Hukum

KPPU Dalami Predatory Pricing

BTN iklan

Jakarta/Lei – Komisi Pengawas Persaingan Usaha mengumpulkan bukti-bukti pendukung terkait dengan dugaan predatory pricing yang dilakukan oleh pelaku jasa transportasi angkutan berbasis online

Ketua Komisi Pengawas Per saingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf mengatakan pihaknya telah mendapatkan laporan dari masyarakat mengenai penetapan tarif jasa transportasi online itu.

Adapun, tim investigator telah bergerak dan melakukan pe nelitian terkait laporan tersebut.

“Kami akan teliti lebih jauh lagi, seberapa kuat tuduhan itu memiliki bukti-bukti,” kata Syarkawi kepada Bisnis, Jumat (24/3).

Adapun, predatory pricing me rupakan upaya penetapan tarif di bawah harga pasar yang dilakukan pelaku usaha, sehingga menyebabkan pelaku usaha lain merugi dan akhirnya tersingkir.

Dia menambahkan Komisi perlu mengetahui struktur biaya yang membebani jasa trans portasi angkutan dalam jaringan (daring) secara terperinci. Tidak menutup kemungkinan operator daring tersebut memang berhasil berlaku efi sien, sehingga tarif yang ditetapkan menjadi lebih murah.

Atau, lanjutnya, memang ter bukti ada tindakan yang se nga ja dilakukan oleh operator ang kutan daring tersebut untuk merebut pangsa pasar ang kutan konvensional yang selama ini beroperasi.

Predatory pricing akan membuat operator transportasi konvensional bangkrut dan kehilangan pengguna.

Direktur Penindakan KPPU Goprera Panggabean mengatakan tim sudah mengundang beberapa operator taksi, Kementerian Perhubungan, dan Kementerian Komunikasi dan Informasi. “Informasinya masih tahap klarifi kasi laporan,” katanya.

Terpisah, Sekretaris Jen deral Organda Ateng Aryono me ngatakan langkah penye lidikan yang dilakukan oleh KPPU berdasarkan fakta yang ada. Sesungguhnya, dia menu tur kan angkutan saling komplementer, tetapi kenyataanya saling head to head, dengan harga yang murah, atas nama pelayanan.

“Contohnya, sekarang taksi di DKI yang beroperasi hanya 50%, dari situ, okupansinya 30%—40%,” jelasnya.

KPPU mulanya menduga bahwa penetapan tarif murah oleh sejumlah operator angkutan daring tersebut merupakan bentuk promosi sementara guna menjaring pangsa pasar. Namun, tarif murah nyatanya masih diberlakukan hingga saat ini.

Sementara itu, pakar per saing an usaha Ningrum Natasya Sirait, meminta KPPU berhati-hati dalam menyelidiki adanya dugaan predatory pricing. Pasalnya, dalam persaingan angkutan konvensional dan daring belum ada industri yang kalah bersaing dan selanjutnya gulung tikar.

Menurutnya, KPPU harus memastikan terlebih dahulu ada nya dampak ekonomi nyata dari dugaan aksi jual rugi yang dilakukan operator online tersebut.

“Dalam konsep persaingan usaha, predatory pricing yang paling sulit di buk tikan. Karena harus ada dam pak ekonomi yang jelas. Dulu, seperti kasus Air Asia yang dituduh demikian, tetapi tidak terbukti karena memang maskapai tersebut bisa lebih efisien,” katanya.

Dalam kompetisi, inovasi untuk mendapatkan posisi men jadi langkah yang perlu dila kukan pelaku usaha. Natasya menilai apa yang dilakukan ope rator daring menjadi salah satu bentuk inovasi.

“Kalau pe me rintah mengatur pajak, badan hukumnya , saya setuju. Akan tetapi, kalau sudah disebut
dugaan predatory, harus tentu dibuktikan.”

 

 

bisnis

Perlihatkan Lebih

57 Komentar

Tinggalkan Balasan

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami