Hukum

KPK Tetapkan Gubernur Bengkulu dan Istrinya Tersangka Suap

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Gubernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya Lily Martiani Maddari, serta Rico Dian Sari sebagai tersangka karena menerima suap.

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata (Alex), dalam konferensi pers di KPK, Jakarta, Rabu (21/6/2017), mengatakan, pihaknya juga menetapkan seorang tersangka lainnya selaku pemberi suap kepada tiga orang di atas.

“Yaitu diduga sebagai penerima RM (Ridwan Mukti), LMM (Lily Martiani Maddari), dan RDS (Rico Dian Sari). Sebagai pemberi (suap JHW (Jhony), Direktur PT SMS (Sartika Mitra Sarana),” kata Alex.

Penetapan keempat tersangka itu setelah KPK melakukan pemeriksaan terhadap 5 orang yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di dua tempat di Bengkulu.

“Setelah dilakukan pemeriksaan 1×24 jam, dilanjutkan gelar perkara, disimpulkan adanya dugaan tindak pisana korupsi, penerimaan hadiah atau janji oleh gubernur Bengkulu terkait dengan fee proyek,” kata Alex.

Karena itu, KPK menaikkan kasus ini ke penyedikan dengan menetapkan 4 orang tersangka kasus suap dua proyek di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, yakni proyek pembangunan jalan TES-Muara Aman senilai Rp 37 milyar dan proyek pembangunan jalan Curuk Air Dingin senilai Rp 16 milyar.

“Dan meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan serta menetapkan empat orang sebagai tersangka,” katanya.

Dalam OTT yang berlangsung Selasa (20/6/2017), Satgas KPK selain menangkap 5 orang, juga menyita uang sejumlah Rp 1 milyar dan Rp 260 juta. Uang sejumlah Rp 1 milyar didapat dari rumah Ridwan Mukti dan sudah disimpan di dalam brankas.

Tim Satgas KPK awalnya menangkap Rico Dian Sari (RDS) sekitar pukul 10.00 WIB di salah satu jalan setelah keluar dari rumah Ridwan Mukti. Kemudian tim KPK membawa Rico Dian Sari kembali ke rumah Ridwan Mukti.

“Di rumah ketemu istri gubernur LMM [Lily Martiani Maddari], di rumah tersebut diamankan uang Rp 1 milyar yang sebelumnya sudah disimpan di dalam brankas,” kata Saut Situmorang, Wakil Ketua KPK.

Uang Rp 1 milyar yang diamankan di rumah Ridwan itu diduga terkait fee proyek yang berhasil dimenangkan PT SMS milik Jhoni. Sementara itu, ditenggarai sudah ada komitmen fee dari Jhoni untuk diserahkan kepada Ridwan sebesar Rp 4,7 milyar.

Saut melanjutkan, pada waktu yang hampir bersamaan, Tim Satgas KPK menangkap Direktur Utama PT Sartika Mitra Sarana, Jhoni Wijaya, di salah satu hotel di Kota Bengkulu. Saat digeledah, ditemukan kembali uang sebesar Rp 260 juta.

KPK menyangka Direktur Utama PT Sartika Mitra Sarana, Jhoni Wijaya, sebagai tersangka pemberi suap melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a atau Pasal 5 Ayat (1) huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sebagai pihak yang diduga menerima suapnya yakni Gubuernur Bengkulu Ridwan Mukti dan istrinya, Lily Martiani Maddari, serta Rico Dian Sari disangka melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − thirteen =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami