HukumPolitik

Khawatir Pilpres 2019 Memecahbelah Ulama

BTN iklan

Jakarta (lei) Pakar komunikasi politik Effendi Gazali mengaku khawatir Pilpres 2019 memecahbelah ulama karena masing-masing pasangan bakal calon presiden dan wakil presidennya sama-sama didukung oleh ulama.

“Masing-masing pemilihan itu ada dinamikanya sendiri-sendiri. Saya khawatir untuk yang kali ini itu terjadi ‘perang’ ulama,” kata Effendi di temui di sela-sela Focus Group Discussion (FGD) bertema “Menggugat Konstitusionalitas Presidential Threshold, Sebuah Tafsir Demokrasi Pancasila” di Jakarta, Kamis (20/9).

Effendi mengungkapkan, jika pada pemilihan umum zaman dulu seolah-olah memunculkan stigma pertarungan orang yang agamanya benar dengan yang tidak benar, partai terlarang dengan partai yang sah, dan istlah lainnya, tapi pada pemilu 2019 menjadi bergeser.

“Kalau sekarang enggak. Saya browsing pagi-pagi [Kamis pagi] kata kunci, ulama pecahbelah karena Pilpres. Saya dapat 42.600 temuan di Google. Betapa sekarang itu seperti orang mengatakan kami dong yang bener karena kami didukung oleh ulama-ulama ini, kami dong yang benar karena berdasarkan ijtima,” ujarnya.

Menurut Effendi, fenomena ini terjadi karena pilpres hanya diikuti dua pasang capres-cawapres, yakni Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Salahudin Uno. Salah satu penyebabnya, akibat adanya presidensial threshold atau ambang batas penentuan calon presiden.

Adanya ambang batas yang diatur dalam Pasal 222 Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 2017 tersebut memicu calon yang diusung tidaklah banyak seperti pada Pemilu mendatang. Padahal, efek Pilpres 2014 yang diikuti hanya dua pasang capres-cawapres masih terasa sampai saat ini.

Menurutnya, beda halnya jika tidak ada ketentuan presidential threshold, maka setiap partai atau koalisi dapat mengusung capres-cawapres. “Paling enggak kita punya pengalaman pemilu 2004 di mana capresnya 5 pasang. Apa salahnya 5 pasang, kan ditunggu putaran kedua yang ditentukan oleh UUD kita sudah menyatakan demikian ada putaran kedua,” ujarnya.

Menurutnya, jika hanya dua pasangan, maka otomatis para pendukung akan terbelah dan saling berhadap-hadapan. Sedangkan jika diikuti oleh 5 pasangn capres-cawapres, maka para pendukung tidak akan berhadap-hadapan secara langsung.

“Kalau 5, kan harus memikirkan yang lain. Kemarahan itu pun kalau ada terbagi dulu. Baru kemudian mengalir ke dua putaran. Itu saja kata kuncinya. Dan yang saya khawatirkan ini obyektif,” katanya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami