Opini

Kritik Yang Harus Membangun

BTN iklan

Oleh : M.  Sunyoto

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (KUBI) edisi ketiga yang disusun W.J.S. Poerwadarminta yang diolah kembali oleh Pusat Bahasa, mengkritik dimaknai sebagai memberi pertimbangan dengan menunjukkan mana-mana yang salah dan sebagainya.

Pada pemaknaan seperti yang diuraikan Poerwadarminta itu, mengkritik jelas punya arti yang positif. Dengan demikian, mengkritik selalu berarti membangun. Sampai di sini, tak ada persoalan dengan kritik.

Undang-Undang tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD (UU MD3) yang selama ini dinilai oleh sebagaian kalangan sebagai bentuk antikritik dari DPR pantas ditilik lebih jauh. Untuk menangkal penilaian antikritik itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo menegaskan legislator tidak pernah anti terhadap kritik dari masyarakat.

Politikus Partai Golongan Karya itu mengatakan, di era keterbukaan ini, semua pihak tidak boleh menutup mata atas kritik yang disampaikan oleh masyarakat, karena itu DPR juga membutuhkan kritik.

Jadi tak ada persoalan dengan kritik. Yang akan menjadi masalah adalah persoalan bagaimana kritik itu dilontarkan atau diekspresikan oleh kritikus, seperti pengamat politik, mahasiswa, atau siapa pun yang melontarkan kritik.

Sayangnya, Bambang dan kebanyakan kalangan pejabat membatasi jenis kritik yang mereka butuhkan, yakni kritik yang membangun atau konstruktif. Inilah pernyataan Bambang: DPR senantiasa memperhatikan aspirasi dan masukan masyarakat, terutama yang sifatnya membangun.

Tampaknya pembatasan kritik yang diembel-embeli dengan kata membangun atau konstruktif itu menunjukkan bahwa kritik yang disampaikan dengan tajam, yang kadang menohok dinilai bukan termasuk kritik yang membangun.

Jika pengamat politik menyampaikan kritiknya lewat artikel di media massa, ruang penyampaian kritik cukup leluasa untuk menguraikan kelemahan, kekurangan, dan menjelaskan solusi dalam mengatasi kelemahan dan kekurangan itu. Di tangan penulis yang santun, semua kosa kata yang disampaikan bisa dipastikan tak akan membuat sakit hati bagi yang terkena sasaran kritik.

Namun, jika penulis itu suka menggunakan gaya sarkasme, meskipun isi artikelnya tentang kelemahan dan kekurangan serta solusi untuk mengatasinya sebagaimana isi kritik yang disampaikan oleh penulis yang santun, penerima kritik akan menyikapinya dengan emosional dan menganggap kritik itu tidak membangun karena bersifat menghina.

Tentu gaya mengkritik setiap pengkritik berbeda. Ada yang punya kemampuan retorika yang sarkastik, ada pula yang eufemistik. Dalam kultur politik yang telah diinstitusionalisasikan Orde Baru selama lebih dari tiga dekade, cara-cara penyampaian kritik yang santun atau eufemistik itulah yang dianggap sebagai cara mengkritik yang membangun.

Oleh sebab itu, tak mudah bagi banyak kalangan untuk menerima kritik dengan kata-kata yang pedas, tajam dalam gaya retorik sarkastik. Di sini pula letak salah kaprah tentang pemaknaan etis (adjektiva dari etika), yang bersengkarut dengan etiketis (adjektiva dari etiket). Artinya, orang yang menyampaikan kritik dengan kata-kata kasar, sejauh kritik itu sesuai dengan fakta dan bukan fitnah, bisa dianggap sebagai kritikus yang etis, namun tidak etiketis atau tidak sesuai dengan tata kesopansantunan.

Dalam kamus susunan Poerwadarminta juga tampak bahwa mengkritik bisa dipadankan dengan mencela dan mengecam. Di sini terkandung makna bahwa mencela atau mengecam bukanlah tindakan yang tak etis, apalagi jika objek yang dicela dan dikecam itu memang layak mendapat celaan dan kecaman.

Ketika Setya Novanto masih menjadi Ketua DPR dan melakukan berbagai manuver naif untuk menghindari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait skandal kartu tanda penduduk (KTP) elektronik, ada pengamat politik yang melontarkan kritik terhadap politikus Partai Golkar itu dengan nada mengecam atau mencela.

Sang pengamat tak dapat dianggap melakukan kritik yang tidak membangun karena gayanya yang mencela itu. Kritik itu dapat dinilai baik atau buruk bukan karena cara penyampaiannya tapi keakuratan atau kesesuaian antara isi kritik dan fakta yang dikritik.

Oleh sebab itu, kritikus yang menyampaikan kritiknya dengan sarkastik, kata-kata yang menohok, sejauh kritiknya faktual, pihak yang dikritik haruslah berterima kasih karena mendapat masukan dari sang kritikus.

Namun, pengkritik bisa saja salah dan kesalahan yang kemudian diakui sebagai kesalahan agaknya perlu dimaafkan. Dalam suasana keterbukaan, pengkritik yang melakukan fitnah terhadap pejabat sesungguhnya sama saja mencoreng muka sendiri.

Tanpa dituntut ke pengadilan pun, pengecam anggota DPR akan mendapatkan hukuman dari publik berupa ketidakpercayaan terhadap pernyataan-pernyataan selanjutnya.

Di Tanah Air, ada pengamat politik yang punya gaya sarkasme dalam melontarkan kritik. Mereka yang bisa digolongkan ke dalam kriteria itu antara lain Arbi Sanit dari Universitas Indonesia dan peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Mochtar Pabottingi.

Dalam jagat kritik-mengkritik, ada pula kritik yang disampaikan lewat poster-poster dalam unjuk rasa. Sang kritikus bisa dari elemen masyarakat mana pun. Mereka ini tak jelas latar belakang pendidikan maupun kadar kepakaran mereka.

Karena bentuk kritiknya ditulis dalam kata-kata ringkas dengan gaya kritik pamflet, mereka tak mungkin memberikan argumen di poster mereka. Publik bisa membaca kritik atau protes mereka lewat orasi pemimpin unjuk rasa, yang biasanya disampaikan dengan lisan menggunakan pelantang. Kadang-kadang mereka juga menyebarkan siaran pers untuk kalangan wartawan.

Dalam era media sosial, kritik, kecaman, celaan kini berbaur dengan fitnah dan ujaran kebencian, yang tak mementingkan lagi fakta-fakta kebenarannya. Setiap saat, muncul banyak pernyataan yang tak jelas bukti-buktinya. Bisa ribuan kritik dan fitnah yang berbaur di media sosial dengan sasaran atau objek kritik atau fitnah yang beragam pula.

Bagi kalangan yang berjiwa demokrat dan memandang fenomena itu sebagai hal wajar di era keterbukaan, kritik bisa dihadapi dengan lapang dada dan fitnah dipandang sebelah mata sebagai sampah belaka. Bagi yang belum bisa berdamai dengan situasi gegap gempita media sosial semacam itu, kecenderungan untuk menertibkan fitnah agaknya bisa dipahami, tapi tak perlu diafirmasi.[antara]

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

4 Comments

  1. I love your blog.. very nice colors & theme.

    Did you create this website yourself or
    did you hire someone to do it for you? Plz answer back as I’m looking to design my own blog and would
    like to know where u got this from. thanks a lot

  2. Hmm it appears like your blog ate my first comment (it was extremely long) so I guess I’ll just
    sum it up what I wrote and say, I’m thoroughly enjoying your
    blog. I too am an aspiring blog blogger but I’m still new to the whole
    thing. Do you have any tips and hints for newbie blog writers?
    I’d genuinely appreciate it.

  3. Comprar Cialis Generico En Murcia Levitra 40 Mg Samples Propecia Prostata Hiperplasia Prostatica Benigna [url=//mpphr.com]Priligy[/url] Productos Para Una Ereccion Mas Larga Cheap Viagra Without Prescription Buy Stromectol From India

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fourteen − eleven =

Baca Lainnya

Close

Adblock Detected

Tolong matikan adblocker anda untuk tetap mendukung kami