintah ke tanah air, yaitu vaksin Covid-19 Sinovac. Pada hari Minggu (6/12/2020), 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 Sinovac tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Untuk diketahui, uji klinik fase 3 awal vaksin Covid-19 Sinovac juga telah dilakukan di Bandung, Indonesia. Pengujian ini dilaksanakan oleh Tim Peneliti Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran melalui kerjasama PT Bio Farma dengan Sinovac Biotech China. Setelah kedatangannya, vaksin Covid-19 Sinovac mengundang perhatian masyarakat dan memicu ragam informasi yang telah beredar luas di sosial media, termasuk tentang sistem pembelian pre-order dan harga jual vaksin itu.

• “Informasi yang beredar saat ini tidak dapat dijadikan rujukan dan kami mengimbau masyarakat untuk menunggu pengumuman resmi pemerintah terkait vaksin dan vaksinasi Covid-19,” tegas Nadia.

• , vaksin Sinovac dibuat dengan menggunakan teknologi inactivated virus atau virus yang tidak aktif lagi. Teknologi ini memungkinkan vaksin dikembangkan lebih cepat. Dengan menggunakan inactivated virus, pembuatannya banyak menggunakan partikel virus yang dimatikan untuk dapat memicu sistem kekebalan tubuh terhadap virus tanpa menimbulkan respons penyakit yang serius. Selain itu, vaksin inactivated virus juga memungkinkan vaksin lebih mudah disimpan di lemari es dengan standar suhu 2-8 derajat Celsius dan dapat bertahan hingga tiga tahun. Hal ini merupakan salah satu keuntungan yang ditawarkan Sinovac agar bisa didistribusikan ke wilayah-wilayah yang tidak bisa menyimpan di rantai dingin (cold-chain). Cold-chain atau rantai dingin menunjukkan serangkaian tindakan atau peralatan yang diterapkan untuk mempertahankan suatu produk dalam suhu rendah hingga dikonsumsi. Cold-chain dalam vaksin berupa lemari es dan freezer khusus untuk menyimpan vaksin dan termos (vaksin carrier) untuk membawa vaksin ke tempat pelayanan. “Perkiraan tersebut diekstrapolasi dari fakta bahwa vaksin tetap aman saat diterima dalam jangka waktu 42 hari jika disimpan di suhu 25 derajat Celsius, 28 hari pada 37 derajat Celsius, dan lima bulan untuk suhu 2-8 derajat Celsius,” kata Liu Peicheng, juru bicara Sinovac seperti dilansir Reuters, Senin (7/9/2020).

• Uji coba tahap akhir atau fase III dari vaksin Sinovac sedang dilakukan di Pakistan, Arab Saudi, Rusia, Brasil, dan Indonesia.

• Untuk mendukung data mutu uji klinik vaksin Sinovac, Badan POM telah melakukan inspeksi ke fasilitas produksi Sinovac Life Science Beijing pada tanggal 2 hingga 5 November 2020. Inspeksi dilakukan secara komprehensif untuk memastikan produsen menerapkan standar Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) secara konsisten di sepanjang proses pembuatan vaksin, mulai dari pembuatan bahan baku vaksin (upstream), formulasi vaksin (downstream), hingga proses pengisian ke dalam vial menjadi produk jadi.

Vaksin Pfizer/ BioNTech

Regulator Inggris menyarankan orang dengan riwayat alergi serius sebaiknya tidak divaksin Pfizer.
Peringatan alergi itu berlaku bagi mereka yang memiliki reaksi terhadap obat-obatan, makanan atau vaksin, menurut badan pengatur produk obat dan kesehatan di Inggris (Medicines and Healthcare products Regulatory Agency- MHRA).

Kedua petugas kesehatan itu mengalami reaksi alergi setelah mendapat suntikan vaksin. Keduanya telah mendapatkan perawatan dan saat ini dalam kondisi sehat.
Mereka diketahui mengalami reaksi anafilaktoid, yang cenderung menyebabkan ruam kulit, sesak napas, dan terkadang penurunan tekanan darah. Ini tidak sama dengan reaksi anafilaksis yang bisa berakibat fatal.

Prof Peter Openshaw, seorang ahli imunologi di Imperial College London, mengatakan: “Fakta bahwa kita tahu begitu cepat tentang dua reaksi alergi ini dan bahwa regulator telah bertindak untuk mengeluarkan peringatan pencegahan menunjukkan bahwa sistem pemantauan ini bekerja dengan baik.”

Profesor Sarah Gilbert mengatakan orang lanjut usia direkrut ke dalam uji coba dalam proses lanjutan, dan hasil uji coba berikutnya yang diberikan kemungkinan besar mencakup informasi tentang seberapa baik vaksin bekerja pada orang yang berusia di atas 55 tahun.

Tetapi dia mengatakan “tidak ada perbedaan” dalam respons kekebalan yang terlihat pada orang dewasa yang lebih muda dan orang lansia di atas 70 tahun pada uji coba sebelumnya.

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami