Hukum

KPK Tetapkan Hakim Tipikor Bengkulu Tersangka Suap Rp 125 Juta

BTN iklan

Jakarta, LEI – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu, Dewi Suryana; Panitera Pengganti (PP) Hendra Kurniawan, dan PNS Syuhadatul Islamy sebagai tersangka.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dalam konferensi pers di KPK, Jakarta, Kamis malam (7/9/2017), bersama Ketua Muda Pengawasan Mahkamah Agung (MA), Sunarto; menyatakan, penetapan ketiga tersangka itu setelah menemukan bukti permulaan yang cukup.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan dilanjutkan gelar perkara, ada dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji pada hakim, maka ditingkatkan statusnya ke penyidikan terhadap tiga tersangka,” katanya.

Ketiga tersangkanya adalah Dewi Suryana, Hendra Kurniawan, dan PNS sekaligus keluarga terdakwa Wilson bernama Syuhadatul Islamy. Syuhadatul Islamy diduga menyuap Dewi dan Hendra sejumlah Rp 125 juta.

Penyuapan itu dilakukan untuk memengaruhi atau meringankan vonis terhadap Wilson, Plt Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Bengkulu yang terbelit perkara korupsi Kegiatan Rutin Tahun Angggaran 2013 di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset (DPPKA) Kota Bengkulu.

Jaksa penuntut umum menuntut Wilson dihukum 1 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 50 juta. Sebelum vonis dibacakan, pihak keluarga wilson melakukan pendekatan melalui panitera pengganti hingga akhirnya disepakati komitmen fee sejumlah Rp 125 juta.

Setelah terjadi kesepakatan, majelis hakim membacakan putusan menghukum Wilson 1 tahun 3 bulan penjara dan denda Rp 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Setelah mendapatkan vonis 3 bulan lebih ringan, pihak keluarga Wilson tidak langsung memberikan uang kepada Dewi.

“Putusan itu sudah terjadi (dibacakan), rekening itu juga enggak langsung dicairkan. Dalam informasi yang kami terima, menunggu ‘amannya’ dulu. Setelah ‘aman’, kemudian ditarik, hal itu saudara DSU (Dewi Suryana) yang minta diberikan,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo.

Adapun sumber uang yang digunakan untuk menyuap itu berasal dari hasil penjualan mobil terdakwa Wilson. “Dari penyelidikan awal yang nanti pasti dikembangkan, itu adalah penjualan mobil saudara Wilson,” kata Agus.

Uang hasil penjualan mobil itu sempat disimpan di rekenin Bank BTN sejumlah Rp 150 juta dan pengelolaannya di bawah Syuhadatul Islamy. Setelah ada permintaan uang dari Dewi, baru uang ditarik sejumlah Rp 125 juta.

Atas perbuatan tersebut, KPK menyangka Syuhadatul Islamy selaku pemberi suap, melanggar Pasal 6 Ayat (1) huruf a atau huruf b dan atau Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan terhadap Dewi Suryana dan Hendra Kurniawan selaku penerima suap disangka melanggar Pasal 12 huruf c dan atau Pasal 11 Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close