KesehatanLiputan

Khitan Wanita Bentuk Pelanggaran HAM?

BTN iklan

JAKARTA, (LEI) – Sunat perempuan di negara ini, telah dikenal sejak abad ke-8, saat Islam dibawa ke Indonesia. Sunat perempuan merujuk pada berbagai manipulasi klitoris atau genital. Di Indonesia, istilah ini hanya mengacu pada pembersihan sekitar klitoris, pemotongan simbolis klitoris, dan / atau tusukan ringan klitoris. Ini adalah manipulasi nonsurgikal. Tindakan ini dikenal dengan istilah Female Genital Mutilation (FGM), yang juga disebut  Female Genital Cut (FGC) merupakan  ritual pemotongan atau penghilangan sebagian alat genital wanita.

gambar untuk tradisi sunat perempuan
Macam metode sunat pada wanita (dw.com)

Praktik ini terdapat  di Afrika, Asia dan Timur Tengah.  Beberapa referensi menyebutkan bahwa dalam sunat wanita yang di potong adalah bagian kulup klitoris. Namun praktek yang terjadi di masyarakat luas ada beberapa penyimpangan, seperti praktek sunat di wilayah Afrika, beberapa praktek sunat bahkan malah memotong bagian klitorisnya. Maka wajarlah  jika kemudian badan kesehatan dunia mengutuk praktek khitan  perempuan.

Tindakan ini biasanya dilakukan oleh penyunat tradisional dengan menggunakan pisau, dari hari setelah kelahiran sampai pubertas dan dewasa. Kebanyakan anak perempuan disunat ketika masih balita.  Ternyata khitan perempuan merupakan topik menarik dengan pro kontranya. Jika kita telusur terdapat  sekitar 63.900 artikel ilmiah tentang khitan perempuan terkait dengan hak asasi manusia, dan ini jauh lebih banyak dibanding artikel ilmiah tentang tindik tubuh dan tatoo bagi wanita.

Hasil gambar untuk sunat perempuan benarkahRajat Khosla dkk (2017) memperkirakan sekitar 200 juta wanita dan anak perumpuan di planet ini  dikhitan  dan  15 juta anak perempuan lainnya berisiko mengalaminya pada tahun 2020 di negara-negara dengan prevalensi tinggi Terlepas dari upaya meninggalkan atau memberantas tradisi khitan ini, terdapat peningkatan akan panduan yang jelas tentang perawatan bagi perempuan yang mengalami FGM dan upaya ini belum mampu mengurangi secara efektif jumlah anak perempuan dan wanita dewasa yang mengalami peyunatan.

Informasi seputar bahayanya baik dalam hal kesehatan fisik maupun mental belum banyak diketahui oleh masyarakat. Terbukti ada suku-suku atau kelompok masyarakat yang masih menganggap khitan pada wanita adalah tradisi yang membawa manfaat baik terutama agar si wanita lebih terhormat dan terjaga.

Tentu saja cara mengkhitan berbeda-beda di setiap daerah. Pada komunitas Pasemah di perbatasan antara Sumatera Selatan dan Bengkulu. Terdapat  upacara Bakayekan. Makna dari istilah tersebut adalah tradisi untuk membersihkan seorang gadis sebelum beranjak remaja. Jika tradisi itu dilakukan pada bayi maka disebut dengan Kayek Upik. Sedangkan Bakayekan sendiri adalah untuk anak perempuan. Bentuknya adalah sunatan atau khitan dan usia yang dianggap pas bagi anak perempuan untuk Bakayekan adalah 4 hingga 7 tahun.

Hasil gambar untuk mandi lemon tradisi
Ayu Dewi gelar Upacara Mandi Lemon untuk anaknya (sumber: kapanlagi.com)

Adat Mo Polihu Lo Limu bisa kamu singkat dengan istilah mandi lemon. Mandi Lemon yang menjadi salah satu adat masyarakat Gorontalo itu adalah sunatan untuk anak perempuan yang telah menginjak usia 2 tahun. Nama lainnya adalah Molubingo. Bagi orang Gorontalo, anak perempuan harus dikhitan agar bisa mengendalikan diri dari sifat-sifat buruk. Prakteknya tidak sama dengan sunat pada anak laki-laki dan hanya bersifat simbolis saja. Para keluarga yang hadir turut memberikan doa agar kelak anak perempuan yang dikhitan itu akan menjadi pribadi dengan sifat baik.

Tradisi Makkatte’ dilakukan oleh masyarakat Suku Bugis dan ditujukan untuk anak perempuan. Selain tradisi adat, Makkatte juga dianggap sebagai ritual keagamaan. Oleh karena itu, hingga saat ini masih ada yang melakukannya. Anak perempuan yang dikkate’ bisanya berusia 4 hingga 7 tahun. Dan yang boleh menyunat hanyalah seorang Sanro yaitu para wanita ahli dan dipercaya oleh masyarakat Suku Bugis.

Telah ada upaya internasional sejak tahun 1970an untuk meyakinkan praktisi untuk meninggalkan FGM, dan sejak 2010 Perserikatan Bangsa-Bangsa telah meminta petugas kesehatan untuk berhenti melakukan semua bentuk prosedur, termasuk reinfibulasi setelah melahirkan dan simbolis “nicking” dari kap klitoris. Telah dilarang atau dilarang di sebagian besar negara di mana hal itu terjadi, namun undang-undang tersebut diberlakukan dengan buruk. Penentangan terhadap praktik ini bukan tanpa kritiknya, terutama di kalangan antropolog, yang telah mengajukan pertanyaan sulit mengenai relativisme budaya dan universalitas hak asasi manusia.

Di tahun 2006, Menteri Kesehatan melarang praktik sunat terhadap perempuan, alasannya secara medis sangat membahayakan. Tapi karena adanya protes dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengatakan bahwa Pemerintah tidak boleh melarang sunat perempuan karena dalam Islam dianjurkan, maka di bulan November 2010 dikeluarkan peraturan tentang Sunat Perempuan yang memberi otoritas pada pekerja medis tertentu, seperti dokter, bidan dan perawat, untuk melakukan sunat pada pasien perempuan.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) menyatakan bahwa sunat perempuan boleh dilakukan asal tidak menyimpang. MUI menegaskan batasan atau tata cara khitan perempuan seusia dengan ketentuan syariah, yaitu khitan perempuan dilakukan cukup dengan hanya menghilangkan selaput atau kulup yang menutupi klitoris; dan khitan perempuan tidak boleh dilakukan secara berlebihan, seperti memotong atau melukai klitoris.

gambar untuk gender equality
Kesetaraan Gender Perempuan dan Laki-laki

Prosedur khitan berbeda menurut negara atau bangsa. Praktek ini berakar dari  ketidaksetaraan gender, upaya untuk mengendalikan seksualitas perempuan.  Efek kesehatan tergantung pada prosedur, bisa mencakup infeksi berulang, sulit buang air kecil dan aliran menstruasi, sakit kronis, perkembangan kista, ketidakmampuan untuk hamil, komplikasi saat melahirkan, dan perdarahan fatal. Namun sampai saat ini belum diketahui manfaat bagi kesehatan

Penulis: Rosa Widayawan (Budayawan dan Pustakawan) dari berbagai sumber

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami