LiputanNasional

Kisah Kini Raja Kamboja,Sahabat Soekarno

BTN iklan

 JAKARTA/Lei  — Sebagai pemimpin bangsa, Soekarno dikenal penuh kharisma. Namun, sebagai lelaki, Soekarno dikenal sebagai seorang playboy ulung. Dia bahkan nyaris menjadi menantu Raja Kamboja yang tak lain sahabatnya sendiri. Bagaimana ceritanya?

Sebagai seorang pejuang dan pendiri bangsa, kapasitas Soekarno tidak perlu diragukan lagi. Tidak hanya dicintai oleh rakyatnya, kepemimpinan presiden pertama Indonesia juga diakui oleh para koleganya sesama pemimpin bangsa. Contoh paling sahih adalah keberhasilan Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung pada 1955.

Selain sebagai pemimpin yang kharismatik, Soekarno juga dikenal sebagai seorang playboy ulung. Sepanjang hidupnya Soekarno memang dekat dengan sejumlah wanita. Tidak heran jika sang proklamator kemerdekaan ini tercatat memiliki 9 orang istri.

Sikap Don Juan Soekarno ini diakui oleh Norodom Sihanouk, sahabatnya sekaligus Raja Kamboja yang menjabat pada periode 1941-1955. Keduanya pertama kali pertemu pada Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1955. Sihanouk saat itu sebenarnya tidak begitu mahir berbahasa Inggris. Namun, karena Soekarno adalah seorang ahli bahasa yang ulung, komunikasi mereka pun bisa berjalan lancar. Keduanya lebih sering bercakap-cakap dengan bahasa Prancis.

Dekat

Soekarno dan Sihanaouk diketahui sangat dekat. Pada periode 1959-1965, Soekarno telah berkunjung 5 kali ke Kamboja—lebih banyak dibandingkan dengan pemimpin negara manapun.  Soekarno juga mengagumi kota Phnom Penh yang cantik san bersih. Namun, menurut Sihanouk, bukan cuma Ibu Kota Kamboja tersebut yang telah memesona Sang Penyambung Lidah Rakyat.

“Soekarno adalah seorang estetikus dan pesolek,” tulis Norodom Sihanouk dalam memoarnya yang berjudul World Leaders I Have Known.

Kala itu, Sihanouk memiliki pasangan yang cantik jelita bernama Putri Monique. Istri Raja Kamboja ini rupanya juga menarik perhatian Soekarno. Menurut pengakuan Sihanouk, Soekarno sering memuji Monique di depan suaminya.

Pada satu waktu, dalam sebuah perjalanan pesawat terbang Soekarno dan Monique duduk berduaan sambil asik bercengkerama. Situasi ini membuat Hartini—salah satu istri Soekarno—terbakar api cemburu.

Hartini yang saat itu tengah mabuk udara menolak dipanggilkan dokter dan memilih ditemani oleh Sihanouk. Dengan suara lantang (hingga terdengar Soekarno), dia berkata kalau obat yang paling manjur adalah bercakap-cakap dengan Sihanouk yang penuh perhatian.

“Hartini jelas tidak sedang jatuh cinta kepada saya, tetapi dia mengambil kesempatan untuk secara halus membalas dendam kepada suaminya,” tutur Sihanouk dalam memoar tersebut.

Ratna Sari Dewi

Kedekatan Sihanouk dan Monique dengan Hartini sempat merenggang ketika istri ketiga Soekarno, Ratna Sari Dewi, ‘memaksa’ suaminya mengundang pasangan Kamboja tersebut untuk makan malam di Jakarta tanpa sepengatahuan Hartini. Belakangan, Hartini pun akhirnya mengetahuinya dan menganggap Sihanouk dan Monique ‘berkhianat’ kepadanya.

Saat peringatan KAA ke-10 di Bogor, Hartini ‘ngambek’ kepada Sihanouk dan enggan menegurnya. Hartini yang biasanya akrab dengan Sihanouk justru memilih menemani Chou En Lai, Perdana Menteri China yang menawan.

Hubungan persahabatan Soekarno dan Sihanouk nyaris berubah menjadi hubungan mertua-menantu saat Soekarno meminang salah seorang putri sahabatnya tersebut. Kali ini wanita yang menarik perhatiannya adalah Bopha Devi, putri Sihanouk yang cantik dan berprofesi sebagai penari. Namun, pernikahan urung terlaksana karena Devi menolaknya!

Kedekatan Sihanouk dan Soekarno juga diceritakan oleh Bernard Krisher, seorang wartawan Newsweek berkebangsaan Amerika Serikat.Belakangan, Krisher lah yang bertanggungjawab menyunting memoar Norodom Sihanouk.

Wartawan Asing

Kamboja pada masa-masa tersebut sebenarnya menutup diri dari wartawan asing. Namun, berkat rekomendasi Soekarno, Krisher pun mendapatkan izin untuk memasuki Kamboja. Krisher dan Soekarno sendiri bertemu dalam kondisi yang unik di Jepang pada 1963. Soekarno saat itu tengah menawar sebuah patung di sebuah toko antik di Tokyo. Soekarno yang menyadari kehadiran seorang wartawan segera mengalihkan perhatiannya kepada Krisher.

“Saya tidak suka Newsweek. Kalian hanya memberitakan kebohongan. Tetapi saya menyukaimu,” kata Soekarno seperti diceritakan Krisher dalam kata pengantar untuk Memoar Norodom Sihanouk.

Krisher menggambarkan Sihanouk dan Soekarno seperti kakak beradik. Hubungan mereka bahkan terus berlanjut meskipun Soekarno tidak lagi menjabat sebagai presiden. Dua tahun sebelum meninggal, Soekarno mengirimkan sepucuk surat yang mengharukan sekaligus hadiah berupa keris sultan yang terbuat dari emas dan gading.

Bahkan setelah Soekarno wafat,  Sihanouk tetap rajin berkunjung ke Indonesia untuk menemui istri dan anak-anak sang proklamator. Soekarno memang kehilangan kesempatan menjadi menantu Sihanouk, namun persahabatan mereka jauh lebih langgeng ketimbang usia keduanya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami