Hukum

Kreditur Minta Daftar Aset Perusahaan

BTN iklan

JAKARTA/Lei — PT Bank CIMB Niaga Tbk. dan sejumlah kreditur lain meminta PT Kembang Delapan Delapan Multifinance segera menyerahkan daftar aset agar diketahui prospek perusahaan yang tengah dalam PKPU tersebut.

PT Kembang Delapan Delapan berada dalam penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sejak 4 Januari atas dasar permohonan sendiri. Total utang debitur kepada para kreditur, yang mayoritas perbankan, mencapai Rp1,5 triliun.

Kuasa hukum Bank CIMB Niaga Duma Hutapea mengatakan debitur harus segera memberi penjelasan mengenai potensi yang bisa ditawarkan kepada kreditur. Pasalnya, utang debitur yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih bernilai besar.

“Kami harus tahu kualitas aset yang dimiliki debitur seperti apa. Jadi kami meminta dua hingga tiga hari sejak rapat perdana, debitur harus mempersiapkan data aset dan piutangnya kepada kami,” katanya dalam rapat kreditur pertama, Senin (23/1).

Pihaknnya baru sebatas mengetahui jika keuangan perusahaan debitur telah minus dan sudah tidak beroperasi.

Senada, PT Bank Bukopin Tbk. mengungkapkan debitur harus berkomitmen meyakinkan kreditur bahwa mereka sanggup membayar utang. Hal itu bisa dilakukan dengan memasukkan daftar investor dalam proposal perdamaian.

Pihaknya juga menanti adanya pembicaraan mengenai aset-aset yang dimiliki debitur. “Kami pihak yang diundang dalam rapat ini, dan kami seharusnya yang diyakinkan secara penuh,” tuturnya.

Kuasa hukum PT Kembang Delapan Delapan Multifinance Verry Sitorus berujar pihaknya menjanjikan akan meyajikan proposal perdamaian yang terbaik kepada para kreditur pada waktu yang tepat. Namun hingga saat ini dia belum dapat membeberkan aset dan utang debitur.

Dia mengklaim, perusahaan juga sedang berupaya mencari investor serta berjanji untuk menjanjikan proposal perdamaian sebelum 13 Februari. “Kami akan mendatangkan investor dan menjual aset pribadi prinsipal. Pastinya dua langkah itu yang akan kami lakukan sejauh ini untuk menutup tagihan,” ungkapnya.

Diakuinya, perusahaan tengah kesulitan finansial, diantaranya karena pendapatan perusahaan defisit akibat kredit macet. Selain itu, perusahaan pembiayaan mobil itu juga diklaim sudah tidak beroperasi sejak pertengahan 2016.

Salah satu pengurus PKPU Andrey Sitanggang mengatakan debitur memang harus mencari investor, karena jika tidak maka proses restrukturisasi utang ini sulit untuk mencapai titik temu.

Berdasarkan neraca keuangan debitur per 31 Desmeber 2016, masih ada selisih yang besar antara aset dan kewajiban kepada para kreditur. Jumlah aset Kembang delapan Delapan Rp866 miliar, yang terdiri atas piutang Rp504 miliar, agunan Rp185 miliar dan piutang lainnya Rp177 miliar.

Sebaliknya, jumlah kewajiban debitur kepada para kreditur mencapai Rp1,5 triliun yang terdiri dari utang kreditur perbankan Rp1,3 triliun dan utang lainnya Rp200 miliar. “Kalau kita lihat secara akutansi, ekuitasnya sudah negatif,”  sebutnya.

KREDITUR BANK

Nama kreditur yang telah di tangan pengurus antar lain PT Bank Muamalat Indonesia Tbk., Bank CIMB Niaga, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT BRI Syariah, PT Bank QNB Indonesia Tbk., PT Bank J Trust Indonesia, PT Bank Syariah Mandiri, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., Bank Bukopin, dan PT Bank Commonwealth.

Kendati begitu, tim pengurus belum memilah apakah mereka masuk kategori kreditur separatis atau konkuren, kendati bank memegang jaminan BPKB konsumen. Pengurus harus mengkaji dokumen yang diserahkan oleh kreditur paling lambat 7 Februari.

“Kami lihat dulu, apakah kreditur memberikan kredit ke konsumen langsung atau ke multifinance. Jadi kita bisa yakin debiturnya sebenarnya konsumen atau multifinance,” katanya.

Pasalnya, bisnis pembiayaan ada yang menganut model joint financing di mana bank memberi sebagian dana ke konsumen dan sebagian ke perusahaan pembiayaan. Model lainnya yaitu sistem working capital di mana bank hanya memberikan pinjaman ke multifinance.

Berdasarkan data OJK 2015, perusahaan mendapat izin usaha pada 2011 dan telah memiliki 15 kantor cabang. Perusahaan dimiliki oleh Chandra Yahya dengan kepemilikan saham 99%, sedangkan sisanya dipegang Fanny Latif (0,99%) dan Ronny Gozal (0,01%).

Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close