Hukum

KPK Periksa Fredrich Sebagai Tersangka pada Jumat Lusa

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akan memeriksa pengacara Fredrich Yunadi untuk menjalani pemeriksaan pada Jumat lusa (12/1/2018) sebagai tersangka dalam kasus menghalangi penyidikan kasus korupsi tersangka e-KTP Setya Novanto.

Kuasa hukum tersangka Fredrich, Sapriyanto Refa, kepada wartawan, Rabu (10/1/2018), menyampaikan, KPK sudah mengirim surat panggilan kepada kliennya Selasa sore kemarin (9/1/2018).

Selain surat panggilan, pihak Fredrich juga telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari lembaga antirasuah. “Setelah kita terima SPDP dan surat panggilan. Surat panggilan untuk menghadap pada hari Jumat. Hari Jumat tanggal 12 Januari (diperiksa) sebagai tersangka,” katanya.

Namun Refa tidak bisa memastikan apakah kliennya akan memenuhi panggilan perdana untuk menjalani pemeriksaan sebagai tersangka tersebut. “Nanti akan kita diskusikan dulu, rencana saya besok kan ke sana (KPK),” ujarnya.

Menurut Refa, status tersangka Fredrich merupakan bentuk kriminalisasi terhadap advokat karena saat mendampingi tersangka Setya Novanto dalam kasus e-KTP itu hanya menjalankan tugas sebagai seorang advokat yang diberikan surat kuasa.

“Bisa jadi ini kriminalisasi terhadap advokat, kami bisa menafsirkas seperti itu. Nah, kalau begitu caranya, nanti ada perlawanan dari teman-teman advokat yang lain,” ujarnya.

Sesuai keterangan Refa, KPK sudah menetapkan Fredrich dan dokter Rumah Sakit (RS) Medika Permata Hijau, Bimanesh Sutarjo sebagai tersangka dalam kasus dugaan merintangi penyidikan yang dilakukan KPK terhadap Setya Novanto.

KPK menyangka keduanya melanggar Pasal 21 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Menurut Refa, Pasal 21 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang disangkakan terhadap Fredrich dan Bimanesh merupakan pasal karet yang multitafsir. “Pasal 21 ini menurut kami adalah pasal karet. Pasal karet yang bisa ditapsirkan macem-macem,” tandasnya.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 + 16 =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami