Hukum

Konversi Utang Kurang Menarik Bagi Kreditur

BTN iklan

JAKARTA/Lei — PT Bintang Jaya Proteina Feedmill dan PT Sinka Sinye Agrotama atau Sujaya Group menawarkan skema obligasi wajib konversi atau mandatory convertible bond dalam proses restrukturisasi utang.

Akan tetapi, tawaran konversi utang oleh debitur tersebut tidak mendapat respons baik dari sejumlah kreditur, diantaranya dari HSBC Ltd. dan PT Bank Muamalat Indonesia Tbk.

Konsultan keuangan anak perusahaan Sujaya Group Fransiscus Alip dari AJ Capital mengatakan mekanisme mandatory convertible bond (MCB) digunakan untuk mengakomodasi permintaan kreditur, termasuk pemohon yaitu HSBC Ltd.

MCB merupakan konversi utang menjadi saham yang wajib dilakukan berdasarkan syarat yang diatur menurut perjanjian penerbitan obligasi. Artinya, kreditur Sujaya Group akan dilibatkan dalam pengalihan atau konversi utang ke saham.

Skema MCB ini membutuhkan waktu delapan tahun hingga pihak bank dapat menarik kembali dananya. “Mekanisme MCB ini menjadi salah satu opsi yang akan dimasukkan dalam proposal perdamaian,” katanya dalam rapat kreditur, Senin (30/1).

Metode konversi utang itu diupayakan sembari debitur meyakinkan kreditur untuk mendatangkan investor yang akan mengambil alih perusahaan.

Sementara itu, kuasa hukum HSBC Ltd Swandy Halim mengatakan mekanisme perjanjian perdamaian yang diajukan oleh debitur kurang realistis. Pihaknya menginginkan adanya pengembalian yang optimal dengan adanya investor.

Dengan begitu, dia menolak opsi MCB yang menjadikan kreditur sebagai pemegang saham. Jika ada opsi lain, maka skema MCB lebih baik dihindari. Menurutnya, bank sebagai kreditur separatis berkutat dengan pemberian kredit, bukan bermain dengan saham.

“Kami tidak mau terlibat menjadi pemegang saham. Bank itu memberikan kredit, jadi biarkan khitahnya seperti itu, bukan menjadi pemegang saham. Kami bukan ahlinya di sana,” ujarnya kepada Bisnis usai rapat kreditur.

Dia meminta debitur mencari jalan efektif dengan mendatangkan investor. Namun, pemegang saham perusahaan harus turut menyuntikan dana. Sehingga, tidak hanya bergantung dan mengharapkan dana dari pihak luar.

Pasalnya, investor yang akan masuk akan melihat keseriusan pemegang saham, apakah mereka mau ikut berkorban atau melemparkan nasibnya hanya kepada investor. “Kalau pemegang saham mau berkorban, disambung dengan masuknya investor  maka proposal perdamaian hasilnya baik,” ungkapnya.

Senada, kreditur dari Bank Muamalat mengutarakan kurang berkenan dengan skema MCB. Pihaknya mengharapkan debitur segera menyerahkan nama investor yang akan mengambil alih perusahaan.

Selain itu, debitur membuat skema MCB dalam delapan tahun. Padahal, menurut aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), penyertaan modal dalam MCB maksimal lima tahun, baru kemudian bank dapat menarik kembali dana tersebut.

Tekait dengan hal ini, debitur akan kembali melakukan pengecekan ke OJK apakah MCB bisa lebih dari lima tahun. Hal tersebut nantinya akan disampaikan dalam revisi proposal perdamaian.

PERPANJANGAN PKPU

Debitur juga meminta perpanjangan waktu penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) selama 90 hari untuk tahap finalisasi proposal perdamaian. Namun, kreditur keberatan dengan lamanya perpanjangan, padahal proposal dinilai jalan di tempat.

Swandy kembali mengutarakan bank yang diwakilinya akan memberi kesempatan perpanjangan asal ada perubahan signifikan yang ditawarkan debitur. Kreditur akan memaklumi perpanjangan 60 hingga 90 hari.

Berbeda dengan HSBC, kreditur PT Bank Permata Tbk. hanya menginginkan perpanjangan selama 30 hari saja.

Salah satu pengurus restrukturisasi utang kedua debitur Djawoto Jowono mengungkapkan, dari hasil rapat kreditur dapat dicapai aklamasi perpanjangan PKPU 65 hari. “Pengurus dan kreditur menyetujui perpanjangan PKPU selama 65 hari,” katanya.

Kedua debitur berstatus PKPU sejak 18 Oktober 2016. Saat itu, HSBC bertindak selaku pemohon yang telah memberikan ‎fasilitas pinjaman masing-masing mencapai Rp622,26 miliar dan Rp62,86 miliar.

Debitur merupakan perusahaan multinasional yang berbasis di Kalimantan Barat. Usaha yang dikerjakan meliputi ‎industri pakan ternak (feedmill), pembibitan (breeding faim), budidaya ayam pedaging (broiler faim), rumah potong ayam, dan pengolahan daging ayam (slaughter house and meat processing plant)‎.

 

 

 

 

(bisnis)

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close