Hukum

KPK Cari Staf Kabakamla untuk Dihadirkan dalam Sidang

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang mencari Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi, staf ahli Kepala Badan Keamana Laut (Kabakamla), Arie Soedewo, karena sudah 2 kali mangkir panggilan jaksa penuntut umum untuk dihadirkan sebagai saksi dalam sidang suap satelit monitoring.

“KPK lakukan pencarian pada saksi-saksi yang enggak hadir tersebut,” kata Juru Bicara KPK, Febri Diansyah, di Jakarta, Selasa (18/4/2017).

Untuk menghadirkan Fahmi Habsyi tersebut, jaksa penuntut umum KPK sudah meminta penetapan majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta agar bisa melakukan upaya paksa atau menghadirkan paksa yang bersangkutan.

“Ya untuk saksi Ali Fahmi, kita sudah minta penetapan pada hakim dan kita lakukan pencarian. Jika sudah beberapa kali enggak hadir, terbuka dilakukan pemanggilan paksa,” katanya.

Dalam surat dakwaan Direktur PT Merial Esa, Fahmi Darmawansyah, jaksa penuntut umum KPK menyebut suap satelit monitorng di Bakamla tahun 2016 berawal dari tawaran Fahmi Habsyi kepada Fahmi Darmawansyah untuk main proyek.

Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi selaku narasumber Bidang Perencanaan dan Anggaran Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Arie Soedewo, itu meminta Fahmi Darmawansyah mengikuti arahannya dan memberikan fee sebesar 15% dari nilai proyek.

Usai pertemuan di kantor Fahmi Darmawansyah, sekitar April 2016, Fahmi Habsyi dan Fahmi Darmawansyah kembali melakukan pertemuan di PT Merial. Hadir dalam pertemuan ini Muhammad Adami Okta dan Hardy Stefanus. Fahmi Habsyi menyampaikan anggaran pengadaan satelit monitoring telah disetujui senilai Rp 400 milyar.

Saat itu, Ali Fahmi atau Fahmi Habsyi meminta down payment (DP) 6% dari nilai anggaran pengadaan tesebut untuk mengurusnya. Selain itu, dia juga merekomendasikan Hardy yang akan membantu PT Merial Esa dalam mengikuti lelang satelit monitoring karena Hadry sudah mengenal orang-orang Bakamla.

Menindaklanjuti permintaan 6% dari Ali Fahmi tersebut, pada 1 Juli 2016 bertempat di salah satu kamar hotel Ritz Carlton Kuningan Jakarta Selatan, terdakwa melalui Muhammad Adami Okta dan Hardy memberikan uang Rp 24 milyar dalam bentuk dolar Singapura kepada Ali Fahmi.

“Terdakwa (Fahmi Darmawansyah) dilaporkan bukti penyerahan uang tersebut berupa rekaman (video) yang direkam Hardy Stefanus atas permintaan Muhammad Adami Okta,” ujar jaksa.

Singkat cerita, diduga atas jasa Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi tersebut PT Melati Technofo Indonesia memenangkan pengadaan proyek satelit monitoring di Bakamla senilai Rp 222,4 milyar.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami