HEADLINESNasional

Kuliah Lapangan Bentuk Dukungan Aksi Tenda Petani Kendeng

BTN iklan

Jakarta, 12/11 LEI – Perjuangan petani Kendeng yang mayoritas adalah suku Samin mendapat dukungan dari kaum akademisi. Dr. Satyawan Sunito Direktur Pusat Studi Agraria IPB memberikan kuliah lapangan dengan tema kuliah Keadilan Lingkungan dan Agraria – Masalah dan Tantangannya di Indonesia. Hal ini dilakukuan di depan tenda aksi petani Kendeng yang saat ini sedang melakukan aksi didepan Istana.
Dalam kuliahnya Dr. Setyawan Sunito menjelaskan bahwa ada kesinambungan sistem agraria antara jaman kolonial dan jaman merdeka. Dikalangan akademisi kritis, perkebunan skala besar diasosiasikan dengan sistem ekonomi kolonial. Hubungan yang tidak terpisahkan antara sistem perkebunan besar dengan kolonialisme, membawa beberapa akademisi berpendapat bahwa sistem perkebunan besar tidak dapat hidup bila sistem kolonial runtuh. Rupanya ini asumsi yang terburu-buru dan menganggap enteng kemampuan kelembagaan ekonomi kapitalis kolonial ini beradaptasi dengan kondisi baru. Buktinya, 72 tahun setelah kemerdekaan sistem perkebunanan besar tetap menjadi sokoguru dari perekonomian Indonesia merdeka.
Malah kritik terhadap sistem perkebunan besar saat ini, memancing reaksi marah yang dihias jargon-jargon nasionalisme. Seolah kritik terhadap perkebunan besar adalah pengkhianatan terhadap kepentingan nasional. Padahal posisi Indonesia saat ini boleh dikatakan sebagai tukang kebun pemodal Singapore dan Malaysia (misal proses industrial kelapa sawit yang kebunnya di Indonesia).
Petani sebenarnya adalah pengusaha kecil. Posisinya yang terus menjadi gurem merupakan konsekwensi dari suatu proses yang kompleks. Pertambahan penduduk salah satunya. Namun mungkin lebh penting adalah konsep pembangunan di benak para pejabat negara dan pihak-pihak yang memiliki kuasa penentu kebijakan. Didalam konsep umum yang diyakini ini, petani diposisikan sebagai relik-relik sejarah, yang (lebih baik) cepat daripada lambat akan lenyap dari peredaran. Konsep pembangunan ini juga bertumpu pada keyakinan bahwa sumberdaya harus diserahkan pada pihak yang paling mampu: dalam permdalan, penguasaan teknologi dan manajemen modern, serta penguasaan pasar. Dalam kata lain, korporasi-korporasi besar. Penerapan konsep ini membawa konsekwensi beralihnya sumber daya agraria ke tangan pemodal besar, bersamaan itu marginalisasi menjadi koeli. Kalau dulu koeli dari penjajah, kini koeli dari saudara sendiri.
Konsep pembangunan yang bertumpu pada konsensi sumber daya agraria skala besar pada pemodal besar atau korporasi besar hanya menguntungkan pusat-pusat kekuasaan politik dan ekonomi.

Kata kunci
Perlihatkan Lebih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Close