Hukum

KPK Akan Usut Beberapa Kejahatan Korporasi

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan mengusut beberapa korporasi yang diduga terlibat melakukan tindak pidana korupsi. Menurut Kepala Biro (Kabiro) Hukum KPK, Setiadi, ada dua atau tiga perusahaan yang akan diusut.

“Untuk diketahui, dalam beberapa waktu ke depan, pimpinan kami juga akan melakukan penangaan dua atau tiga korporasi dalam penanganan tindak pidana di bidang korupsi,” kata Setiadi di Jakarta, Rabu (26/4/2017).

Namun Setiadi tidak merinci nama perusahaan dan kasus yang akan diusut. Dia menyampaikan pernyataan tersebut saat menjelaskan soal penanganan kasus suap pembelian mesin pesawat Rolls Royce dan pesawat untuk maskapai Garuda Indonesia.

Menurutnya, tidak mudah untuk menyeret Rolls Royce sebagai korporasi ke dalam kasus suap ini, karena perusahaan yang memproduksi berbagai mesin itu berkedudukan di Inggris serta cabangnya untuk wilayah Asia Tenggara juga bukan berada di Indonesia, alias berada luar negeri.

“Ini kesulitan jika korporasi melakukan tindak pidana korupsi itu berada di negara lain. Kalau di dalam negeri, kami yakin dalam waktu yang tidak lama kami bisa proses,” tandas Setiadi.

Karena Rolls Royce berada di Inggris dan perwakilannya juga berada di Singapura, lanjut Setiadi, maka KPK harus menggandeng lembaga penegak hukum di dua negara tersebut untuk bersama-sama mengusut  dugaan keterlibatan korporasi.

“Kami harus bersama negara asal, karena itu harus dilakukan secara bersama-sama baik di Inggris-nya, Singapura, dan Indonesia,” kata Setiadi.

Sementara Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, menyampaikan, untuk mengusut kasus suap pembelian mesin Rolls Royce dan pesawat A330-300 untuk maskapai Garuda Indonesia, penyidik melakukan penggeledahan. Penggeledahan ini terkait dugaan keterlibatan Mugi Rekso Abadi (MRA) Grup milik Soetikno Soedarjo.

Penyidik melakukan penggeledahan di Wisma MRA, Jalan TB Simatupang Nomor 19, Cilandak, Jakarta Selatan, terkait kasus yang membelit Soetikno. Selain PT Mugi Rekso Abadi, penyidik juga menyasar PT Dimitri Utama Abadi, perusahaan yang tergabung dalam MRA Grup.

“Penggeledahan terkait penyidikan tersangka SS (Soetikno Soedarjo). Alasan geledah, ada fakta yang ditemukan penyidik yang mengindikasikan beberapa data dan dokumen terkait perkara yang masih disimpan di kantor MRA dan PT DUA (PT Dimitri Utama Abadi) tersebut,” ujar Febri.

Sedangkan untuk hasil penggeledahan, Febri mengaku belum mendapat informasi lebih lanjut dan akan menyampaikannya kemudian. “Nanti kita akan rilis hasilnya (penggeledahan di Wisma MRA),” katanya.

Adapun penggeledahan di Wisma MRA mulai sekitar pukul 13.00 WIB adalah kali kedua dilakukan penyidik. Pasalnya, penyidik pernah melakukan penggeledahan pada tanggal 18-19 Januari 2017 bersamaan penggeledahan di tempat lain.

“Saat itu penyidik menyita sejumlah dokumen terkait data perusahaan milik tersangka di Singapura, data kepemilikan aset, data perbankan, dan barang-barang elektronik atau hardisk,” kata Febri.

Sebelumnya, KPK menetapakan Soetikno Soedarjo selaku Beneficial Owner Connaught International Pte. Ltd, sebagai tersangka karena diduga menyuap mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar sejumlah 1,2 juta EURO (€), US$ 180,000 atau setara Rp 20 milyar, dan dalam bentuk barang senilai US$ 2 juta.

KPK menyangka Soetikno melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Sedangkan terhadap Emirsyah, KPK menyangkakan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat 1 ke-1 juncto Pasal 64 Ayat 1 KUHP.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami