Nasional

KPAI Minta Pemprov DKI Prioritaskan Rehab SMPN 32

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memperioritaskan rehab SMPN 32 Jakarta yang roboh pada Kamis sore kemarin.

“KPAI meminta Pemprov DKI Jakarta memprioritaskan rehab SMPN 32 Jakarta demi keselamatan peserta didik,” kata Komisioner Bidang Pendidikan KPAI, Retno Listyarti, Jumat (22/12/2017).

KPK langsung melakukan pengawasan ke SMPN 32 Jakarta karena harus memastikan apakah setelah robohnya gedung aula di halaman SMPN 32 Jakarta, maka gedung kelas di sekelilingnya masih layak dan aman untuk para siswa belajar ke depannya.

Saat pengawasan, KPAI diterima oleh manajemen SMPN 32 Jakarta yang terdiri dari Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah, Kepala Tata Usaha dan beberapa staf. Namun, setelah memeinta keterangan sekitar 30 menit, kepala sekolah dan kepala TU berangkat menghadap Inspektorat Pemprov DKI Jakarta. Wakasek yang kemudian mendampingi KPAI berkeliling sekolah.

Dari pengawasan tersebut, diperoleh keterangan bahwa bangunan yang roboh selama ini tetap di pergunakan sebagai Aula dan tempat sholat bagi warga sekolah. Bahkan, sekitar pukul 11.00 WIB pada hari kejadian robohnya gedung itu, bangunan tersebut masih dipergunakan sebagai tempat perayaan hari besar agama yang dihadiri seluruh siswa.

“Bangunan tersebut kemudian roboh 3 jam setelah anak-anak bubar dari kegiatan itu. Bisa dibayangkan betapa mengerikannya jika roboh pada saat banyak siswa di dalamnya,” kata Retno.

Bangunan yang roboh berada di halaman depan SMPN 32 Jakarta, menurut keterangan pihak sekolah, diperkirakan bangunan berbentuk arsitektur Tiongkok itu dibangun pada tahun 1816 dan dipergunakan pada tahun 1818.

“Kondisi bangunan sebelum roboh memang sudah miring sehingga di beberapa bagian bangunan di pasang penyangga kayu. Saat KPAI meninjau lokasi, penyangga kayu tersebut masih ada, terlihat dari luar dibatas police line,” ujarnya.

KPAI keliling ruang kelas dan juga meninjau lantai dua yang terletak di sisi kanan bangunan yang roboh. Bangunan berlantai dua ini adalah deretan ruang-ruang kelas, perpustakaan, ruang konsultasi BK dan labotarium.

“Di dalam labotarium, KPAI juga menemukan 3 lemari kuno dari kayu jati yang sudah berusia sangat tua. Lemari-lemari kaca tersebut saat ini dipergunakan sebagai tempat menyimpan bahan-bahan kimia,” katanya.

Dari hasil pantauan langsung ke kelas-kelas, maka KPAI menilai bahwa ada 4 ruang kelas yang tidak memenuhi standar minimum sarana prasarana dari standar nasional pendidikan (SNP).

Menurut Retno, kelas tersebut sangat sempit, meja siswa mencapai pintu kelas sehingga pintu kelas tidak bisa ditutup rapat dan meja guru hampir berhimpitan dengan whiteboard kelas.

Kemudian, jumlah toilet juga tidak sebanding dengan jumlah siswa, ruang toilet pun kurang layak, sempit, dan gelap. Bahkan, ada ruang kelas di bawah persis berada satu halaman dengan gedung yang roboh yang tidak mungkin digunakan lagi pasca-robohnya gedung aula di sampingnya.

“Pihak sekolah berencana semester depan akan memindahkan ruang belajar tersebut ke ruang labotarium di lantai dua,” kata Retno.

Di lantai dua, lanjut Retno, KPAI juga menemukan sambungan tangga dengan selasar di lantai dua yang riskan mencelakakann anak-anak karena ada potongan sambungan yang sempit. Jika tidak hati-hati melangkah, maka akan berpotensi membuat siswa terpeleset dan kemudian jatuh ke arah anak tangga.

“Menurut informasi, bangunan berlantai dua tersebut dibangun pada tahun 1880, lebih muda sekitar 64 tahun dari bangunan yang roboh tersebut,” katanya.

Dari lantai dua, KPAI dapat menyaksikan sisa-sisa reruntuhan gedung, termasuk serpihan batu bata besar-besar yang ukurannya lebih tipis tetapi lebih lebar dari batu bata yang umum digunakan pada bangunan di masa sekarang. Bata-bata itu masih berserakan di selesar kelas.

“Tim KPAI juga menyaksikan pohon-pohon yang tumbang akibat reruntuhan bangunan yang roboh tersebut. Dari lantai dua, kami juga dapat menyaksikan sisa-sisa keindahan bangunan yang setengahnya masih berdiri, hanya bagian atas bangunan yang roboh. Bahkan sebagian kayu-kayu ukir pun masih terlihat indah dan kokoh berdiri,” katanya.

Pihak sekolah sudah mengajukan permohonan rehab total bangunan pada tahun 2014. Pengajuan dilakukan ke Dinas Pendidikan dan Dinas Pariwisata Provinsi DKI Jakarta, mengingat gedung tersebut merupakan cagar budaya yang harus dilestarikan.

“Namun sayangnya tak kunjung dieksekusi sampai akhirnya bangunan tersebut roboh pada Kamis, 21 Desember 2017. Bahkan, meurut keterangan, pada 18 Desember 2017 yang lalu, ada perwakilan Dinas Pariwisata yang meninjau bangunan SMPN 32 yang roboh tersebut,” ujar Retno.

KPAI juga mendapatkan informasi bahwa lahan SMPN 32 Jakarta pun kini sudah miring ke sisi utara sehingga berpotensi juga membahayakan para peserta didik dan warga sekolah yang lain. Diduga kuat, tanah di sisi utara sekolah amblas akibat banjir yang kerap menggenang di tahun-tahun sebelum Kali Krukut di depan sekolah dinormalisasi. ‎

“SMPN 32 Jakarta pernah mengalami banjir besar pada 5 Januari 2011 dan 4 Februari 2015, ketinggian air kala itu mencapai pinggang orang dewasa,” ungkapnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami